Diorama bencana tsunami di Aceh. Foto oleh Hendri Abik.

Panduan Menulis Berita Bencana ala Indonesia Agar Kau Hilang Empati dan Doyan Mengksploitasi Korban

Sinisme dan keluhan terhadap cara media kita meliput bencana bermunculan di medsos. Orang membandingkan sama kisah terjebaknya bocah di goa Thailand yang inspiratif. Maukah awak media di Tanah Air berubah?

|
Jul 14 2018, 6:51pagi

Diorama bencana tsunami di Aceh. Foto oleh Hendri Abik.

Berikut ini adalah nasehat terbaik yang bisa kamu dapatkan dalam meliput bencana di negeri ini: Pastikan awali wawancara dengan pertanyaan soal firasat, atau tanyakan soal perasaan yang dialami keluarga korban. Itu adalah langkah mujarab membuat narasumber setidaknya berlinang air mata atau malah terbakar emosinya.

Kesedihan mereka adalah headline berita yang sanggup meraup banyak klik. Sorot terus kamera ke wajah-wajah keluarga korban yang menangis histeris. Sebab tangisan itu adalah “drama” favorit bagi penonton.

Jangan lupa, jika ada korban perempuan, pilih yang paling menarik. Eksploitasi
latar belakangnya, kekasihnya, apalagi jika korban tersebut hampir menikah. Asumsikan kisah percintaan korban sebagai santapan massa, tak usah pedulikan trauma orang terdekatnya. Tak peduli betapa hancur lebur hati kekasihnya.

Jika ada korban mengalami kemalangan, barangkali itu adalah akibat dari ulah para pendosa yang melakukan tindakan laknat di lokasi kejadian sebelum kecelakaan terjadi. Bisa saja musibah itu adalah hukuman karena di tempat itu sebelumnya marak judi atau prostitusi.

Jangan lupa juga sampaikan ramalan-ramalan bombastis dari ahli supranatural. Kita kan hidup di Indonesia, bangsa yang suka hal-hal mistis dan supranatural. Anggaplah semua penonton tak paham sains. Jika kau pekerja media, suguhkan berita soal terawangan ahli nujum setelah terjadi bencana.

Atau jika mau yang lebih fantastis lagi bikin sekalian artikel kombinasi antara sains dan supranatural. Terjemahkan serampangan hasil penelitian ahli soal potensi bencana, buat laporan ilmiah tadi menjadi bombastis dengan judul clickbait karena kepanikan adalah bumbu-bumbuh gurih berita soal bencana. Semakin masyarakat panik, maka berita makin sukses.

Jika liputan bencanamu masih kurang greget, kurang dramatis, cari siapapun agar ikut berkomentar. Siapapun! Pilihlah orang-orang terkenal. Selebriti penting untuk mengomentari soal bencana! Pengacara Hotman Paris misalnya, sebab apapun yang dia katakan pasti mengundang klik—tak peduli apakah dia paham gempa ataupun kecelakaan kapal. Perlakukan berita bencana laiknya infotainment. Jika tidak, pertontonkan saja konflik panas antara Ratna Sarumpaet yang menantang Luhut Pandjaitan adu mulut. Walaupun ribut macam ini nihil substansi, tapi hasilnya kan jadi rame. Asyik. Seru. Di balik bencana, kita harus sibuk mencari yang seru-seru.

Oh iya, jangan sampai lupa, Jakarta adalah segalanya, Jakarta adalah pusat. Maka, di mana pun bencananya suara pejabat-pejabat Jakarta adalah yang terpenting! Jika bencana ada di daerah yang sulit dijangkau, maka tak perlulah repot-repot ke sana.

Aceh atau Mentawai itu jauh, belum lagi sulit dijangkau. Tanya saja pejabat di Jakarta saja, jika jawaban orang Jakarta “bantuan sudah diberikan”, maka artinya bantuan sudah diberikan dan anggaplah korban bencana baik-baik saja. Tak perlu kawal penanganan pascabencana, karena yang paling penting dari bencana adalah bencananya itu saja, setelah itu pembaca dan penonton takkan lagi tertarik, tak akan lagi ada klik.

