Iklan
Kota Layak Huni

Kita Terima Gitu Aja Survei Menyebut Jakarta 'Kota Berbahaya' Dunia? Enggak Lah

Jakarta banyak masalah memang. Tapi seriusan, masak ibu kota kita dianggap separah Karachi? Survei EIU yang baru aja rilis kerasa banget ngasih bias positif buat kota-kota kaya dunia.

oleh Audy Bernadus
19 Oktober 2017, 6:56am

Pemukiman pinggir rel kereta di Jakarta Pusat. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Jakarta itu memang beraneka warna. Banyak masalah? Iya. Ngeselin karena kacau dan tata kotanya morat-marit? Bener banget. Tapi kalau sampai dibilang kota berbahaya yang tidak layak huni? Hmm, bisa diperdebatkan tuh.

Awal pekan ini, Economist Intelligence Unit merilis survei terbaru tentang kota paling layak huni sedunia. Ada 60 kota yang diperingkat dalam daftar tersebut, hasilnya antara bikin kaget sama biasa aja. Kota kayak Tokyo atau Singapura memuncaki daftar EIU. Wajar. Tapi yang membuat pembaca terkejut, Jakarta posisinya rendah banget, dijuluki sangat tidak aman dan berbahaya. Posisi ibu kota Indonesia di urutan 57 dari 60 kota. Jakarta dalam daftar ini dipersepsikan kalah aman dari Caracas (Ibu Kota Venezuela yang beberapa bulan belakangan diwarnai demo, antrean penduduk beli bahan makanan, serta salah satu kota dengan tingkat pembunuhan tertinggi sedunia) serta Karachi (ibu kota Pakistan yang kita tahu, hmm, malas juga mampir ke sana selama masih banyak ancaman Taliban dan kekerasan antar geng yang sudah merenggut lebih dari 800 korban tewas satu dekade terakhir).

Pertanyaannya, kok bisa sih Jakarta posisinya rendah banget? Oke-oke. Pusat pemerintahan Indonesia ini memang banyak masalah. Cuma, setelah membaca survei dari EIU, rasanya kayak kita digambarkan jauh lebih buruk dari kenyataan sehari-hari. Survei ini akan selalu menempatkan kota kaya, dari negara maju, lebih tinggi dari kota-kota negara berkembang. Intinya memperjelas yang sudah jelas.

Seriusan, pendapat ini sama sekali enggak didorong semangat nasionalis yang overdosis lho. Persoalannya, langsung muncul beberapa masalah yang kentara habis kita memperhatikan metodologi survei tersebut.

Ada empat kategori utama yang dipakai buat mengukur standar layak huni, dan kemudian disimpulkan bisa menjamin keamanan penduduknya. Standar itu adalah digital security, health security, infrastucture security, dan personal security. Yuk, mari kita coba lihat satu per satu.

Kategori pertama soal keamanan digital. Menurut EIU, standar ini sekarang makin penting mengingat makin banyaknya orang yang mengakses Internet di perkotaan, baik lewat komputer pribadi ataupun ponsel pintar.

Ancamannya, menurut Economist Intelligence Unit contohnya adalah insiden light rail transit alias kereta listrik di San Fransisco mengalami gangguan. Penduduk San Fransisco jadinya enggak bisa top up saldo mereka ke sistem gara-gara sistemnya diretas. Lah, kalau begitu malah aman transportasi Jakarta dong walaupun dari segi layanan kurang nyaman. Mana bisa kopaja, metro mini, angkot, sampai bajaj diretas?

Terus, saya ini pengguna kereta rel listrik (KRL) Commuter Line tiap hari. Seumur-umur naik, paling banter masalahnya gangguan sinyal. Tapi tiket prabayar saya enggak pernah tuh sampai diutik-utik hacker. Hasilnya, Jakarta dalam kategori keamanan digital, posisinya ada di 60, paling bontot euy.

Itu baru risiko hacking fasilitas publik. Kalau bicara keamanan digital tiap individu, 78 persen pengguna internet di Asia Tenggara enggak paham keamanan digital. Ingat Asia Tenggara, jadi termasuk pula Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, hingga Singapura. Jadi, masalahnya sih karyawan di kota-kota besar ASEAN masih disuruh bosnya pakai laptop sendiri buat kerja. Enggak aman deh untuk keamanan digital. (Buruan pakai data ini catatan buat minta fasilitas komputer ke kantormu!)

Kemacetan parah di ruas Sudirman-Thamrin. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Ketika kita dimasukkan ke posisi paling bontot (barangkali karena populasi Jakarta jauh lebih tinggi dibanding kota-kota lain), rasanya pedih aja sih. Biasa lah, kalau urusan jatuh begini, kita emang enggak mau jatuh sendirian, harus nyeret kota-kota lain yang sama buruknya, hhe.

