Iklan
Televisi

Ngobrol Bareng Spike Jonze, Membahas Proses Kelahiran Saluran TV VICE

Sutradara legendaris itu menjadi otak di balik program-program unggulan VICELAND. Channel TV menyasar anak muda ini sekarang hadir di Indonesia.

oleh VICE Staff
05 Mei 2018, 6:37pm

Foto dari arsip internal VICE.

Mari mundur sejenak ke tahun 2016, ketika dunia masih gitu-gitu saja. Sebelum ada saluran televisi 24 jam bernama VICELAND dengan serial-serial orisinal, seru, serta menguji batas apa yang bisa dan boleh ditayangkan di layar kaca. Yup, kita sedang membicarakan saluran televisi yang menghasilkan acara macam Huang's World, King of the Road, dan Ball's Deep.

Dua tahun setelah kelahirannya, VICELAND disiarkan di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia, giliran Indonesia ikut menikmati tayangan-tayangan tersebut berkat kerja sama VICE dan JawaPosTV. Kapan dan gimana cara nontonnya? Masih ingat TV bung dan nona? hhe. Silakan nyalakan lagi TV yang terlalu lama menganggur itu untuk menonton saluran paling keren di Tanah Air saat ini. VICELAND akan tayang tiap pukul 22.00 WIB, panduan acaranya bisa dibaca di sini. Atau, kalau kalian anaknya edgy banget dan mau nonton TV terestrial pakai kuota internet, bisa juga sih streaming di sini.

Intinya VICELAND kata orang-orang sih keren. Tapi gimana dulu tim di markas besar VICE merancang konsepnya ya? Sosok paling pantas untuk menjabarkannya pada pembaca sekalian tentu saja Spike Jonze. Sutradara legendaris itu menjabat sebagai co-president VICELAND. Jonze dan tim butuh beberapa tahun mengembangkan formula tayangan TV yang berbeda dari pasar mainstream. Andy Capper, jurnalis VICE, kami minta mewawancarai Jonze untuk membahas proses kreatif saat pertama kali mengonsep tayangan VICELAND, bagaimana mengukur kesuksesan sebuah saluran televisi, serta apa saja harapan Jonze terhadap VICELAND di masa mendatang.

VICE: Halo. Kamu tuh pernah bekerja di industri pertelevisian sebelumnya?
Spike Jonze: Waduh, sama sekali enggak. Aku mengerjakan konsep dasar VICELAND kurang lebih setahunlah. Aku mulai dari nol, belajar dasar-dasar ilmu televisi. Baru setelah setahun konsepnya cukup matang, mulai deh aku dan tim merekrut sebagian karyawan yang punya pengalaman kerja di TV lain. Tapi sebagian besar tim di VICELAND juga baru kok. Kami sama-sama belajar dan selalu mencoba hal baru.

Artinya kamu belajar otodidak soal dunia televisi dong?
Lho, VICE kan memang perusahaan yang semangatnya DIY. Sejak awal kami merancang televisi dengan pola pikir kayak gitu. Aku bersyukur sih, karena diberi kesempatan sedemikian besar. Jarang menurutku, di industri manapun, tim kreatif memiliki kontrol lebih besar dalam urusan produksi maupun distribusi konten.

Karena alasan itukah kamu mau mengambil pekerjaan ini? Kamu ingin mengubah sistem pertelevisian?
Ah enggak juga. Tujuanku dan tim bukan mengubah sistem. Maksud pernyataanku sebelumnya, kesempatan dan kebebasan kreatif yang diberikan VICE sangat besar. Gila lho. Kami punya saluran TV beneran dan kami diizinkan bikin acara apapun yang kami mau. Bikin acara mengangkat topik-topik yang betulan kami peduli. Pondasi kreatif macam itu yang menjadi prinsip di VICELAND. Karena itulah kami benar-benar bangga dengan tayangan-tayangan perdana di saluran ini. Lebih dari itu, aku pribadi merasa gembira membayangkan apa yang bisa kami hasilkan di masa mendatang, katakanlah dua atau tiga tahun lagi, dengan suasana kerja seperti ini.

Seperti apa sih karakter acara yang ditayangkan di VICELAND menurutmu pribadi?
Sejak awal, ketika VICELAND masih berupa konsep, saya dan tim di markas besar VICE ngobrol panjang lebar, berulang kali, soal apa yang belum ada dan sebaiknya kita lakukan kalau punya saluran TV. Beberapa pertanyaan kuncinya adalah topik apa yang mau diangkat, seperti apa kemasan atau gaya penyampaiannya, lantas kita harus menggarap proyek ini sama talent atau sosok mana saja. Rasa ingin tahu dan kesukaan personal benar-benar mewarnai sesi rapat-rapat awal dulu. Enggak jauh beda sih seingatku, dengan proses perancangan seri video online VICE 10 tahun lalu. Semua dimulai dari kaminya sendiri dulu, pengin ngapain sebetulnya. Aspek lain dipikir belakangan.

