Iklan
Seni Rupa

Mending Banksy Jualan Merchandise Resmi Deh Daripada Dikomersialkan Pihak Lain

Seniman jalanan global anonim yang terkenal tersebut menunjukkan kita betapa sulitnya bagi seniman graffiti agar karyanya tidak dimanfaatkan orang lain.

oleh Taylor Hosking
07 Oktober 2019, 10:24am

Foto ilustrasi  Peter Macdiarmid / Getty Images

Seniman jalanan Inggris yang terkenal Banksy membuka toko pertamanya di London Selatan pada Selasa, tapi ini bukan sekedar usaha cari duit loh. Toko ini merupakan sebuah upaya untuk mencegah sebuah perusahaan kartu ucapan untuk mengambil kepemilikan namanya, yang sudah dia ajukan sebagai merek dagang semenjak 2010. Situasi ini kurang lebih menggambarkan fenomena ketika perusahaan berusaha meraup untung dari karya graffiti yang tingkat popularitasnya meningkat di khalayak umum.

Sekitar setahun yang lalu, sebuah perusahaan kartu ucapan tak bernama membuka kasus dan menantang merek dagang Banksy, yang apabila mereka menangkan, akan memberikan mereka hak untuk menjual gambar karya-karya beliau. Ternyata—merujuk penjelasan dari pengacara Banksy, Mark Stephens, saat diwawancarai ITV News—mengingat Banksy tidak menggunakan merek dagangnya untuk menjual barang ke publik, hukum Inggris mengatakan "[merek dagangnya] bisa ditransfer ke pihak lain yang hendak berjualan."

Banksy menulis lewat sebuah pernyataan bahwa dia merasa perusahaan kartu ucapan tersebut “mengira saya tidak akan datang ke ruang pengadilan untuk membela diri." (Ya sebetulnya enggak salah juga, mengingat Banksy sangat hati-hati soal menjaga identitasnya.)

Banksy merespons dengan membuka toko baru, yang kurang lebih adalah window shop tempat orang bisa kunjungi untuk melihat item apa yang nantinya bisa dibeli secara daring. Toko onlinenya (sedang dalam konstruksi di GrossDomesticProduct.com) belum mulai menjual apa-apa, tapi gambar tampilannya, sebuah eskalator yang dipenuhi orang berhimpit-himpitan lumayan menggambarkan keengganan Banksy untuk mengikuti aturan main kapitalisme. Sesuai pernyataannya, menurut dia, projek ini adalah "alasan paling tidak puitis untuk menciptakan karya seni."

Banksy mungkin juga nge-troll kita semua menggunakan barang-barang yang dia jual, yang dia sebut sebagai "tidak praktis dan merupakan sebuah penghinaan." Di antaranya adalah helm polisi anti huru-hara yang telah diubah menjadi bola disko; Tikar selamat datang yang dibuat dari pelampung yang tergenang di pantai Mediterania; dan karya-karya misterius lainnya, seperti mainan anak-anak yang menyuruh pemainnya untuk memasukkan keluarga-keluarga migran ke belakang truk.

Biarpun toko Banksy adalah salah satu contoh paling terkenal dari seniman graffiti yang kesulitan untuk menjaga kepemilikan karya mereka, ini adalah bagian dari tren yang lebih besar seiring banyak merek-merek berusaha mengkomodifikasi bentuk seni yang semakin populer ini.

Pada 2015, Katy Perry datang ke Met Gala mengenakan gaun Moschino bergambarkan mural Joseph Tierney tanpa izin dari sang seniman. Ketika Tierney menuntut direktur kreatif Moschino, Jeremy Scott (yang berjalan di atas karpet merah bersama Katy Perry sambil mengenakan grafik curian yang sama), tim hukum Scott berusaha membantah kasus tersebut dengan mengatakan bahwa graffiti seharusnya tidak dipatenkan, karena kata mereka graffiti adalah "sebuah bentuk vandalisme dan pelanggaran."

Biarpun kasus itu akhirnya diselesaikan di luar meja hijau, H&M menggunakan alasan yang sama pada 2018 untuk melawan seniman graffiti Jason Williams (alias Revok), yang mengklaim bahwa H&M tanpa izin menggunakan karya seni jalanannya dalam latar belakang iklan mereka. H&M akhirnya mengalah, kemungkinan besar karena citra negatif yang mereka dapatkan.

Graffiti adalah bentuk seni yang sangat rumit untuk dipatenkan dan diatur, karena narasi bahwa graffiti sendiri sudah melanggar hukum dan betapa rumitnya bagi para seniman untuk melawan balik. (Seniman graffiti Dash Snow pernah mencoba menuntut McDonald karena menggunakan tiruan tag-nya sebagai dekorasi lokasi salah satu restoran mereka pada 2016.

Tuntutan ini gagal karena lokasinya di luar Amerika Serikat; McDonald nantinya dikritik karena menggunakan lebih banyak lagi graffiti tanpa izin senimannya di sebuah video promosi untuk restorannya di Belanda.)

Toko baru Banksy menunjukkan seberapa rumitnya isu pematenan seni graffiti. Biarpun tidak ada yang tahu seperti apa masa depan dari karya seni yang secara historis anti-kapitalis dan kerap bergesekan dengan industri yang ingin mengeksploitasinya ini, paling tidak upaya Banksy untuk menjual karyanya setengah hati memberikan para seniman waktu untuk berpikir.

Follow Taylor Hosking di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US

Tagged:
Graffiti
trademarks
Banksy
Seni Jalanan
Seniman Legendaris
Komersialisasi Seni