Iklan
Teror Begal

Setelah Klitih, Modus Baru Kejahatan Jalanan Beruntun Menghantui Warga Yogya

Pembegalan dan pelecehan seksual di jalanan Yogya terjadi dalam waktu berdekatan. Mengingatkan orang pada trauma klitih yang sama-sama sering terjadi di malam hari.

oleh Ikhwan Hastanto
21 September 2019, 7:21am

Ilustrasi oleh Bobby Satya Ramadhan.

Teror jalanan dari orang tak dikenal kembali terjadi di Yogya, kota yang selama berpuluh tahun dibayangi aksi premanisme dengan julukan lokal “klitih”. Kisah ini dibagikan akun Twitter @yussant_ yang mengaku hampir dibegal sekelompok orang tak dikenal dengan modus baru.

Cerita yang untungnya tidak berakhir tragis itu terjadi pada 12 September dini hari di Jalan Affandi, Yogyakarta. Per 18 September, thread tersebut sudah dibagikan lebih dari 10 ribu kali dan bikin netizen ribut: Setelah klitih mulai tidak terdengar, apakah ini tanda kemunculan kejahatan jalanan lain?

Cerita singkatnya seperti ini.

Selepas kopi darat, korban bersama teman-temannya memutuskan makan di warung pinggir Jalan Urip Sumohardjo sekitar pukul 2 pagi. Dalam perjalanan menuju warung, korban bersama dua temannya (tidak diceritakan, namun dari cara berceritanya, saya asumsikan korban dan dua temannya berbeda kendaraan) dihampiri seorang laki-laki berjaket hitam yang menaiki motor Honda Vario saat berhenti di lampu merah persimpangan Jalan Affandi dan Jalan Urip Sumohardjo. Lelaki tersebut mengatakan kepada korban bahwa di belakang ada pengendara yang kecelakaan akibat cara berkendara korban yang ugal-ugalan.

Mendengar hal tersebut, korban memutar balik kendaraan untuk melihat siapa yang dicelakainya. Sang lelaki langsung mengikuti dari belakang. Ketika sedang menelusuri jalan yang sebelumnya dilewati untuk mencari korban kecelakaan yang dimaksud, dua teman korban tergesa-gesa menyusul korban dan memintanya segera ngebut karena melihat lelaki tadi mengeluarkan pistol rakitan dari tangannya. Panik karena ternyata lelaki tersebut adalah begal yang ingin menjebaknya, korban tancap gas, berusaha kabur dari pelaku.

Benar saja, di jalan yang diarahkan pelaku tadi ternyata telah menunggu dua motor plus pengendara sedang berhenti di pinggir jalan. Kedua pengendara misterius itu tiba-tiba menyalakan motornya begitu melihat korban mendekat. Paham apa yang sedang dialaminya, korban memacu kendaraan super kencang. Beruntung, mereka berhasil lolos.

Entah berhubungan atau tidak, kasus kejahatan di jalan yang melibatkan lelaki berjaket hitam dan motor matic juga terjadi beberapa hari sebelumnya di Jogja. Memang tidak melibatkan pistol rakitan, tapi menurut saya sama seramnya. Kasus pertama, pada 6 September lalu, adalah pelecehan seksual dari seorang laki-laki kepada seorang pengendara motor wanita.

Kasus kedua, pada 16 September, terjadi di tempat yang berdekatan.

Kedua kasus pelecehan terjadi di sekitar kampus Universitas Teknologi Yogyakarta, Sleman. Pada kasus pertama, pelaku sampai menyentuh tubuh korban dengan cara memepet kendaraan sehingga tidak ada ruang bagi korban untuk kabur. Korban yang mati-matian mempertahankan keseimbangan motornya agar tidak berhenti atau jatuh untungnya berhasil kabur.

Sementara pada kasus kedua, pelaku tidak berhasil menyentuh korban, namun salip-menyalip kendaraan terjadi sembari pelaku melontarkan pelecehan verbal sambil meminta korban untuk berhenti.

Cerita-cerita percobaan kejahatan di jalanan Jogja lantas memancing netizen membagi kisah serupa yang dialaminya:

(Terjemahan twit di atas: "Hampir sama denganku, Mbak. Tapi, kalau aku kejadiannya sekitar jam setengah 9 malam, tiba-tiba dipepet Mas-mas terus dikata-katain. Aku ngebut, Masnya ikutan ngebut. Pas sejajar dia langsung ngegas motornya kenceng-kenceng. Sampai aku belok gang rumahku, dia berhenti dan ngeliatin terus.")

Ada pula kesaksian seorang dokter dengan akun @amriadhyatma mengatakan bahwa dalam sebulan terakhir, ia sudah beberapa kali mendapatkan pasien yang babak belur dihajar orang tak dikenal di jalanan.

Kejahatan jalanan yang berlangsung di tengah-tengah kota Jogja memunculkan kembali ingatan masyarakat Jogja tentang aksi klitih yang sempat pasang surut selama puluhan tahun. Klitih sendiri secara sederhana berarti aksi penganiayaan oleh remaja di jalanan dengan menggunakan senjata tajam (celurit atau pedang katana).

Klitih bahkan sudah berbaur dengan mitos karena jamak dipercayai, pelakunya sering beroperasi di wilayah tertentu, seperti kawasan Jalan Ring Road Utara di Sleman, dan kendaraan yang digunakan adalah Honda Vario putih. Itulah kenapa keterangan merek dan warna motor di cerita di atas menjadi penting.

Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofir akhir tahun lalu menyatakan hampir seluruh pelaku klitih sudah ditindak sesuai hukum dan kejahatan jalanan tidak akan diberi ruang di masa mendatang. Kepolisian belum memberi tanggapan mengenai viralnya kasus percobaan pembegalan dan pelecehan seksual yang kembali marak sepekan belakangan.