Kategori kedua health security, membahas gimana pemerintah kota bisa nyediain layanan kesehatan yang menyeluruh buat warga kotanya. Oke deh. Saya enggak bakal banyak protes buat kategori tersebut. Layanan kesehatan Jakarta sudah sering disorot sebagai salah satu yang terburuk se-ASEAN karena jumlah ambulans dikit, daya tampung RS enggak memadai, dan banyak lagi lainnya.

Cuman, saya sih mau nyorotin gimana 10 kota terbaik buat kategori kesehatan semuanya kota-kota dari negara maju dan kaya. Ambil contoh Tokyo, penerimaan pemerintahnya berdasarkan data tiga tahun lalu mencapai 68 triliun Yen (setara Rp8.160 triliun). Njir, nolnya banyak banget. APBD Jakarta tahun ini? Total Rp70,19 triliun buat mengurusi 10 juta penduduk. Enggak heran begitu dibandingin, Jakarta sama kota-kota besar dari negara berkembang lainnya masuk ke urutan 10 kota paling tidak aman. Kenapa deh perbandingannya enggak dibagi antara negara maju dan negara berkembang. Kita malah bisa tahu ada kota yang sudah berbenah atau enggak.

EIU tampaknya sadar juga sama biasnya sendiri. Di tulisan pengantarnya, mereka sudah mewanti-wanti, "kekayaan dan aset ekonomi sebuah kota sangat mempengaruhi berbagai kriteria pengukuran keamanan." Hadeehhh... you don't say bos! Marilah kawan-kawan, yuk kita buruan kaya. Capek juga penduduk kota-kota besar Indonesia selalu masuk daftar survei sekelas negara dunia ketiga.

Standar pengukuran ketiga soal keamanan infrastruktur. Lucunya Jakarta enggak masuk 10 terbawah di urusan ini. Berarti, inisiatif membangun jalan layang non-tol sama MRT diperhatikan juga. Tapi jangan sampai lupa, Jakarta punya masalah macet parah, salah satu yang terparah sedunia emang, gara-gara enggak ada regulasi tegas soal kendaraan pribadi. Di Asia Tenggara, Indonesia sebetulnya masuk nomor tiga untuk pembangunan infrastruktur transportasi. Bisa dibilang kita kalah dari kota-kota yang berada di urutan 10 teratas karena banyak lubang di jalanan kita.

Jakarta bahaya banget, turis aja sampai ditodong senapan. Eh... enggak ya? | Foto oleh Beawiharta/Reuters

Terakhir, personal security alisan keamanan untuk seseorang. Di kategori ini Jakarta masuk lagi ke 10 negara paling gak aman buat dihuni. Tapi kayaknya harus dicermatin dulu dalam hal apa enggak amannya. Misalnya kalau dalam hal jambret sama copet, ya mungkin sih Jakarta masuk 10 paling bawah. Tapi, untuk kategori pelecehan terhadap perempuan, kota-kota besar Jepang enggak kalah dari Indonesia lho. Ada fenomena namanya chikan, pelecehan dalam kereta, di Osaka dan Tokyo yang udah diwanti-wanti banyak media.

Selain itu, sesering apa sih kamu denger di Jakarta ada orang meninggal gara-gara ditembak? Jarang banget. Bandingin sama San Fransisco, kota di AS yang masuk urutan ke-15 paling aman di daftar EIU. September lalu aja terjadi kasus penembakan menewaskan empat orang di kampus. Bandingin sama Jakarta. Jangankan senjata, petasan aja sekarang susah nyarinya. Makanya tingkat kematian di Jakarta sekitarnya sekilas relatif tinggi, tapi kalau dibandingkan sama metropolitan dunia lain dengan penduduk lebih dari 10 juta, kita tak akan berada di posisi terbawah. Tentu saja, karena kita enggak punya masalah peredaran senjata terlalu parah.

Pendek kata, saya enggak marah sama survei EIU. Cuma, cara memandangnya kerasa bias aja. Toh, mayoritas poin-poin di semua kategori tadi benar. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi pemprov DKI. Jadi kali lain kalian melihat kesimpulan survei soal Jakarta dengan judul yang 'menarik perhatian', kita lebih baik tenangkan pikiran. Perhatikan sesering apa kamu ngumbar privasi lewat ponsel pintarmu, barangkali kamu sadar sedang terjebak di tengah kemacetan menyebalkan. Bersyukurlah. Setidaknya kotamu bukan yang paling berbahaya sedunia.