Iklan
Terapi Kesehatan Alternatif

Rumah Sakit di Australia Uji Coba Terapi Magic Mushroom Untuk Pasien Sekarat

Pengujian terapi magic mushroom ini bakal berlangsung di Rumah Sakit St. Vincent’s, Kota Melbourne, pada April mendatang. Jamur halusinasi itu ada manfaat medisnya lho

oleh Gavin Butler
18 Januari 2019, 9:05am

Ilustrasi jamur psikedelik via Shutterstock

 

Uji coba medis memanfaatkan magic mushroom dengan tujuan merawat gangguan kecemasan segera digelar. Terapi jamur halusinasi ini diberikan pada pasien yang sedang sekarat di Rumah Sakit St. Vincent di Melbourne, Australia.

Penelitian kontroversial ini akhirnya disetujui komite etika kedokteran setempat. Program ini akan memperbolehkan sejumlah pasien yang mendekati ajal memperoleh satu dosis psilocybin sintetis—zat psikoaktif yang terdapat dalam magic mushroom. Tentu pemberian bahan halusinogen ini tetap dalam pengawasan psikiater, agar pasien dapat berdamai ketika kematian menjemput. Perawatan 30 pasien pertama akan mulai April mendatang, seperti dilaporkan NewsCorp.

Eksperimen-eksperimen serupa pernah dilaksanakan di Amerika Serikat, yang meneliti kemanjuran jamur psikedelik dalam konteks perawatan paliatif dan menghasilkan temuan baik. Dalam sebuah penelitian di Universitas New York University dan Universitas Johns Hopkins, pasien-pasien sekarat diberi satu dosis psilocybin dan menunjukkan penurunan kecemasan, depresi, dan tekanan eksistensial yang signifikan dalam jangka panjang.

Berdasarkan penilaian yang mengikuti penelitian tersebut, 70 persen peserta pengujian peneliti dari kampus NYU menganggap pengalaman mereka dengan magic mushroom secara spiritual paling signifikan dalam hidup mereka. Sementara 87 persen responden melaporkan peningkatan rasa kepuasan secara umum setelah diberi halusinogen.

"Terapi jamur ini merupakan cara baru untuk merawat pasien agar lebih tenang," kata Dr. Stephen Bright, psikolog klinis asal Australia, kepada VICE saat kami membuat investigasi tentang keuntungan terapeutik magic mushroom bagi orang sekarat. "Yang kami lakukan dalam perawatan paliatif pada saat ini adalah meringankan rasa sakit dan penderitaan sebanyak mungkin dengan obat analgesik. Tapi morfin tidak bisa meringankan kecemasan atau depresi."

Bright menjelaskan fungsi jamur psikedelik dalam terapi ini. Zat dalam jamur akan menonaktifkan “jaringan modus default” di otak—yaitu, jaringan saraf yang terkait cara berpikir seseorang. Dengan demikian psilocybin dapat menyediakan “perspektif berbeda tentang situasi mereka sendiri” dan memperbesar pikiran dan ide bawah sadar yang biasanya diabaikan atau disembunyikan.


Tonton dokumenter VICE menyorot seorang dokter di Australia yang aktif menjual alat euthanasia bagi pasien sakit kronis:


Saat diwawancarai NewsCorp, psikolog klinis di St Vincent’s, Dr Margaret Ross, mengatakan hal serupa. "Penelitian efek jamur psikedelik itu di AS sangat mengesankan: ada beberapa peserta yang berhasil melampaui pandangan mereka terhadap kematian. Teknik ini memudarkan cara-cara lama yang menentukan cara kita melihat dunia," katanya. "Dalam penelitian ini terjadi remisi gejala [penderitaan psikologis] para peserta secara cepat dan dramatis, dan itu sangat mengesankan karena efek itu tahan selama enam bulan."

"Terapi macam ini berpotensi membantu banyak orang,” lanjutnya, "tapi masih butuh penelitian lebih luas, dan kami harus memahami mekanisme-mekanisme tepat mengenai cara psilocybin membantu orang dan bagaimana kami bisa mengoptimalkan perawatan."

Beberapa orang tertentu telah mengusulkan bahwa psilocybin paliatif dapat dimanfaatkan orang yang secara aktif meminta eutanasia (mati ringan), demi mencegah perasaan ingin mati. Psikiater Nigel Strauss, yang pernah menerbitkan karya tentang hubungan antara psikoterapi psilocybin dan eutanasia mengapresiasi terapi ini saat diwawancarai VICE. "Mudah-mudahan sejumlah orang akan dirawat dengan psilocybin dan berkata ‘aku bisa melihat apa yang terjadi. Aku merasa jauh lebih baik dan positif, dan meskipun ajal menanti, aku enggak mau menggunakan eutanasia: Aku ingin menggunakan beberapa bulan ke depan untuk berdamai dengan semua hal dan semua orang.’"

:Dengan menjalankan pengalaman psilocybin, mereka dapat melihat kematian dengan cara yang berbeda yang membuat mereka merasa jauh lebih nyaman.”

Kendati ada beberapa keuntungan tersebut, direktur kedokteran paliatif di St Vincent’s, Mark Boughey, menduga akan ada "reaksi negatif karena sebagian orang hanya akan berfokus sama kontroversi magic mushroom."

“Tapi kalau penelitian mengenai hal ini dilihat," katanya, “efek buruknya sangat minimal… [dan] potensinya besar sekali.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia

Tagged:
Australia
psilocybin
penelitian
kesehatan
Sains
Kedokteran
uji coba ilmiah
Jamur Tahi
Jamur Psikedelik
Pasien Kronis