Formula yang dijabarkan sebelumnya sudah menjadi konsensus tak tertulis dalam pemberitaan soal bencana alam atau insiden transportasi di negara ini. Saking familiarnya publik dengan format demikian, lewat media sosial Twitter mereka ramai-ramai menelanjangi cara media, ya cara kita termasuk media ini menampilkan angle soal kecelakaan. Kritik tersebut diawali oleh twit dari akun almascatie yang kemudian mendulang respon dari warganet lainnya.

Publik, setidaknya seperti yang nampak dari Twitter, sudah muak dengan cara media-media di Indonesia meliput tragedi. Begitu inspiratifnya liputan bencana di Thailand membuat publik di Tanah Air membanding-bandingkannya dengan sikap media kita selama ini ketika memberitakan momen kemalangan manusia.

Tragedi dan bencana adalah “komoditas” setidaknya itulah yang dikatakan oleh jurnalis senior Kompas, Ahmad Arif yang juga menulis buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme. Arif sempat menulis kritiknya terhadap cara media di Indonesia mengemas berita bencana dalam situs lembaga riset media, Remotivi akhir 2014 lalu, tepat beberapa hari setelah peristiwa kecelakaan pesawat Air Asia di Laut Jawa.

Kekacauan peliputan bencana pada penghujung 2014 ini, seperti
mengulang kesalahan yang sama dalam berbagai peliputan bencana-bencana
sebelumnya. Kekacauan yang menunjukkan adanya kontradiksi …antara tugas yang suci dan pelaksanaan yang cemar, bukan hanya karena pelaksana yang tidak memadai, tapi juga karena niat buruk. Dalam bahasa legal, persoalannya bukan lagi sekedar “Disaster by accident, nor just by honest mistake, but also by malice.”

Arif bilang, salah satu masalah utama pemberitaan bencana di Indonesia terletak dalam bagaimana media berupaya memberitakan hal-hal dramatis untuk menimbulkan simpati publik dan bantuan. Misalnya, banyak redaksi secara sadar menonjolkan tangisan, darah-darah, atau celakanya mayat korban. Pertanyaannya, apakah memang publik butuh cara demikian untuk meningkatkan kepedulian terhadap bencana? Cara pandang inilah yang dikritik Arif.

“Saya tidak setuju dengan pendekatan itu, karena dengan demikian publik itu bisa kebal, bisa baal dengan kejadian macam demikian. Bukan simpati yang dia dapat tapi trauma yang justru parah yang membuat (publik-red) malah tidak peduli dengan kematian,” kata Arif saat dihubungi VICE Indonesia. “Kalau dulu televisi yang banyak mengekspos, kalau sekarang justru banyaknya media online.”

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Abdul Manan mengungkapkan kekhawatiran serupa. Manan menyatakan ketika media abai pada fokus kepentingan publik, yang terjadi jurnalisme di masa bencana hanya mengksploitasi titik-titik lemah orang-orang yang tengah dilanda kemalangan.

“Dengan mengekspos kesedihan dia. Bagi orang lain bisa saja mengundang simpati, tapi bagi korban itu sendiri apakah itu namanya bukan bencana kedua?” kata Manan pada VICE. “Kalau media hanya mengekspos hal-hal yang pinggiran, tidak yang esensial, media tidak mempengaruhi kebijakan apapun yang seharusnya diambil pemerintah.”

Pada akhirnya, seluruh media, termasuk kami di VICE, harus berefleksi ketika memutuskan meliput sebuah bencana. Mana yang lebih penting dan esensial, Mendorong perubahan kebijakan publik atau mendulang untung dari trauma korban?

“Dalam konteks bencana yang paling penting justru edukasi publik dan bagaimana kita belajar agar lebih siap dalam setiap bencana," kata Arif. "Karena ini soal hidup dan mati."

More VICE
VICE Channels