'Straight Outta Compton' Adalah Album yang Citarasanya 'Amerika' Banget

Tiga puluh tahun kemudian, magnum opus N.W.A ini terus dikenang sebagai penyebar varian hip-hop bernama gangsta rap—hal yang kita benci sekaligus cintai dari Amerika.

|
Ags 11 2018, 5:22pagi

Ruthless Records

Setelah dapat surat ancaman pemeriksaan oleh FBI, setelah konser-konser mereka rutin dirazia polisi, setelah mengeruk jutaan dollar dari penjualan album, dan setelah MTV menolak memutar video klip lantaran takut mendengar reputasi jalanan Ice Cube Cs, semua orang mengira kolektif hip hop N.W.A hampir tak tertolong lagi. Punggawanya saling serang satu sama lain. N.W,A, grup paling kreatif dan sukses secara komersial dalam sejarah hip hop, tak mampu bertahan menciptakan album yang dapat meneruskan kejayaan mahakarya mereka.

Dalam situasi titik nadir macam itulah, Straight Outta Compton menjadi album hip-hop yang memindahkan episentrum hip-hop dari New York ke LA, sekaligus membawa gangsta rap ke rumah-rumah di daerah suburban di Amerika. Tragisnya, album ini sekaligus satu-satunya rilisan yang merekam N.W.A di puncak karirnya. Album ini barangkali sudah jutaan kali ditelisik kritikus musik, dibongkar sampai ke detailnya yang paling kecil, dan menjadi inspirasi sebuah film biopik. Straight Outta Compton juga berulang kali disampling, didaur ulang dan dibedah habis-habisan—bahkan jadi sumber pertikaian antara anggota N.W.A sendiri.

Kendati Straight Outta Compton sudah ditempatkan pada posisi terhormat dalam sejarah panjang hip-hop (sekaligus selalu disebut dalam dokumenter yang membahas kultur pop Amerika dasawarsa ‘80an), nyatanya album ini tak pernah dipahami sebagai momen yang mengubah sejarah kancah musik di Los Angeles.

N.W.A bukan hanya respons terhadap rasisme yang begitu mengakar di AS dan sistem peradilan California yang tak bertaji. N.W.A juga adalah hasil manuver-manuver sinting nan berani yang dirancang rapi di ruang rapat serta produk dari klub kinclong kawasan California. Straight Outta Compton bisa direduksi menjadi umpatan belaka—lagu “Fuck The Police” salah satunya. Namun, akan juga menarik untuk memandang album ini sebagai proses sintesa pemikiran anak muda yang hidup di jalanan pada masa kapitalisme neoliberal berjaya menguasai dunia.

Kini, nama kawasan Compton seakan membawa muatan moral dan narasi yang hebat di kancah hip-hop. Kendrick Lamar, salah satu rapper yang paling banyak dipuji belakangan, mampu mengusung nama kawasan itu untuk merangkum silsilah yang sudah dihapal di luar kepala oleh penggemar hip-hop. Pada dekade ‘50an dan ‘60an, Compton adalah kawasan suburban dihuni masyarakat Afrika-Amerika asli California. Memasuki dasawarsa ‘80an, saat Dr. Dre, Eazy, Ice Cube, MC Ren, dan DJ Yella (serta salah satu pendiri N.W.A, yakni Arabian Prince) menginjak usia akil balik, Compton tengah membusuk secara ekonomi dan polisi getol banget berkeliaran di sana menangkapi orang atas tuduhan rasis kalau mereka pengedar narkoba.

Seperti yang jamak terjadi di tiap masa dan kebudayaan manusia, kondisi hidup yang berat melahirkan musik luar biasa. Musik yang lahir di Compton tak langsung rap jalanan. Benih-benih kreativitas N.W.A bisa dilacak hingga ke Eve’s After Dark, klub malam dekat Avalon Blvd yang pernah menjadi rumah bagi World Class Wreckin’ Cru, kru DJ yang pernah diikuti Yella dan Dre. Wreckin’ Cru memainkan musik apapun, mulai dari R&B hingga musik elektronik. Klub ini berperan sebagai kawah candradimuka bagi Yella serta Dre untuk mengasah kemampuan di turntable sekaligus belajar memanipulasi emosi audiens. Di klub ini pula, kedua DJ itu pertama kali berkolaborasi bareng rapper muda Ice Cube.

