Iklan
Opini

Pembantaian Buaya Sorong Bukti Manusia Jadi Keji Karena Ogah Belajar Soal Konflik Lahan

Aksi ratusan warga Sorong membantai 292 buaya di penangkaran adalah satu dari sekian aksi keji yang kerap menimpa binatang liar di Indonesia. Padahal perebutan lahan adalah pemicu utamanya, tapi siapa mau peduli? Salahkan aja terus binatangnya.

oleh Adi Renaldi
17 Juli 2018, 9:50am

ilustrasi dan kolase foto oleh Firman Dicho.

Kepada buaya, dan binatang liar lain di negara ini. Maaf bila kalian tidak bisa membaca surat terbuka ini. Toh, manusia yang bisa baca tulis, kemungkinan besar ogah membaca dan memahami isinya.

Setiap kali manusia diserang binatang, publik maupun media di Indonesia cenderung menggambarkannya sebagai "salah" si binatang. Hewan liar, mulai dari buaya, ular, ataupun harimau selalu dijabarkan sebagai makhluk haus darah yang meneror warga yang menggigit, mencakar, meremukkan tulang, dan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun. Ketika timbul korban jiwa dari pihak manusia, maka si binatang tadi patut dibinasakan. Kalau perlu sampai tak bersisa sedikit pun.

Contoh terbarunya adalah kejadian di Sorong, Papua Barat pada 13 Juli lalu. Pembantaian buaya tersebut dipicu oleh tewasnya Sugito yang secara tak sengaja memasuki areal penangkaran buaya saat mencari rumput buat pakan ternak. Korban tak sadar tengah diintai seekor buaya dan menjadi sasaran empuk.

Kontan warga yang sejak lama memprotes keberadaan penangkaran tersebut karena dekat dengan permukiman dan tidak memiliki pengamanan ekstra tersulut amarahnya dan beramai-ramai membantai ratusan buaya tua dan muda secara membabi-buta. Polisi sudah bergerak menyelidiki. Namun hukuman yang menanti tergolong ringan. Maksimal cuma sembilan bulan kurungan.

Sementara Juni lalu, di Sulawesi Tenggara, jasad seorang perempuan malang ditemukan dalam perut seekor ular piton sepanjang tujuh meter. Kabarnya si perempuan hendak berladang di kebunnya ketika si ular tiba-tiba menyerangnya. Warga kemudian beramai-ramai membunuh si ular untuk mengeluarkan tubuh perempuan yang tak bernyawa tersebut.

Ini bukan perkara salah siapa. Hewan buas seperti buaya punya insting predator purba. Ia tidak membedakan jenis mangsa. Ketika merasa lapar atau diliputi rasa takut, buaya akan menerkam apa pun yang berada di dekatnya. Konflik bisa terjadi ketika aktivitas manusia kebetulan berada di habitat buaya. Di Kalimantan dan Sumatera, kegiatan manusia masih banyak terjadi di sungai-sungai yang tentu bakal meningkatkan risiko serangan buaya. Tercatat dari 2000 hingga awal 2018 ada 256 serangan buaya terhadap manusia.

Buaya memang predator agresif. Tapi hanya di musim tertentu buaya bisa menyerang manusia. Menurut Hellen Kurniati, pakar ekologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), musim kawin buaya terjadi pada musim kemarau. Sebelum memasuki musim kawin, buaya jamak mencari mangsa untuk persiapan. Selain itu buaya menjadi lebih agresif sebagai insting untuk mengamankan teritori yang akan dipakai untuk kawin.

"Sebelum dia masuk musim kawin dia persiapkan dulu makanannya," kata Hellen kepada VICE Indonesia. "Yang jadi masalah pergeseran musim sekarang jadi enggak menentu, sehingga sulit diprediksi."

Buaya memang jamak ditemui di seluruh Indonesia. Setidaknya ada empat jenis buaya yang tersebar di Indonesia. Yang paling umum adalah buaya muara yang tinggal di kawasan bakau. Jenis buaya muara inilah yang masih berkeliaran di sekitaran Kali Grogol Jakarta Barat sejak satu bulan lalu—baru satu ekor berhasil tertangkap.

Populasi buaya juga bisa dikatakan di ambang batas aman, malah kadang berkembang pesat. Tapi membantai mereka dengan alasan mengontrol populasi bukanlah hal yang tepat. Maka di situlah fungsi penangkaran sebenarnya. Supaya jumlah buaya bisa dikendalikan.

Tapi sulit dipungkiri kehidupan buaya sudah teramat menyedihkan bahkan ketika di penangkaran. VICE pernah meliput kondisi penangkaran buaya di Cikarang, Jawa Barat yang sangat menyedihkan. Di sana ratusan buaya hidup dalam kandang tak layak dengan menu makanan seadanya. Parahnya justru taman penangkaran tersebut menjual aneka olahan buaya mulai dari daging, telur, kulit, sampai anakan buaya hidup. Jadi itu penangkaran demi konservasi atau one-stop shopping buaya?

Di belahan Indonesia lainnya, tepatnya di Sumatera Selatan, seekor harimau yang dinamakan Bonita wara-wiri di dekat pemukiman membuat warga was-was. Harimau yang telah menerkam dan menewaskan dua warga itu menimbulkan keresahan berkepanjangan karena tak kunjung berhasil ditangkap. Pengejaran atas Bonita berlangsung lebih dari sebulan. Setelah menempuh berbagai cara akhirnya ia tertangkap juga.


Baca artikel VICE lainnya yang membahas tentang konflik manusia dengan hewan

Beruntung Bonita jatuh ke tangan petugas balai konservasi sehingga ia luput dari amukan warga. Bonita, yang cakar dan gigitannya telah menewaskan warga, sebenarnya adalah korban juga. Ia adalah korban alih fungsi lahan yang membuat habitatnya terbabat habis. Bonita dan warga yang tewas diterkam olehnya adalah korban dari masalah industrialisasi hutan yang tak habis-habisnya terjadi di sekujur Sumatra.

Konflik manusia-hewan memang menjadi isu utama dalam konservasi lingkungan. Sementara pembukaan lahan secara masif justru mempersempit habitat mereka. Otomatis, konflik yang terus membawa korban jiwa di pihak binatang maupun manusia bakal semakin sering terjadi. Tapi membinasakan hewan buas bukanlah solusi. Hal yang bisa kita lakukan sesegera mungkin adalah memberikan pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan konflik agar cermat dalam beraktivitas, jika merujuk anjuran Hellen. Pemasangan tanda rawan serangan binatang buas juga bisa menjadi cara efektif agar masyarakat lebih berhati-hati dalam berkegiatan.

Membantai ratusan buaya untuk membalas dendam bukanlah suatu tindakan beradab. Tidak ada alasan yang bisa dijadikan justifikasi.

Maka sebagai bagian dari umat manusia, saya mengucapkan permintaan maaf kepada ratusan buaya di Sorong yang telah mati akibat kekejaman manusia, kemarin dan kapan pun jua.

Tertanda,

Manusia brengsek.