Iklan
Wabah Tanaman

Wabah Jamur Berpotensi Membuat Pisang Punah dari Muka Bumi

Kolombia mengumumkan keadaan darurat akibat kembali bangkitnya wabah jamur yang memusnahkan spesies pisang puluhan tahun lalu.

oleh Jelisa Castrodale; Diterjemahkan oleh Jade Poa
18 Agustus 2019, 2:00am

FotoGetty Images 

Bayangkan skenario ini: dalam empat atau lima dekade mendatang, kamu sedang bercerita kepada anak cucumu tentang kehidupan saat kamu seumuran mereka. Mereka terkagum mendengar istilah “glasier,” dan kesulitan memahami konsep acara TV "The Big Bang Theory," dan mereka pun bertanya-tanya tentang buah yang kamu sebut: Pisang Cavendish, yang punah pada awal Abad ke-21.

Pekan lalu, pemerintah Kolombia mengumumkan keadaan darurat, setelah mengkonfirmasi wabah jamur Panama Disease Tropical Race 4 (TR4) terdeteksi di 180 hektare lahan pertanian. Menurut jurnal Science, ini pertama kalinya jamur ini dideteksi di Amerika Selatan—kabar sangat buruk bagi industri pisang global.

Kolombia adalah pengekspor pisang keempat terbesar di Amerika Latin. Selebihnya, pisang merupakan ekspor ketiga terbesar Kolombia setelah kopi dan bunga. Oleh karena itu, Kolombia menganggap isu ini serius.

Deyanira Barrero Leon, manajer Institusi Pertanian Kolombia (ICA) mengatakan polisi dan militer telah dihubungi untuk membantu mengkarantina lahan pertanian terdampak jamur, dengan sejumlah lahan dipantau 24 jam oleh aparat pertanian. “Kami sedang menanggapi isu ini sebisa-bisanya,” ujar Deyanira.

National Geographic melapor TR4 pertama kali dideteksi di Taiwan pada awal tahun 90an. Kala itu, belum diketahui apakah jamurnya akan tersebar lebih luas. Pada 2013, TR4 muncul di Afrika dan Timur Tengah. “Saat jamurnya dideteksi, tidak ada solusi untuk mengatasinya. Kemungkinan besar jamurnya sudah tersebar ke daerah-daerah sekitar,” kata Gert Kema selaku guru besar Fitopatologi Tropis asal Belanda.

Belum tersedia perawatan untuk tanaman terinfeksi TR4. Begitu tanamannya terinfeksi, ia berhenti menghasilkan buah. Bahkan sebelum TR4 membunuh tanamannya, jamurnya sanggup bertahan di bawah tanah selama 30 tahun; artinya, tanaman pisang baru tidak dapat ditanam di tanah yang pernah terinfeksi.

Munculnya TR4 di Amerika Selatan meresahkan para ilmuwan karena hal serupa pernah terjadi sebelumnya. Sebelum muncul pisang Cavendish, pisang terpopuler di Amerika Serikat dan Eropa adalah pisang Gros Michel, yang hampir punah karena nyaris dimusnahkan Penyakit Panama serupa. Setelah itu, industri pisang mulai memperhatikan Cavendish, yang dianggap sebagai pengganti memadai untuk Gros Michel. Kala itu, Cavendish diduga tahan Penyakit Panama.

“Cavendish itu sangat penting. Separuh pisang sedunia itu Cavendish,” ujar Randy C. Ploetz selaku patologis buah tropis di University of Florida kepada VICE pada 2015. “Sekitar 45 persen seluruh pisang di dunia itu jenis Cavendish. Jadi, kalau pun TR4 tidak mempengaruhi pisang-pisang lain, dampaknya tetap akan terasa.”

Menurut National Geographic, pada saat ini belum ada jenis pisang cadangan yang bisa menggantikan Cavendish. Ilmuwan pertanian belum berhasil menciptakan pisang yang meniru rasa Cavendish DAN sanggup bertahan waktu pengiriman panjang dari Amerika Selatan dan tengah DAN tahan TR4. (Peneliti Australia dikabarkan sedang menggarap versi Cavendish yang dimodifikasi secara genetik alias GMO, tetapi cap ‘GMO’ kemungkinan tidak akan menarik banyak pembeli).

Beberapa tahun lalu, Dan Koeppel, penulis buku Pisang: Nasib Buah Yang Mengubah Dunia, mengatakan kepada VICE pada 2015 bahwa begitu TR4 tiba di Amerika Selatan, “situasinya tidak mungkin bisa diperbaiki.” Ia tidak menyebut seberapa cepat jamurnya akan tersebar, atau apa yang bisa dilakukan industri pisang untuk melawannya, atau bagaimana kita bisa menggantikan pisang Cavendish pada skala besar. Lebih baik kamu memotret pisang yang kamu beli di supermarket. Buat kasih lihat ke cucu-cucumu.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.