Saat Eazy ingin mendirikan label rekamannya sendiri sekaligus tentu saja, jadi salah satu roster utamanya, dia butuh seorang produser untuk membantunya membangun kerangka albumnya. Konon, berdasarkan mitos yang beredar luas, pada 1987, Eazy membayar uang jaminan saat Dre dicokok polisi. Sebagai balasan, Dre bersedia memproduseri albumnya. Apa yang disuntikan Dre ke N.W.A, selain kecakapan teknis yang menyulap Eazy dari rapper kapiran menjadi salah satu suara paling ikonik di kancah hip-hip, adalah selera musik yang lebar.

Begitu N.W.A mulai merekam Straight Outta Compton, album itu punya segala macam track keren. Dari lagu yang memiliki groove-groove lowong (“Gangsta Gangsta”), rap panik keroyokan (track yang berjudul sama dengan albumnya), sampai sindiran-sindiran yang riang (“I Ain’t Tha 1,” “Parental Discretion Iz Advised”). Album ini bahkan diakhiri dengan “Something 2 Dance 2,” pameran skill dj panjang yang lebih mirip “Planet Rock” dan “P.S.K.”


Tentu saja, imej Straight Outta Compton yang menempel di otak kita sekarang adalah sekelompok pemuda kulit hitam, berjalan menembus lautan api, melempari polisi dengan batu. Rima-rima Ice Cube yang mencerca polisi rasis masih tetap pedas hingga kini. Straight Outta Compton memang sebuah album protes. Di dalamnya, terekam suara-suara pemuda yang termarjinalkan. Akan tetapi, musik pengiringnya adalah komposisi mahal, komposisi burjuis, yang sukar ditandingi. Musik dalam Straight Outta Compton adalah intisari insting bermusik Dre yang ditempa sejak mereka masih hijau, saat masih keranjingan nge-dance di di kawasan paling majemuk kota kedua terbesar AS.

Seperti disinggung sekilas di atas, sayangnya kelak detail-detail Straight Outta Compton menjadi amunisi anggota N.W.A untuk saling ejek satu sama lain. Dre jadi mangsa empuk Eazy lantaran mengaku bersih dari obat-obatan di “Express Yourself.”

Saat Ice Cube merilis “No Vaseline,” salah satu diss paling kesohor sepanjang masa, pada 1991, dia mengambil sampel dari rima Eazy “Ice Cube writes the rhymes that I say” di “8 Ball.” Album ini intinya membawa mereka ke puncak, sekaligus menghancurkan ikatan mereka sebagai sebuah grup.


Tonton variety show dari VICE mengenai deretan musisi independen seru di Indonesia, salah satunya Mukarakat, grup hip hop keren Flores:


Sebelum akhir tragis itu datang, N.W,A adalah perpaduan sempurna dari seni bisnis tingkat tinggi, kepongahan, sarkasme, sekaligus amarah anak muda. Straight Outta Compton mencuat karena kontras dengan citra keserakahan ala Wall Street di masa pemerintahan Reagan. Straight Outta Compton mengantarkan rap ke jalan yang membuatnya jadi genre paling dominan di kancah musik AS saat ini. Dan yang paling penting, Straight Outta Compton adalah kapsul waktu yang mengabadikan apa yang terjadi di boulevard lebar dan klub-klub padat di Los Angeles saat album itu direkam. Album ini adalah simbol dari segala hal yang kita benci sekaligus cintai dari negara bernama Amerika Serikat.


Paul Thompson adalah penulis musik yang tinggal di Los Angeles. Follow dia di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

More VICE
Vice Channels