Iklan
Ketenangan Batin

Suasana Kantormu Toxic? Sori, Solusinya Bukan Melatih Pikiran Positif

Banyak artikel menyarankan meditasi 'mindfulness' sebagai cara mengatasi lingkungan kerja buruk. Saya sih pilih berhenti kerja daripada memaksakan diri tetap di sana.

oleh Katie Way; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
15 Oktober 2019, 4:46am

Foto ilustrasi oleh fizkes via Shutterstock

Kita semua perlu mempraktikkan ‘mindfulness’ dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak sekali bukti yang menunjukkan betapa konsep ini sangat bermanfaat bagi kesehatan mental. Mengurangi stres, meningkatkan fungsi memori dan kemampuan fokus, dan menurunkan reaktivitas emosional hanyalah beberapa contohnya. Sejumlah studi bahkan membuktikan praktik mindfulness juga dapat meningkatkan kinerja kita.

Penelitian tersebut, yang diterbitkan pada jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes edisi September, menyertakan tiga studi lain dari guru besar jurusan bisnis. Berdasarkan pengamatan terhadap cara kerja pegawai perusahaan asuransi Amerika dan konsultasi IT India, bermeditasi selama tujuh hingga delapan menit sehari dapat “membuat pegawai menjadi lebih berguna” di lingkungan kerja.

“Kamu bisa menjadi karyawan yang lebih menyenangkan dan cekatan bahkan dengan satu intervensi saja,” kata Lindsey Cameron, salah satu peneliti dan guru besar Universitas Pennsylvania, dalam wawancara bersama Knowledge@Wharton. Kedengarannya mungkin menjanjikan, tapi sebenarnya sangat ‘kosong’.

Mempraktikkan mindfulness saat bekerja semakin populer belakangan ini, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Cameron berpendapat konsep mindfulness sangat penting bagi produktivitas karyawan karena mereka menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja di kantor. Maka, tak ada salahnya jika kita mendedikasikan energi fisik dan mental kepada pekerjaan.

“Kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja daripada berkumpul dengan keluarga. Waktunya terkadang malah tabrakan. Berhubung sebagian besar orang bekerja secara tim, jadi mindfulness dapat bertindak layaknya penyangga untuk meningkatkan koordinasi dan fungsi relasi,” Cameron memberi tahu Knowledge@Wharton. Entah mengapa, gagasan mempraktikkan mindfulness supaya menjadi karyawan yang lebih menyenangkan terdengar sangat suram.

Kalau keluargaku yang beragama Buddha dan foto Lindsay Lohan bersemedi di depan kuil di Thailand saja belum mampu meyakinkanku untuk bermeditasi setiap hari, apalagi dengan prospek baru ini. Tetap saja tak akan berhasil menghasutku melakukannya!

Sangat tidak adil menyebut mindfulness sebagai cara memperbaiki kinerja karyawan ketika stres terkait pekerjaan semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Program-program seperti Search Inside Yourself Google—“inisiatif kepemimpinan penuh perhatian” yang telah berkembang menjadi program pelatihan independen—sangat kontras dengan cara perusahaan memperlakukan sejumlah besar pekerjanya, yang beberapa di antara mereka baru membentuk serikat bulan lalu.

Pekerja tak memerlukan meditasi atau yoga singkat untuk meningkatkan kinerja. Yang kita butuhkan sebenarnya adalah gaji memadai, tunjangan, cuti orang tua, dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Kalau dilihat dari lingkungan kerjaku, kurang tidur dan stres lebih ngetren daripada praktik mindfulness.

Follow Katie Way di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Tagged:
yoga
mindfulness
Meditasi
Dunia Kerja
Produktivitas
keseimbangan hidup dan kerja
Suasana Kantor