Iklan
skater

Skater Perempuan Muda Kamboja Siap Memulai Revolusi Budaya

Fotografer Inggris, Hannah Bailey, menyambangi Kamboja mendokumentasikan kancah skate yang sedang berkembang, dipimpin Skateistan: organisasi non-profit yang mengajarkan perempuan main skate.

oleh Hannah Bailey
08 September 2017, 11:43am

Semua foto oleh Hannah Bailey.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D UK.

Di negara yang setengah populasinya berumur dibawah 15 tahun, lalu rata-rata umurnya hanya 24, Kamboja adalah pusat dari aktivitas media sosial dan kultur jalanan yang menggairahkan anak muda. Sejak pertama kali menyambangi Ibu Kota Phnom Penh awal 2015, saya langsung tertarik melihat betapa aktivitas skateboarding berkembang pesat. Generasi muda di sana semakin mahir menggunakan internet dan YouTube untuk mempelajari hobi-hobi baru. Kultur jalanan global yang memiliki visual keren menarik perhatian generasi muda Kamboja. Kini, skateboard, breakdance, musik indie, dan kesenian kontemporer berkembang pesat di kota ini. Kreativitas pemuda-pemudi Kamboja bisa terlihat dengan jelas di jalanan dan di taman-taman setiap malam.

Salah seorang perempuan bernama Tin menjadi pelopor pergerakan kultural ini bagi perempuan-perempuan muda. Dia adalah seorang Program Officer di Skateistan, sebuah organisasi non-profit yang menyediakan program edukasi skateboard bagi anak-anak setempat. Tin juga adalah skater terbaik Kamboja, seorang pembawa acara radio terkenal, dan sosok panutan bagi generasi muda. Diajadi bukti nyata kreativitas bisa menjadi sebuah karir. Seiring meningkatnya antusiasme warga Kamboja belajar pada hal baru, bisa dipastikan subkultur negara ini sedang menuju ke arah yang menyenangkan.

Mora memandu anak-anak di Skateistan.

Perubahan ini pun belum lama terjadi. Dua tahun lalu belum banyak skater perempuan. Ketika saya kembali ke Kamboja awal tahun ini, saya takjub dengan jumlah skater yang banyak secara umum, dan terutama skater perempuan tentunya. Tin menyebutkan bahwa lebih dari 50 persen murid di Skateistan adalah perempuan, peningkatan sekitar 10 persen. Tin juga dikenal para skater perempuan di publik.

Dari semua generasi baru skater perempuan, satu orang paling menonjol: Mora yang baru berumur 15 tahun. Diperkenalkan ke dunia skate setahun yang lalu, sekarang dia menjadi Youth Leader di Skateistan. Selain seorang skateboarder yang antusias, dia juga penyanyi dan penulis lagu bertalenta. Suatu hari nanti, dia berharap bisa membangun sebuah skatepark yang terhubung dengan sekolah musik, dan menciptakan video skate menggunakan musiknya sendiri, memamerkan ke dunia kultur Kamboja.

Tin mendampingi bocah-bocah menjajal skating.

Sejak bertemu Tin dan Mora, saya terinspirasi menceritakan kisah mereka dan menunjukkan ke dunia apa yang generasi muda Kamboja bisa tawarkan.

Tin

Pas kecil dulu, cita-citamu jadi apa?
Pas masih kecil, saya bermimpi menjadi seorang guru sukarela. Saya tidak memiliki TV, jadi saya mendengarkan radio setiap malam. Ini membuat saya ingin menggunakan suara untuk mengubah dunia. Saya mulai menjadi sukarelawan untuk organisasi non-profit yang bekerja sama dengan Skateistan, yang saat itu memberikan kursus skateboard. Saya pikir, "Wah, keren banget, saya belum pernah liat itu sebelumnya!" Saya penasaran kenapa gak banyak yang ikutan, terutama perempuan. Saya ingin mencoba pengalaman baru, jadi ya udah saya coba ikutan. Ternyata skate bukan hanya buat lelaki, tapi juga perempuan. Saya ingin menunjukkan perempuan lain bahwa kita semua bisa kok!

Menurutmu, kenapa generasi muda semakin tertarik dengan aktivitas macam skating dan breakdancing?
Berkat internet, generasi muda bisa melihat apa yang terjadi di luar dunia mereka. Mereka mulai meniru hal-hal yang mereka lihat online. Mereka ingin jadi keren! Negara kami sangat kecil, tapi kami ingin menunjukkan dunia seperti apa Kamboja itu. Bahwa kami semua bisa melakukan yang orang lain kalukan.

Apa harapanmu buat masa depan?
Dalam dua tahun terakhir, ada peningkatan jumlah perempuan yang datang ke Skateistan—dulu hanya 40%, sekarang 50%, dan kadang bahkan 60%. Tapi saya ingin mencapai angka 100%! Saya ingin membantu perempuan-perempuan dan saya ingin Kamboja membangun skatepark publik, sehingga semua orang bisa ikutan dan bergabung. Untuk saya pribadi, saya ingin bersaing dengan skater di luar Kamboja dan memamerkan dunia apa yang kami bisa lakukan.

MORA

Gimana awalnya kamu bisa kenal skateboarding?
Saya pertama kali dengar tentang skateboarding dari seorang teman yang menjadi sukarelawan di Skateistan. Suatu hari dia mengajak saya skating di salah satu ramp mini Skateistan. Saya belum pernah melihat olahraga macam itu sebelumnya! Kemudian saya bertemu Tin. Pertama kali saya mencoba berdiri di atas papan skate itu susah banget. Tapi seru banget! Dulu saya takut-takut, tapi sekarang udah jauh lebih berani.

Apa peranmu di Skateistan?
Saya menjalankan peran sebagai Youth Leader. Saya bertanggung jawab membantu mengajarkan skateboarding ke anak-anak. Kami mengadakan sesi umum dimana kami mengundang anak-anak setempat untuk ikut main skate bersama.

Seperti apa orang memandang skater muda perempuan di Kamboja?
Ketika orang melihat saya berpakaian seperti ini, [mengenakan] t-shirt gombrong seperti seorang DJ, mereka selalu bertanya apa yang saya lakukan atau saya mau kemana. Ketika saya mengatakan saya akan main skate, mereka bertanya, "Kamu cowok apa cewek?" Buat saya, skating sudah mengubah hidup saya. Kamu beresiko jatuh dan terluka, alasan utama kenapa banyak orang mengira skateboard adalah aktivitas cowok semata; tapi saya ingin mewartakan ke dunia bahwa skateboard tidak eksklusif untuk cowok saja. Perempuan juga bisa, kita semua sama.

Bagaimana kamu akan mengajak lebih banyak perempuan untuk ikut skating?
Semua susah awalnya, tapi dengan banyak berlatih, semua akan bertambah mudah. Saya membiarkan mereka menonton saya untuk tahu bahwa ini bisa dilakukan—kemudian mereka mencoba satu persatu. Awalnya menaruh kaki di atas papan skate dulu. Pesan saya ke mereka semua: jangan takut. Selalu berusaha dalam hidup. Kamu tidak akan pernah tahu bakat kamu dimana, selalu latihan dan pede dengan diri sendiri!

Baca lebih lanjut bagaimana Skateistan telah mendidik dan memberdayakan perempuan-perempuan muda, seperti Mora dan Tin, lewat skateboarding.

Tagged:
i-D Magazine
skating
subkultur
Skateistan
Fotografi
Budaya Pop
nonprofit
Kamboja
Pemberdayaan Perempuan