Iklan
Moderasi konten

Sebulan Lebih Usai Tragedi Christchurch, Video Serangan Teroris Masih Tersebar di Facebook

Masih banyak video di Facebook dan Instagram mempertontonkan cuplikan aksi teror Selandia Baru. Tim moderator dan teknologi gagal membendung berbagai versi video bermunculan.

oleh Joseph Cox
22 April 2019, 9:17am

Polisi Selandia Baru berjaga dekat masjid yang jadi korban serangan teroris bulan lalu. Foto oleh Shutterstock

Berjarak 36 hari setelah teroris di Christchurch, Selandia Baru, menyiarkan serangannya di Facebook, jejaring sosial terbesar di dunia ini masih menyimpan salinan video penembakan massal di platformnya serta Instagram.

Beberapa video yang tersedia di Facebook berupa potongan klip dari video aslinya yang berdurasi 17 menit. Bukannya menghapus video yang menampilkan penembakan teroris dan pembunuhan warga sipil dari sudut pandang orang pertama, Facebook malah menandai klipnya sebagai konten "yang berpotensi mengandung kekerasan."

Pengguna Facebook mana pun bisa menonton video yang ditandai tersebut, asalkan mereka mengonfirmasi bersedia menyaksikan rekamannya.

Ini bukan pertama kalinya media ramai menyoroti kegagalan Facebook dalam menghapus salah satu propaganda teroris supremasi kulit putih paling terkenal dari platformnya. Video siaran langsung ini bahkan berasal dari Facebook.

“Facebook perlu mempertimbangkan kembali keefektifan kinerja moderator AI [kecerdasan buatan] dan manusia mereka, mengingat video-video mengerikan dari sebulan lalu masih tersedia di Facebook dan Instagram,” tulis Eric Feinberg, pendiri Global Intellectual Property Enforcement Center (GIPEC), perusahaan keamanan siber yang memberi tahu Motherboard soal video tersebut, dalam sebuah surel.

Ada banyak versi dari video asli serangan masjid Christchurch yang tersebar di Facebook. Salah satu contohnya adalah rekaman layar dari video yang sedang dimainkan di profil Facebook sang pelaku teror sebelum dihapus. Selain itu, ada juga video yang direkam dari seseorang yang sedang menonton siaran langsungnya di Twitter.

Rekaman-rekaman seperti ini menghadirkan masalah bagi platform tersebut. Pihak Facebook mengatakan kepada Motherboard bahwa banyaknya versi video yang diunggah ke situs mereka membuat tim moderator harus menggunakan teknologi audio untuk mendeteksi klip serangan. Tak hanya itu, pengguna biasanya akan menambahkan sesuatu ke video serangan, seperti border hitam, sebelum diunggah kembali ke Facebook.

Akibatnya, video tersebut lolos dari sistem deteksi milik raksasa teknologi itu. Apabila berhasil terdeteksi, setiap variasi videonya akan dihapus dan ditambahkan ke dalam daftar konten yang akan diblokir secara otomatis. Facebook juga menjelaskan bahwa mereka mengandalkan teknologi dan riset dalam mengidentifikasi video berdurasi pendek yang sudah disunting.

Salah satu rekamannya menampilkan sang teroris yang sedang memasuki masjid pertama dan melepaskan tembakan. Video ini berhenti pada menit 01:15, dan tidak menayangkan serangannya secara menyeluruh. Meskipun begitu, rekamannya tetap mempertontonkan beberapa warga yang terbunuh. Klip-klip lainnya di Facebook dan Instagram menayangkan bagian serupa.

"Video ini secara otomatis ditutup peringatan agar kalian bisa memutuskan sendiri ingin menonton atau tidak," demikian keterangan yang kami kutip dari video. Guy Rosen selaku Wakil Manajemen Produk Facebook menulis dalam sebuah postingan yang diunggah setelah serangan bahwa sistem deteksi otomatis Facebook gagal mengenali video aslinya.

Berbagai versi videonya telah tersebar sejak serangan masih berlangsung, di mana isi komentarnya sudah ada sejak empat minggu lalu.

Motherboard mengirim tautan salah satu videonya ke Facebook sebagai tambahan untuk ditanggapi, dan mereka menghapus video sensitif tersebut.

"Video itu melanggar kebijakan kami dan telah dihapus. Kami menetapkan kedua penembakannya sebagai serangan teror. Itu berarti siapa pun yang memuji atau mendukung peristiwa tersebut telah melanggar Standar Komunitas kami. Facebook juga menentang keras hal-hal ini," kata juru bicara Facebook saat dikonfirmasi Motherboard lewat email.

Anehnya, semua klip yang ditemukan Feinberg berasal dari laman Facebook berbahasa Arab.

Perlu diingat, baik siaran langsung yang asli maupun video editannya melanggar kebijakan Facebook. Mereka telah menghapus livestreamnya setelah kepolisian Selandia Baru melaporkan video tersebut saat serangannya dimulai. Seorang pengguna Facebook juga melaporkan siaran langsung tersebut 29 menit kemudian.

Pekan ini, Motherboard menunjukkan sistem pengenalan gambar yang bisa mendeteksi senjata dalam rekaman Christchurch. Sistem ini seharusnya dapat digunakan untuk mengirimkan siaran serupa kepada moderator Facebook untuk ditinjau. Namun, efektivitas proses dalam pelaksanaannya masih belum jelas.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard