Iklan
Kuliner Kontroversial

Pemerintah Indonesia Bakal Melarang Konsumsi Daging Anjing Demi Turis Asing

Risiko rabies dan turunnya kunjungan wisatawan asing jadi alasan. Tapi bagaimana respons mereka yang menjual daging ini? VICE ngobrol bareng pemilik restoran RW di Jakarta.

oleh Yvette Tanamal
17 Agustus 2018, 6:22am

Sajian daging anjing. Semua foto oleh penulis.

Berhubung punya darah separuh batak, aku sudah terbiasa melihat orang makan daging anjing, terutama ketika ada acara keluarga. Setiap kali kami makan bersama, aku harus tanya tante dulu makanannya terbuat dari daging apa. Bagiku, menjadikan daging anjing sebagai santapan adalah perbuatan keji. Ya, aku memang munafik. Enggak terima anjing dibunuh, tapi masih makan daging lainnya. Namun, tampaknya sebagian besar orang sependapat denganku. Tidak peduli vegan atau bukan, kami tidak setuju kalau anjing dijadikan makanan.

Aku menyepakati agenda organisasi Dog Meat- Free Indonesia, misalnya. Selama bertahun-tahun, mereka tak gentar untuk menyuarakan hak anjing. Mereka ingin perdagangan dan konsumsi daging anjing dihentikan. Perjuangan mereka selama ini rupanya tak sia-sia. Pemerintah baru-baru ini mendukung penegakan aturan yang lebih tegas, berdasarkan kebijakan tingkat kementerian, yang melarang perdagangan daging anjing.

Jangan salah lho, menurut Kementerian Pertanian adanya rumah potong anjing atau jasa penjagalan anjing untuk konsumsi melanggar Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat (1) tentang Pangan.

"Daging anjing tidak termasuk kategori pangan karena anjing tidak termasuk kategori produk peternakan ataupun kehutanan," kata Syamsul Ma'arif, selaku Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian ketika dikonfirmasi kompas.com.

Selain karena masalah penyiksaan anjing dan rabies yang kerap terjadi, pemerintah juga menginginkan Indonesia mendapat reputasi baik dari turis asing dengan pelarangan yang lebih tegas terhadap peredaran daging anjing, seperti dikutip dari Jakarta Post. "Jika kekejaman terhadap binatang terus terjadi, banyak turis mancanegara tidak akan mau datang lagi ke Indonesia. Hal seperti ini tentu merugikan pariwisata," imbuh Ma'arif.

Aku lega mendengar sikap pemerintah, walaupun argumen soal pariwisata ini agak kurang logis. Kalau memang turis asing (aku asumsikan dari negara Barat) membenci negara yang warganya menyajikan kuliner anjing, nyatanya Cina atau Vietnam masih ramai-ramai saja sampai sekarang.

Selain itu, aku langsung kepikiran juga bagaimana nasib orang-orang yang suka makan daging anjing? Bagaimanapun, kuliner Batak atau Manado sudah terbiasa mengolah daging anjing. Artinya, konsumen daging kontroversial ini memang sangat banyak.

Maka aku pergi ke Mall Ambassador membahas rencana peraturan pemerintah tersebut bersama penjual daging anjing. Aku tidak kesulitan mencarinya. Orang-orang di sana tampak biasa saja ketika aku bertanya, “Mau beli RW di mana ya?”


Tonton dokumenter VICE mengenai pesta tahunan makan daging anjing di Kota Yulin yang mengundang kecaman internasional:


Aku segera menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya aku di resto Manado itu, pemiliknya yang bernama Om Rudy menyambutku dengan ramah. Dia bahkan menyuguhkanku rica-rica. Setelah menjelaskan apa alasanku datang ke sini, dia segera menarik kursi ke sebelahku dan mengobrol hidangan daging anjing, RW, yang dia jual. Aku terpaksa makan sedikit RW demi sopan santun.

“Saya itu RW-nya paling enak disini. Bukan kata saya, lho. Kata orang orang bilang ke saya,” katanya bangga.

Aku langsung sadar bahwa ada permintaan tinggi untuk masakan ini. Selain untuk perayaan-perayaan, ada juga orang yang memakannya sebagai kudapan di bar bareng arak, atau untuk alasan kesehatan.

“Pemerintah mengatakan akan melarang penjualan daging anjing,” Aku bilang kepadanya. “Gimana tanggapan anda?”

