Kalau Kamu Cowok, Bersikap Mirip Psikopat Membuatmu Berpeluang Lebih Besar Jadi Bos

Sayangnya, akibat patriarki, cowok dan cewek dipersepsikan berbeda ketika menampilkan sikap agresif di kantor. Plus, bukan berarti dengan jadi psikopat kalian bos yang efektif lho.

|
29 Oktober 2018, 6:36am

Foto ilustrasi oleh Maria Nicolaou/Getty Images

Bayangkan kelakuan seorang psikopat: dominan, impulsif, tak punya banyak empati. Untuk sebagian banyak orang, ciri-ciri tersebut jelas bukan gambaran bos yang ideal. Namun sedikit banyak, psikopat yang kejam sebenarnya merupakan model bos ideal. Bahkan sekalipun si bos punya sifat impulsif yang kebangetan, justru itu bisa jadi 'positif' buat citra perusahaan. Lihat aja kelakuan Elon Musk.

Siapapun yang pernah frustasi melihat kelakuan petinggi perusahaan pasti bisa membayangkan orang macam itu mirip Patrick Bateman dari film American Psycho. Omong-omong, walau sudah banyak penelitian membahas psikopat, tapi ternyata gangguan mental macam itu di dunia kerja tak banyak disinggung psikolog ataupun psikiater.

Nah, penelitian baru di Journal of Applied Psychology menggunakan data dari 92 percobaan independen demi menguji apakah bos psikopat bisa mengganggu kerja tim. Temuan penelitian tersebut menyimpulkan orang dengan ciri-ciri psikopat lebih cenderung sukses menjadi bos. Oh iya, kesimpulan bukan mau bilang kalau posisi-posisi manajerial otomatis diduduki seorang psikopat lho, jangan khawatir berlebihan.

Temuan tersebut berdasarkan analisa 92 percobaan independen dari penelitian sebelumnya. Meskipun penelitian ini menunjukkan bahwa psikopat tidak menguasai tempat kerja, ternyata ciri-ciri psikopat dilapisi standar ganda bias gender. Menurut data yang dianalisa, para peneliti menemukan bahwa ciri-ciri psikopat yang dihargai pada laki-laki—agresivitas, kesediaan untuk menegaskan dominasi—dapat membantu mereka menjadi pemimpin dan terlihat efektif. Sebaliknya ketika ciri-ciri yang sama dimiliki perempuan, responden menganggapnya negatif. Cowok doang yang dipersepsikan boleh jadi psikopat di lingkungan kerja.

"Adanya standar ganda soal cara orang jadi pemimpin tentunya mengecewakan," ujar Karen Landay, mahasiswa S3 dan penulis utama penelitian ini di Universitas Alabama. "Saya rasa perempuan yang mengejar posisi kepemimpinan disuruh meniru pemimpin laki-laki sukses yang memiliki ciri-ciri psikopat. Tetapi pemimpin perempuan tersebut nantinya sadar bahwa hasil perilaku mereka tidak sepositif laki-laki, walaupun mereka memiliki ciri-ciri yang sama."

Perempuan yang pernah dianggap "bawel", sedangkan setara laki-lakinya dianggap "tegas" pasti sudah tahu rasanya—penelitian ini juga mengesahkan pengalaman hari-hari banyak perempuan. Selain memprovokasi jawaban "Ya iya lah," penelitian-penelitian seperti ini setidaknya membuktikan ada masalah laten di dunia kerja.

Selain mengonfirmasi bias gender, penelitian ini sekaligus mengklaim sebetulnya para psikopat tadi tidak menguntungkan bagi perusahaan. Walaupun ciri-ciri psikopat bisa berguna bagi pejabat-pejabat tinggi dalam sebuah perusahaan, pemimpin yang efektif tidak memiliki ciri-ciri tersebut.

Pada umumnya, tidak ada korelasi positif atau negatif antara penghasilan sebuah perusahaan dan adanya ciri-ciri psikopat dalam pemimpin. "Sebab mereka akan tetap dibenci ajudannya," kata Peter Harms, profesor manajemen di Universitas Alabama. "Jadi kita bisa berasumsi bahwa mereka memang bersikap kejam, dan ancaman-ancaman yang mereka gunakan untuk memotivasi karyawan tidak akan berhasil."

Para psikopat tidak berinteraksi dengan orang lain dengan baik. Plus, kurangnya moralitas dan empati tidak pernah dianggap sebagai ciri-ciri pemimpin yang baik dari studi psikologi—lepas dia adalah laki-laki maupun perempuan.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic