Perang Modern

Di Zaman Sekarang, Perang Mustahil Dimenangkan Tanpa Propaganda Media Sosial

Seriusan nih. Jurnalis David Patrikarakos menjabarkan alasan Twitter dan Facebook mengubah pemahaman manusia soal konflik dan strategi peperangan modern.
16 Januari 2018, 5:48am
Penduduk Palestina selfie dengan latar  bentrokan melawan tentara Israel di pinggir kota Nablus, Tepi Barat. Foto oleh JAAFAR ASHTIYEH/AFP/Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Peperangan bersenjata sesungguhnya sudah ketinggalan zaman. Dulu perang hanya dimaknai sebagai dua pihak, entah untuk alasan politik atau teritorial, mengadu kekuatan hingga salah satu muncul sebagai pemenang. Si pemenang bisa memaksakan kehendak politik terhadap yang kalah, dan perdamaian—apapun bentuknya itu—kembali terbentuk.

Cara perang dilakukan karenanya rutin berevolusi akibat perkembangan teknologi. Dari analisis jurnalis David Patrikarakos, kebangkitan media sosial memaksa kita untuk mendefinisikan ulang makna kata perang itu sendiri.

Narasi atas peristiwa, alih-alih kekuatan militer, sekarang harus dianggap serius sebagai tolak ukur apakah salah satu pihak menang atau kalah perang. Patrikarakos mendalami isu media sosial sebagai alat tempur dalam buku barunya, War in 140 Characters: How Social Media is Reshaping Conflict in the Twenty-First Century. Buku tersebut menyajikan laporannya dari berbagai garis depan pertempuran Abad 21. Baru-baru ini saya ngobrol dengan Patrikarakos tentang buku barunya ini, mencari tahu apa yang dia maksud dengan pertempuran riil lewat media sosial. Apakah hanya metafora atau memang konsep peperangan sudah sepenuhnya berubah sekarang.

MOTHERBOARD: Apa yang mendorongmu menulis buku ini?
David Patrikarakos: Ide dasarnya muncul setelah saya meliput perang Rusia-Ukraina sepanjang kurun 2014-2015. Saya menghabiskan delapan bulan tinggal di perbatasan negara yang berkonflik tersebut.

Saya sudah pernah meliput elemen perang di Kongo pada 2010. Hanya ada jeda empat tahun sebelum liputan lagi, tapi rasanya seakan saya meliput perang dari abad yang berbeda. Peran media sosial belum tampak di Kongo. Sementara di Ukraina, perannya sangat besar.

Kamu berargumen media sosial telah mengubah pemahaman manusia tentang perang di masa modern. Kok bisa? Itu cuma kiasan atau sungguh-sungguh terjadi?
Carl von Clausewitz mengatakan perang adalah politik yang dilakukan lewat cara lain. Sementara sekarang kita justru melihat politik narasi yang dipersenjatai. Ini buruk, karena politik tidak akan pernah berhenti. Dulu operasi propaganda media hanya muncul demi mendukung operasi militer di lapangan. Sekarang kita berada dalam situasi dimana operasi militer lapangan justru diciptakan demi mendukung operasi propaganda lewat internet.

"Siapapun sekarang tidak bisa berperang tanpa menggunakan media sosial. Kalau kita mengabaikan sosmed, bisa dipastikan pihakmu tidak akan menang perang."

Contoh yang selalu saya ajukan sebagai bukti adalah jalannya konflik antara Rusia-Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin tidak memiliki niat mengalahkan Ukraina secara riil di medan tempur, yang sebetulnya bisa dengan mudah dilakukan militer Rusia. Dia sekadar mengirim pasukannya ke Ukraina Timur untuk menciptakan ruang propaganda tanpa saringan, terutama cerita bila pemerintahan Ukraina di Ibu Kota Kyiv adalah junta militer fasis yang berniat mengeksekusi warga etnik Rusia. Tujuan akhir dari propaganda tersebut adalah membuat orang mempercayai narasi tertentu. Propaganda medsos yang massif itu tentu bentuk tindakan politik yang dalam literatur perang masa lampau akan dianggap sebagai strategi militer.

Saya perhatikan, di bermacam konflik, tidak ada lagi gairah salah satu pihak untuk menang dari sisi militer. Terutama ketika niatmu berperang murni atas motif politik. Menjadikan kemenangan narasi medsos sebagai tujuan akhir belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah manusia.

