Sepakbola

Pengalaman Imigran Suriah, Kabur Dari Perang Untuk Jadi Pemain Bola Profesional Inggris

Helal Al Baarini, dari Kota Homs, Suriah, berbagi kisah hidupnya kepada jurnalis VICE Kevin EG Perry. "Ketangguhan fisik penting sekali jika kalian ingin sukses di Inggris."

oleh Kevin EG Perry
15 Desember 2017, 11:52am

Helal Al Baarini di pinggir lapangan. Semua foto oleh Simon Hadley.

Artikel ini adalah bagian dari serial New Neighbours , di mana pengungsi muda dari seluruh Eropa menjadi editor tamu untuk VICE.com. Baca pengantar kami.

Helal al Baarini berusia 21 tahun dan berasal dari Homs, Suriah. Dia mengungsi ke Jordan pada 2012 dan ke Inggris pada 2016.

Saya seorang pengungsi sekaligus pemain sepak bola. Saya bermain untuk klab Bilston Town—sebuah tim di kawasan tempat tinggal saya, di Birmingham. Saya seorang midfielder yang bisa main di sayap atau di belakang striker. Beberapa rekan setim memanggil saya “Coutinho,” karena saya memiliki gaya yang mirip dengan dia—saya bisa mencetak gol tapi seringnya saya fokus menciptakan kesempatan mencetak gol, dan saya sering dapat assist dari orang lain.

Sejak kecil saya bermimpi bermain bola di Inggris, menurut saya Premier League adalah liga terkuat di dunia. Saya mendukung Liverpool namun saya pengin jadi pemain profesional di klab manapun di sana. Saya bakal main untuk klab manapun yang memberi saya kesempatan.

Saya bersama kakak laki-laki saya melarikan diri dari perang di Suriah pada 2012—orang tua kami ingin kami meninggalkan keluarga besar dan menghindari kekerasan dan pertempuran. Pada saat itu, saya bermain untuk SC Al-Karamah, salah satu klab paling top di sana dan tertua di Asia. Saya pertama kali bergabung dengan Al-Karamah saat usia saya 7 tahun, dan bermain bersama tim di bawah usia 17 tahun. Sebelum saya meninggalkan Suriah, saya bahkan disebut pemain terbaik di liga Under-17. Hidup betul-betul manis sebelum perang tiba. Berat meninggalkan itu semua. Tapi toh perang telah merenggut segala hal yang kami cintai. Situasinya sangat berbahaya sehingga kami bahkan tak berani berjalan-jalan.

Saat kami hengkang, usia saya masih 16 tahun sedangkan kakak saya 18 tahun. Kami naik bus ke Amman di Yordania, di sana ada kawan kakak saya. Selama empat tahun tinggal di Amman, kami makan, tidur, dan hidup dalam satu ruangan. Saya dapat pekerjaan, bikin-bikin kopi, dan berupaya sekuat tenaga untuk menabung. Tapi semua hal di Yordania mahal. Kami enggak pernah punya cukup uang, jadi hidup di sana sulit. Setiap hari saya latihan atau pergi ke sasana; karena harus berhemat, saya ke sana dengan berjalan kaki sejauh 12 kilometer.

Selama dua atau tiga bulan saya latihan sendirian, tapi lalu Al-Faisaly SC, salah satu klab di Yordania, mengadakan audisi untuk pemain baru. Setelah sesi latihan pertama dengan mereka, saya diajak gabung. Tapi, saya bilang saya engak bisa balik ke Suriah. Saya bisa gabung hanya jika mereka lagi tanding di Yordania atau Lebanon. Akhirnya, saya sempat dua kali tanding bareng tim nasional Suriah melawan Lebanon.

