Iklan
Eksperimen Obat Baru

Ilmuwan Coba Gunakan Magic Mushroom Untuk Membangkitkan Pasien dari Keadaan Koma

Diduga jamur tahi memiliki potensi membangkitkan kesadaran mereka yang otaknya sudah tidak responsif.

oleh Shayla Love
20 Oktober 2019, 11:21am

Foto ilustrasi dari Hispanolistic dan juriskraulis / Getty Images 

Pada 2006, ahli saraf Adrian Owen dan koleganya menjelaskan apa yang terjadi ketika seorang perempuan dalam keadaan ‘koma’ diminta membayangkan seperti apa rasanya bermain tenis. Otaknya menunjukkan pola aktivitas yang hampir sama dengan otak orang sehat. “Otaknya tetap berfungsi kok,” tulis Owen dalam bukunya, Into the Gray Zone: A Neuroscientist Explores the Border Between Life and Death. “Dia merespons kami, dan melakukan semua yang kami minta.”

Semenjak akhir 1990an, Owen telah meneliti tanda-tanda kesadaran pada manusia yang disangka berada dalam keadaan ‘koma’. Pasien-pasiennya mengidap gangguan kesadaran (DoC), yang muncul akibat cedera otak traumatis, atau insiden lain yang menghambat saluran oksigen ke otak. DoC berbeda dengan koma. Seseorang yang mengidap DoC terbangun tapi tidak sadar diri. Matanya mungkin terbuka, dan kadang mereka bergerak, tapi kehadiran mereka terasa setengah-setengah.

Owen dan ilmuwan lainnya telah menyimpulkan 15 hingga 17 persen pasien DoC dapat memproduksi respons otak seperti si perempuan yang membayangkan bermain tenis. Saat ini, ada upaya untuk menciptakan panduan diagnosa DoC yang lebih baik, tapi ada isu yang lebih besar: Kalaupun dokter bisa mendiagnosa keadaan seperti ini dengan lebih baik, kita masih kekurangan metode perawatan yang baik untuk para pasien.

Sebuah makalah yang diterbitkan minggu lalu di Jurnal The Neuroscience of Consciousness meneliti kemungkinan menarik: dengan memberi pasien DoC psilosibin, bahan yang terkandung dalam magic mushroom, ilmuwan ingin melihat apakah kesadaran mereka bisa dibangkitkan.

Andrew Peterson, seorang asisten profesor dari Institute for Philosophy and Public Policy dari George Mason University, mengaku reaksi awal beliau terhadap proposal ini adalah “Kamu lagi mabuk ya?”. Tapi beberapa saat kemudian dia merasa opsi ini layak diteliti lebih jauh.

Dalam sebuah penelitian baru, Peterson dan rekannya, ahli saraf Enzo Tagliazucchi, mengaplikasikan sebuah model etis yang disebut Value-Validity Framework terhadap ide tersebut—cara untuk meneliti apabila hasil sebuah uji coba melampaui beban yang diberikan ke pasien. Penelitian tersebut bukanlah sebuah dukungan ataupun bantahan terhadap konsep tersebut, ujarnya. Justru, Peterson berharap penelitiannya bisa menjadi peta bagi siapapun yang ingin melakukan penelitian seputar kesadaran manusia.

Memberikan psilosibin kepada pasien DoC didasarkan atas teori tentang kesadaran dan kompleksitas otak. Kompleksitas otak adalah tingkat di mana berbagai area yang berbeda di otak saling berkomunikasi, dan tingkat kesadaran yang rendah diasosiasikan dengan tingkat kompleksitas otak yang rendah juga.

Substansi psikedelik nampaknya meningkatkan level kompleksitas otak melebihi batas normal, ujar Gregory Scott, seorang ahli saraf dari Imperial College London yang juga seorang penulis makalah. Ada beberapa contoh dari sebuah hubungan antara kompleksitas otak dan kesadaran, dan bukti bahwa tingkat kompleksitas otak meningkat ketika seorang manusia sehat diberikan psilosibin, tapi memang hubungan antara psilosibin dan peningkatan kesadaran belum terbukti sepenuhnya. Itulah sebabnya Scott dan rekannya, Robin Carhart-Harris, kepala Psychedelic Research Group di Imperial menganjurkan uji coba tersebut.

“Sederhananya, gangguan kesadaran disertai dengan tingkat kompleksitas otak yang rendah, dan substansi ini tampaknya menaikkan tingkat kompleksitas tersebut,” ujar Scott. “Mari kita lihat apa yang obat-obatan ini bisa lakukan terhadap gangguan kesadaran. Apakah mereka bisa meningkatkan kompleksitas dan tingkat kesadaran pasien?”