Contoh lainnya adalah militer Israel yang menang melawan pejuang Hamas di lapangan, tapi kalah dalam perang. Ini merupakan perbenturan narasi; Israel mengatakan ‘Kami adalah negara demokrasi yang sedang dikepung teroris,’ sementara Hamas mengatakan ‘kami adalah orang tertindas di tanah airnya sendiri yang sedang diserang penjajah kuat.’ Kedua narasi ini beradu di medsos. Hasilnya Israel kalah dalam menggiring opini publik internasional.

Dalam bukumu, teori tadi dicontohkan cerita remaja Jalur Gaza, Farah Baker yang ngetweet ketika pengeboman Israel sedang terjadi, melawan propaganda media sosial Tentara Israel.
Warga Israel sebenarnya yang memulai tren ini. Kini Inggris dan AS tengah melakukan hal serupa. Kamu tidak bisa berperang tanpa menggunakan media sosial sekarang. Kalau kamu mengabaikan sosmed, kamu tidak mungkin menang. Bedanya, narasi Farah akan selalu lebih kuat karena dia menderita dan dia masih anak-anak. Militer Israel tidak akan bisa mengalahkannya dengan cara apapun. Mereka tidak akan bisa membenarkan kematian anak-anak dalam pertempuran. Ini sesuai pepatah kuno jurnalisme: siapa yang berdarah, akan memimpin. Israel nyatanya tidak berdarah karena unggul di darat, laut, maupun udara sementara warga Palestina hanya melawan dengan lemparan batu. Selama Israel tidak berdarah, mereka tidak akan menang.

Lantas, siapa sebetulnya yang diuntungkan oleh perang penting media sosial di peperangan?
Yang tidak bisa dibantah adalah kekuatan berpindah tangan dari institusi seperti pemerintah dan perusahaan media besar, beralaih ke individu dan jaringan sipil. Manusia telah menjadi homo digitalis. Artinya abad ini menyaksikan munculnya pemberdayaan individu. Setiap manusia terjaring dan terhubung secara global, dan yang kamu butuhkan hanyalah sebuah smartphone. Dalam artian itu, rakyat sipil seharusnya diuntungkan. Tapi tidak otomatis seperti itu sih. Sempat muncul narasi tentang utopia dunia cyber—berikan manusia akses ke internet, dan dia akan terbebas—tapi sayangnya realita tidak seperti ini. Alat yang sama akan digunakan oleh pihak penindas dan juga yang ditindas. Sejarah media sosial merupakan cerita tentang pasang surutnya harapan. Tergantung si manusia sendiri untuk memanfaatkan alat tempur baru bernama media sosial.

Kamu menulis kalau manusia sebentar lagi menghadapi prospek perang skala besar baru setelah 1945. Apa alasannya?
Kita berada dalam periode stabilitas politik dunia sedang menurun. Ada banyak upaya pendiskreditan sistematis terhadap institusi-institusi besar dunia sejak memasuki Abad 21. Semua pihak, mulai dari lembaga finansial, keamanan, politik, hingga media telah dianggap gagal oleh beberapa pihak. Ditambah lagi kehadiran teknologi seperti sekarang, maka terbentuklah badai yang sempurna untuk memancing munculnya konflik.

Konflik yang saya maksud tidak akan menjadi perang dalam artian tradisional. Sekarang pun sebenarnya sudah terjadi, ketika kita melihat bagaimana pemerintah Tiongkok sewenang-wenang di Lautan Cina Selatan tapi tidak mendapat sorotan negatif lewat medsos, atau bagaimana Rusia membuat banyak orang marah tapi tidak pernah dianggap negara tiran. Ada peluang setelah semua propaganda ini usai, banyak pemerintah terjebak dalam retorika sendiri dan dipaksa melakukan sesuatu yang mereka tidak ingin lakukan apabila tidak ingin terlihat bodoh. Jadi, perang di era medsos adalah desain propaganda untuk membuat rakyat marah menggulingkan pemerintahnya sendiri. Tanpa perlu repot-repot mengirim bala tentara.

Kemarahan massa seperti ini bisa diternakkan di medsos. Kalau skenarionya berhasil, nantinya masyarakat akan menuntut tanggung jawab pemimpin. Kalau kamu sebagai pemimpin tidak melakukan apa-apa, posisimu akan terancam.

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.