Meski kami tanding di Lebanon, manajer Al-Karamah menelepon saya dan menawarkan kontrak. Saya, sekali lagi, harus menolak. Saya sudah dikontrak Al-Faisaly di Yordania, tapi itu artinya saya harus kembali ke Suriah. Suatu waktu, saya bergabung pada tim nasional Suriah saat kami mencoba bertanding di Palestina, tapi kami tidak diizinkan masuk akibat paspor Suriah kami. Tim kembali ke Suriah dan saya kembali ke Yordania. Saya main untuk Al-Faisaly selama setahun setengah, lalu untuk Dar Al-Dawa.
Tahun lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa membantu keluarga saya menetap di Inggris. Orang tua saya dan adik perempuan saya mengunjungi kami di Yordania, lalu bersama-sama kami terbang ke Inggris. Ayah adalah seorang montir, tapi sudah tak bekerja sejak terkena serangan jantung baru-baru ini. Ibu saya seorang perawat, tapi dia juga sedang tak bekerja, karena kurang fasih Bahasa Inggris. Saat ini mereka berdua sedang berlatih Bahasa Inggris. Kakak laki-laki saya sedang kuliah Ilmu Komputer di Birmingham City University dan adik perempuan saya, usianya 13 tahun, kembali bersekolah. Saya sedang belajar supaya lolos kualifikasi Bahasa Inggris tingkat 2. Rencananya, saya ingin belajar Pembinaan Olahraga.

Pada awal kepindahan ke Inggris, saya tergabung dalam Continental Star, tapi saya keluar untuk Bilston Town. Beberapa bulan lalu saya berkesempatan ikut uji coba bareng Birmingham City. Pekerja sosial yang mendampingi saya mengundang saya berlatih dengan mereka. Jelas, saya girang bukan main, begitu pula mereka. Tapi mereka tidak menawarkan saya kontrak karena keburu teken dengan pemain lain untuk posisi yang saya incar. Semoga saya dapat kesempatan lain buat main di klab hebat—saya yakin bisa membuktikan kualitas saya, kalau diizinkan.

Meski permainannya sama, bermain sepak bola di Suriah sangat berbeda dari di Inggris. Di Suriah, kalau usiamu di bawah 20 tahun dan pelatihnya senang sama kamu, kamu bakal diteken untuk lima tahun dan mendapatkan sekitar £250 per bulan. Sedangkan Birmingham City adalah dunia yang berbeda. Rumputnya, ruang gantinya, semuanya berbeda. Di Suriah, kami enggak main bola di permukaan rumput alami, melainkan rumput buatan 4G. Saya merasa perlu sedikit lebih gesit dan kuat kalau ingin menjadi pemain profesional di Inggris. Di tempat asal saya, kami enggak punya pemain yang diteken seharga £10 juta atau £25 juta, sebagus apapun keterampilan mereka.

Peraturan kesehatan dan keamanan adalah perbedaan lain antara sepak bola di Timur dan di Barat. Pada suatu kesempatan, dalam sebuah pertandingan di Yordania seorang pemain meninggal dunia. Saya sedang di lapangan saat itu terjadi—kepalanya terbentur dan dia menelan lidahnya, mirip dengan insiden yang dialami Fernando Torres beberapa bulan lalu. Bedanya, saat itu ambulan terlambat tiba dan ternyata lupa membawa tabung oksigen, sehingga pemain itu tidak selamat.

Orang-orang di Inggris sangat ramah dan suportif pada saya dan keluarga saya, yang sangat saya apresiasi—saya punya banyak kawan pemain bola dan pelajar. Pada akhirnya, saya bisa merasa aman. Itulah, mungkin, yang dicari setiap warga Suriah—untuk bisa hidup dengan aman seperti orang-orang di Eropa. Kita hidup di sebuah kawasan Birmingham bernama Handsworth, yang sangat berbeda dari Suriah. Tapi semua orang membantu kami. Saat kami pertama kali tiba di sini, saya enggak bisa berbahasa Inggris. Sekarang sudah bisa dong.

Perang di Suriah menghancurkan segalanya. Perang menghancurkan bangunan, mimpi-mimpi, dan kebahagiaan. Saya masih berharap bisa kembali ke Suriah suatu hari nanti, tapi saya rasa itu masih lama. Meski saya berharap bisa main bola di sana, ambisi saya saat ini adalah menjadi pemain profesional di Inggris. Semoga saya bisa menunjukkan kebolehan saya menggiring bola.

Ikut urun tanda tangan bantu UNHCR mendorong pemerintah menjamin masa depan lebih baik bagi para pengungsi di sini.