Lewat uji coba, mereka dapat menguji nilai terapi psilosibin, dan mempelajari kesadaran, ujar Scott. Psilosibin berinteraksi dengan reseptor serotonin tertentu, dan meningkatkan aktivitas neuron dengan banyak reseptor ini. Neuron-neuron tersebut terpusat di bagian otak yang terkait dengan kesadaran, dan melihat bagaimana mereka bereaksi bisa membantu pemahaman kita tentang betapa pentingnya area-area otak ini.

Scott dan Carhart-Harris menganjurkan memulai eksperimen dari level terbawah, menggunakan subjek yang sehat, entah dalam keadaan dibius atau tidur, untuk melihat apakah psilosibin mempengaruhi kesadaran dan kompleksitas otak dalam kondisi ini. Apabila hasilnya menjanjikan, dan desain uji coba terbukti aman, maka barulah tes yang sama bisa diterapkan ke pasien DoC.

Uji coba di tingkat ini belum pernah dilakukan, dan melakukan uji coba terhadap pasien DoC masih belum dianggap etis. Pasien DoC tidak dapat memberikan persetujuan atau menolak apabila perawatan yang diberikan justru mengakibatkan rasa sakit. Psilosibin memperoleh sttus “Terapi Terobosan” dari FDA (badan makanan dan obat-obatan AS) untuk uji coba perawatan depresi, tapi pasien DoC masuk dalam klasifikasi yang berbeda, karena seringkali mengidap penyakit abnormal dan cedera otak. Bukan berarti karena obatnya aman untuk pasien depresi berarti itu aman juga bagi pasien DoC.

Salah satu yang menjadi kekhawatiran adalah paradoks kesadaran diri. Biarpun tujuan akhirnya adalah mengembalikan kesadaran, bagaimana kalau kita justru membuat pasien semakin sadar dengan keadaan mereka, cedera mereka, kualitas hidup mereka, dan justru menyebabkan rasa sakit jasmaniah dan emosional?

Ada juga kemungkinan pasien mengalami “bad trip.” Tagliazucchi mengatakan apabila dibantu, orang mampu mengatasi segala macam kecemasan yang mungkin timbul. Namun mengingat pasien DoC tidak bisa berkomunikasi, “bad trip” bisa menimpa individu yang benar-benar terisolasi, dan situasi ini belum pernah dialami sebelumnya dengan peserta yang sehat,” ujar Tagliazucchi.

Hasil ini mencemaskan, tapi tujuan makalah terbaru Peterson dan Tagliazucchi adalah untuk mempertimbangkan etika sebelum melakukan intervensi. Apakah zat psikedelik menimbulkan isu etika yang baru? “Enggak juga,” jawab Peterson. “Psikedelik hanyalah salah satu dari obat-obatan baru yang mungkin (atau tidak) bisa efektif untuk percobaan klinis ini,” ujar Peterson. (Mereka juga menyebutkan bahwa teknik yang lebih invasif seperti stimulasi otak mendalam juga sudah dicoba ke pasien—itu etis enggak?)

Hanya karena masyarakat membutuhkan opsi, bukan berarti peneliti boleh melakukan apa saja, ujar Owen. Tapi biarpun ada keraguan perihal penggunaan zat psikedelik, bukan berarti orang tidak boleh mempertimbangkan sama sekali. Dengan uji coba yang aman, ini opsi yang layak dicoba. Ketika dulu pertama mulai mempelajari kesadaran dari pasien yang ‘koma’ pun banyak yang mencibir upaya beliau sebagai buang waktu dan sumber daya. “Apabila kita selalu menyerah terhadap reaksi awal orang lain, 20 tahun hasil penelitian sains mungkin tidak akan pernah kita nikmati,” ujarnya.

Scott merasa tidak melakukan apa-apa bukanlah opsi yang paling etis, terutama mengingat jumlah orang yang mengalami ‘koma’ seperti ini terus meningkat. Mereka yang menderita cedera otak traumatis, atau serangan jantung yang mengakibatkan otak kekurangan oksigen memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup berkat peningkatan teknologi farmasi.

“Mungkin saja semakin banyak orang dalam kondisi tidak sadar seperti ini karena 20 atau 30 tahun lalu, mereka mungkin sudah meninggal,” ujarnya. “Apabila orang mengatakan kamu tidak boleh melakukan ini itu karena alasan etika, lantas siapa yang memikirkan cara membantu orang-orang yang menderita ini? Ketika dilihat dari sudut pandang seperti itu, situasinya lumayan mengerikan untuk tidak berbuat apa-apa toh?”

Follow Shayla Love di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Tagged:
psilocybin
magic mushroom
penelitian
kesehatan
Neurosains
Jamur
Jamur Tahi
Kondisi Koma