Om Rudy terdiam sejenak. Aku mengira dia akan geram terhadap larangan ini mengingat dia adalah sosok yang dikenal akan RW yang lezat. Namun responsnya ternyata di luar dugaan.

“Memang RW ini sudah sering dicecar pecinta binatang. Anjing itu beda, karena dia kan teman. Dia setia, seperti kuda. Dekat dengan tuannya. Saya punya lima anjing di rumah. Kalau ayam mah ya nggak terlalu.”

Aku tertawa dengan sindirannya soal ayam, tapi juga terkejut. Ternyata pemakan daging RW juga bisa seorang pecinta anjing?

“Apa Om akan mematuhi larangan tersebut?” tanyaku.

"Sebagai warganegara saya harus menurut,” jawabnya tegas. “Di Manado aja, sekarang udah banyak yang cuma jual anjing lewat orderan, jadi nggak dijual di toko lagi,” tambahnya. "Masalahnya, kalau dilarang itu hukumannya apa? Berat nggak? Kalau hukumannya juga nggak berat ya orang pasti masih mau jual."

Om Rudy benar juga. Permintaan daging anjing semakin meningkat di Indonesia. Banyak tempat baru kini menyediakan masakan daging anjing, seperti di Yogyakarta, Solo, atau Bali. Biarpun Yogyakarta dan Solo kota yang warganya mayoritas Muslim, Om Rudy menjelaskan banyak orang yang KTP-nya Islam mengonsumsi masakan ini untuk alasan kesehatan.

“Dulu saya punya tukang minyak, “ Om Rudy mulai bercerita. “Terus dia tanya sama saya ‘Pak, RW itu apa sih?’ Terus saya bilang ‘Daging anjing.’” Dia buka baju, dari leher sampe paha eczema kering. Gatal gatal. ‘Saya sama Ustaz yang ngeliatin saya disuruh makan RW, biar sembuh,’ katanya. Kata saya ‘Kamu tuh Islam lho’ terus kata dia ‘Iya, tapi kata Ustaz saya enggak apa-apa karena buat obat.’

“Jadi saya kasih dia ya seminggu dua tiga kali. Sebulan kemudian dia udah sembuh. Orang Manado percaya kalau RW itu bagus untuk kulit. Karena dia kan panas, jadi darah juga sirkulasinya makin bagus,” kata Om Rudy. “Tapi bisa jadi itu sugesti saja,” ujarnya sambil mengangkat bahu.

Di Jakarta saja, sekitar 73.000 anjing dibunuh demi konsumsi setiap tahunnya—dan harga dagingnya juga tidak murah. Dengan permintaan setinggi itu, nampaknya kecil kemungkinan penjual akan berhenti apabila hukumannya tidak berat. Sejauh ini, pemerintah belum menjelaskan kapan larangan ini akan dimulai atau konsekuensi dari pelanggaran—jadi para penjual daging anjing ya masih santai-santai saja.

"Yang menampung anjing itu kan jadi sumber nafkah mereka. Terus nanti anjing-anjing liar itu dilepasin, gimana dong? Kita biasanya ambil anjing liar, karena makan mereka lebih alami dibanding anjing peliharaan yang makannya pelet-pelet kecil itu,” ujarnya. ”Terus, kalau ada yang ke saya minta buat obat.. ya tinggal nurani saya aja. Bisakah saya nggak kasih?" tanyanya balik.

Konsep nurani dalam bisnis ini memang agak pelik, jadi saya terus saja makan. Om Rudy pun meneruskan kisahnya.

"Tapi memang ya, anjing itu beda. Saya juga sayang anjing. Saya punya lima anjing, saya enggak akan potong mereka. Mereka setia,” ulangnya, kemudian menunjuk ke tanda larangan dilarang merokok di samping kiosnya.

"Di situ tandanya dilarang merokok, tapi orang tetap saja merokok. Karena hukumannya juga enggak seberapa. Mereka tunggu sampai satpam pergi, baru keluarin rokok. Melarang yang enak-enak itu susah,” ujarnya.

Setuju sih om. Itu memang susah. Kemudian aku termangu lama, dan teringat anjing-anjingku di rumah.

Tagged:
indonesia
Jakarta
Budaya
Berita
mall ambassador
Kuliner Ekstrem
Kementerian Pertanian
Manado
batak
Larangan Rumah potong anjing
Halal Haram
Jangan Makan Anjing
Organisasi Penyayang Binatang
Masakan Batak
Daging RW