Pembahasan konsep ini penting, karena saya dan tim VICE ingin persoalan identitas kelar dari awal. Kami ingin saluran televisi ini ada karena mengusung tujuan dan agenda yang jelas. Kami tidak menggarap tayangan berbasis riset pasar. Kami tidak melakukan focus group discussion dibantu perusahaan konsultan. Semua serial, dokumenter, atay variety show di VICELAND muncul karena menarik bagi tim kami. Itu saja ukurannya. Buat kami menarik atau tidak. Penting atau tidak.

VICELAND tidak mirip TV Biasa, channel ini lebih tepat disebut laboratorium eksperimen konten.

Jadi strategi bisnisnya bukan menggandeng nama-nama tenar di Hollywood untuk muncul di TV ini ya?
Betul. Kalaupun VICELAND menyewa jasa sutradara atau aktor besar Hollywood jadi pemandu acara, mereka pun harus punya agenda yang selaras dengan TV ini. Contohnya kerja sama kami bersama sutradara Lance Bangs. Serial FLOPHOUSE didasarkan pada kisah hidupnya. Kami mencari sosok-sosok yang menarik di mata Bangs, lalu merekam interaksi atau wawancara bersama narasumber di lokasi unik, macam garasi atau basement rumah mereka. Semua talent yang kami rekrut untuk memperkuat produksi TV ini dipilih berdasarkan visi personal masing-masing. Setelah mereka paham apa saja DNA VICELAND, tiap talent akan menyesuaikannya dengan karakter pribadinya.

Bagaimana caramu mengukur kesukesan VICELAND?
Buatku pribadi, saluran ini sudah sukses bila tim dari VICE berhasil menciptakan pengalaman mengasyikkan bagi penonton televisi. Kami ingin merealisasikan ide-ide yang sebelumnya tak pernah disentuh industri ini. Aku membangun karir lebih dari 20 tahun di bidang produksi film dan video musik, serta merekam komunitas skater. Di dunia perfilman atau produksi iklan, proses kreatif selesai persis ketika hasil akhirnya keluar. Sementara TV adalah hal yang sepenuhnya berbeda. Proses kreatifnya berjalan tiap hari, tak akan berakhir, persis setelah kami mengudara. Jadi, bisa merasakan pengalaman tersebut sudah merupakan keuntungan lain.

Semua awak VICELAND bermain-main sambil terus mencoba hal baru.

Tapi tetap lah, reaksi penonton dan rating tetap mempengaruhi kesuksesan VICELAND?
VICELAND tidak mirip TV Biasa, channel ini lebih tepat disebut laboratorium eksperimen konten. Kami berusaha bereksperimen tentang cara menghasilkan gagasan segar setiap hari dalam ritme konstan. Makanya, pembawa acara yang kami rekrut untuk acara-acara perdana juga wajah-wajah yang tak pernah berurusan dengan televisi sebelumnya. Kami berkolaborasi bareng Zach Goldbaum, Ellen Page, Ian Daniel, Thomas Morton, Action Bronson, Eddie Huang, serta Krishna Andavolu. Saya gembira banget sih mereka semua mau gabung dan kerja bareng. Nama-nama itu semuanya, termasuk saya, adalah wajah baru di pertelevisian. Kami ingin konsekuen menghadirkan nuansa yang berbeda.

Makanya, kalau bicara rating, standarnya adalah penonton bisa memahami kalau acara-acara VICELAND cuma bakal bisa ada atau dieksekusi di saluran ini. Target kami saat ini terus melakukan eksperimen, mencari tahu gaya tutur dan ide apa yang ingin diangkat selanjutnya. Tapi, memang ada benang merahnya. Sebagian besar konten di TV-nya VICE ini adalah dokumenter immersif, artinya, dokumenter yang mengajak penonton seakan-akan terlibat dalam narasi tiap episode. Karakter utamanya seperti itu. Tapi format lain juga kita jajal kok. Jangan khawatir. Saya gembira karena perusahan ini terus berkembang dan mendorong kami semua untuk berani mempelajari format cerita baru. Intinya, yang kalian saksikan di VICELAND saat ini hanya awal. Semua ini baru permulaan.