Iklan
Facebook

Jumlah Akun Facebook Pemiliknya Meninggal 50 Tahun Lagi Diprediksi Melampaui yang Masih Hidup

Penelitian anyar ini menyarankan agar manusia mulai berpikir serius tentang cara menangani warisan data digital.

oleh Samantha Cole
30 April 2019, 9:30am

Sumber foto untuk kolase via Shutterstock

Dalam 50 tahun mendatang, jumlah akun di Facebook yang pemiliknya meninggal berpotensi melebihi jumlah pengguna yang masih hidup, menurut penelitian terbaru.

Jika Facebook terus bertumbuh seperti sekarang, lebih dari satu miliar pengguna akan meninggal sebelum Tahun 2100. Artinya, kondisi tersebut mengubah Facebook menjadi kuburan massal dan arsip sejarah sebuah generasi. Laporan tersebut terbit minggu lalu di jurnal Big Data & Society .

Sebelum sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti University of Oxford melakukan sejumlah eksperimen seputar pertumbuhan pengguna Facebook. Berdasarkan dta dari fitur Audience Insights Facebook, serta statistik Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengenai angka kematian setiap negara, peneliti mempertimbangkan dua skenario. Yang pertama memakai asumsi tidak ada pengguna baru yang membuat akun Facebook sejak2018–karena data yang dikumpulkan berakhir pada tahun ini, sementra skenario kedua pengguna Facebook akan terus tumbuh per tahun sebesar 13 persen.

Jika pertumbuhan jumlah pengguna Facebook terus berlanjut seperti sekarang, artinya populasi orang mati di Facebook akan menjadi 4,9 miliar pada 2100, menurut hitungan peneliti. Hingga Maret 2019, Facebook mempunyai 1,56 miliar pengguna harian aktif.

"Statistik ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang mempunyai hak atas data pribadi orang-orang yang sudah meninggal tersebut, bagaimana datanya harus diolah demi kepentingan keluarga dan teman-teman mendiang, serta bagaimana cara agar data tersebut bisa diakses sejarawan untuk memahami masa lalu," kata Carl Öhman, anggota tim penelitian ini serta kandidat doktor di Oxford Internet Institute, lewat pernyataan tertulis. Dia menyebut peninggalan digital di Facebook adalah "bagian dari warisan digital umat manusia."

Cara manajemen Facebook mengelola akun pengguna yang sudah meninggal baru-baru ini disoroti. Maret 2019, Facebook mengumumkan revisi layanan pengguna, untuk menambahkan "bagian penghormatan" untuk akun pengguna yang sudah meninggal. Awal bulan ini, Facebook mengumumkan penambahan kontrol fitur kontak ahli waris, semacam proses pengisian formulir warisan data digital seseorang kepada teman atau anggota keluarga. Kalau kamu meninggal dan sudah mengisi kontak ke database Facebook, orang tersebut bisa mengendalikan akunmu dan membuat keputusan untuk mengunci atau menghapusnya sekalian.

"Lebih dari 30 juta pengguna membuka profil peringatan setiap bulan buat memposting story, memperingati kejadian penting, dan mengingat orang yang telah meninggal," kata Sheryl Sandberg Direktur Operasional Facebook, lewat postingan blog mengenai fitur-fitur tersebut.

Kendati banyak pengguna mengakses layanan kontak ahli waris, Facebook ternyata masih belum punya solusi menangani pewarisan akun yang pemiliknya sudah meninggal. Saat diwawancarai Majalah Wired, Sheryl agak bingung ketika ditanya apa yang akan terjadi jika dua orang sama-sama dipasangkan sebagai ahli waris satu sama lain, dan meninggal pada waktu bersamaan. Misalnya, suami-istri yang jadi korban kecelakaan mobil. "Skenario itu menarik sekali, mungkin harus ada dua [kontak]," kata Sandberg.

Facebook harus membahas isu akun yang pemiliknya meninggal, mengingat demografi penggunanya menjadi menua. Lembaga riset eMarketer memperkirakan orang di rentang usia 55-64 tahun, serta mereka yang berusia di atas 65 tahun, "mencakup pengguna Facebook yang pertumbuhannya paling cepat di banyak negara."

Selain itu, maraknya pengguna berusia tua mendorong peredaran “berita palsu” yang kini jadi fenomena yang identik dengan Facebook. Awal tahun ini peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar hoax dan berita palsu disebar akun FB yang pemiliknya lansia.

Cara Facebook menangani kematian penggunanya, dan bagaimana arsiparis, sejarawan, dan ahli etika teknologi memutuskan cara melestarikan sejarah digital kolektif dari media sosial akan terus jadi perdebatan. Penelitian dari Oxford ini belum memberi jawaban pasti, karena tarafnya baru sebatas mengurai bermacam cara kita menangani warisan digital di internet.

Tentunya, eksperimen ini membayangkan Facebook masih bisa bertahan dalam 50 tahun ke depan. Kalau pun benar begitu, bisa jadi fungsi FB di masa mendatang hanya sebagai kuburan digital.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard