Jan Koum

Cekcok Soal Isu Privasi Data, Pendiri WhatsApp Hengkang dari Facebook

Jan Koum diduga mengundurkan diri karena berselisih pendapat dengan pihak Facebook. Apakah ini pertanda WhatsApp mulai slebor dalam mengelola data privat?

oleh Sophie Kleeman
02 Mei 2018, 4:14am

Foto: Getty Images

Pendiri dan CEO WhatsApp, Jan Koum, mengumumkan pengunduran dirinya dari Facebook pada Senin lalu. Ia telah bekerja di bawah perusahaan milik Mark Zuckerberg selama empat tahun setelah WhatsApp diakuisisi oleh Facebook dengan harga US$19 miliar (sekitar Rp265 triliun).

Keputusannya untuk hengkang pertama kali dilaporkan oleh surat kabar The Washington Post dan kemudian dikonfirmasi lewat postingan Facebooknya. Dilansir dari Post, pengunduran dirinya disebabkan oleh percekcokan soal “Facebook yang berupaya menggunakan data pribadi pengguna WhatsApp dengan melemahkan keamanannya”. Selain turun dari posisi CEO, Koum juga tidak akan ikut serta dalam pemilihan dewan direksi Facebook.

Ini bukan keputusan mendadak. The Post mengutip perselisihan antara WhatsApp dan Facebook: tidak sepakat memasang iklan; tidak menyetujui pengikutsertaan WhatsApp ke dalam jaringan penyedia data Facebook, termasuk Instagram; dan kecurigaan bahwa Facebook akan melakukan pengubahan yang bisa melemahkan keamanan WhatsApp. (Aplikasi ini mulai memberlakukan enkripsi end-to-end pada 2016.)

Akan tetapi, postingan Koum tidak menjelaskan secara spesifik mengapa dia memutuskan mundur. “Sudah saatnya saya meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang saya cintai selain teknologi, misalnya mengoleksi mobil Porsche air-cooled langka, mengotak-atik mobil dan bermain frisbee.”

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, turut berkomentar di postingan Koum. “Saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini, termasuk mengajarkan saya soal enkripsi dan mengambil data dari sistem terpusat ke pengguna,” tulisnya.

Meskipun sumber-sumber Post menyatakan bahwa keputusan Koum sudah ada sebelum insiden Cambridge Analytica, kita perlu mempertimbangkan waktunya yang sangat tepat. Para petinggi Facebook pada umumnya mati-matian membela perusahaan mereka melewati masa-masa kelam, tetapi pengunduran diri Koum menunjukkan perlawanannya terhadap Facebook.

Selain Koum, Brian Acton, rekannya dalam mendirikan WhatsApp, juga telah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap skandal penyalahgunaan Facebook. Sejak angkat kaki dari perusahaan pada November lalu, Acton menyarankan pengguna untuk menghapus akun Facebooknya dan menyumbang US$50 juta (sekitar Rp698 miliar) ke perusahaan kompetitor Signal. Pada Maret 2018, Alex Stamos, Chief Security Officer Facebook, dirumorkan keluar dari perusahaan, meskipun sebenarnya dia berganti jabatan.

Memang mudah bagi mereka untuk mengambil sikap setelah mendapat bayaran. Koum mungkin memang akan rugi sebesar US$1 miliar (sekitar Rp13 triliun) jika dia mengundurkan diri sebelum sahamnya penuh, tapi apa efeknya bagi pria yang jumlah kekayaannya mencapai US$10,4 miliar (Rp145 triliun)?

Facebook masih menolak berkomentar sampai saat ini, tapi kami akan segera memperbarui artikel setelah menerima tanggapan dari mereka.