Musik

JKT48 Sanggup Mengubah Anak Skena Punk Jadi Fans Garis Keras J-Pop

Idol grup waralaba dari Jepang itu terus bertahan setelah debut perdana nyaris tujuh tahun lalu. Malah JKT48 sanggup mengubah siapapun jadi penggemar, melebihi fandom lainnya. Ini pengakuan salah satu wota dari kancah punk kepada VICE.

oleh Abdul Manan Rasudi Dan Syarafina Vidyadhana
27 Januari 2018, 12:30am

Semua foto oleh VICE staff

Sekilas mustahil, tapi nyatanya kami harus mengakuinya: idol grup waralaba dari Jepang yang dirancang komersial banget, dapat memiliki aura punk.

Mari berandai-andai kalian punya semacam superkomputer pencipta segala macam jenis musik, lalu kamu memasukkan segala macam referensi album dari band sejenis the Germs, Black Flag, serta Discharge, dan minta mesin canggih tersebut menyebutkan lawan dari semua band-band tersebut. Hasilnya sangat mungkin sesuatu yang mirip grup Japanese Idol bakal muncul sebagai jawabannya. J-pop adalah definisi sejati musik komersil. Subgenre pop asal jepang ini rata-rata sepenuhnya diproduksi oleh korporasi dengan satu tujuan: mengeruk duit lewat dari segala macam kanal pendapat dari tiket konser, penjualan album, lisensi TV hingga gelaran meet-and-greet bersama penggemar. Kemampuan J-pop mengubah tiap lagu hit menjadi mesin penghasil uang sangat luar biasa sampai-sampai ketika grup Idol Jepang meneken deal dengan produk air vitamin, sebuah perusahaan headphone agak sedikit keki. Kalau kita ingin melihat etos macam ini dibawa ke tingkat yang lebih ekstrem, kalian cukup menyimak video, lagu atau segala macam tetek benget berbau AKB48.

AKB48 adalah industri yang besar. Grup band perempuan ini—beranggotan 140 siswi sekolah Jepang—lahir di kawasan Otaku tersohor, Akihabara, sebuah kawasan di Jepang yang jadi gudang produk elektronik, manga, game dan pornografi. Idol group perempuan lantas dengan cepat memicu munculnya fanbase fanatik—manyoritas lelaki setengah baya—dan menyebar ke seluruh Jepang dan manca negara. Franchise idol grup kemudian bermunculan di Taipei, Shanghai dan Mumbai. Namun, “Sister Group” internasional pertama mereka justru lahir di Indonesia, JKT48—yang rajin menggelar konser di teater FX, salah satu mall mentereng di Jakarta.

Muhammad Omar Azis sudah menginjakkan kaki di teater lebih dari 140 kali. Azis jelaslah masuk kategori fans garis keras JKT48. Namanya juga penggemar, pria yang usianya hampir menyentuh kepala tiga ini telaten mengumpulkan zine dan foto-foto idol favoritnya di JKT48. Tak cuma itu, Azis juga tak segan-segan merogoh kocek guna menghadiri acara meet-and-greet JKT48 yang dikenal dengan nama Handshake Event. Harga tiket acara ini tergolong mahal. Bayangkan, cuma untuk ngobrol dengan idol pujaannya selama 10 detik, penonton diharuskan membayar tiket Rp 40.000. Lebih dari itu, Azis adalah anggota salah satu kawasan kecil dalam lingkaran penggemar JKT48, yakni yang berasal dari kancah punk Indonesia.

Azis sedang berlatih di studio bersama band-nya Failing Forward.

Lantas pertanyaannya, apa yang membuat penggemar punk—sebuah genre musik yang sangat beragam dan dibangun di atas etos do-it-yourself—tertarik menyelami salah satu jenis musik paling komersil di muka bumi? Jangan-jangan musik JKT48 yang enggak punk banget malah sebenarnya lebih punk dari musik apapun? Azis adalah salah satu orang yang berpikir demikian. JKT48, baginya, justru punk as fuck!

“Ada kemiripan narasi di skena punk dan di JKT48: yaitu narasi underdog yang berusaha keras lalu sukses,” kata Azis.

Azis bercerita pada VICE, suatu kali dirinya pernah melihat pertunjukan JKT48 tanpa backing track. Biasanya, anggota JKT48 melakukan lip-sync di konser-konser mereka. Cuma, hari itu Azis beroleh karunia mendengarkan suara asli gadis-gadis anggota JKT48. Apa mau dikata, Azis hari itu menyaksikan idol-idol tak bernyanyi dengan becus. Namun, bukannya keki karena sudah mengeluarkan uang, Azis merasa kedekatannya dengan gadis-gadis itu makin kuat. Dia merasa seperti berbagi sebuah momen—terlepas dari segala ketidaksempurnaannya—terasa lebih intim dan nyata dari yang biasanya disaksikan oleh penggemar JKT48.

Saat itulah, Azis menyadari bahwa gadis-gadis ini—yang biasanya manggung lebih rapih di panggung—masih dalam proses belajar. Anggota JKT48 jelaslah seorang bintang, namun mereka bintang dengan huruf “b” kecil.

“Gue merasa nyambung [dengan JKT48],” ujarnya.


Tonton juga: dokumenter VICE soal para fans JKT48 dari kancah punk


Namun, setulus apapun hubungan idol dangan para penggemar, tetap saja itu hanyalah settingan belaka. AKB48 serta segala turunannya diciptakan sebagai “idols you can meet.” Anggota idol group dirancang untuk tak berjarak dengan penggemarnya. Tipisnya batas antara idol dan penggemar—atau setidaknya dikesankan demikian—inilah yang menjadi penyebab kenapa kebanyakan fans idol group adalah pria setengah baya. Masalahnya, pria-pria paruh baya ini kadang punya “rasa sayang” agak bikin merinding.

Azis jauh lebih muda dari demografi penggemar JKT48 macam ini. Meski demikian, kenyataan ini kadang bikin bergidik. Azis, seperti kawan-kawannya, juga punya gacoan. Namanya Elizabeth Frederik, atau dikenal dengan nama Vanka oleh penggemarnya. Namun, kepada VICE, Azis mengaku hubungannya dengan Vanka serupa hubungan adik-kakak, yang cuma bersifat satu arah tentunya. Azis mengoleksi zine-zine fotokopi dan kerap bertukar foto Vanka serta mendatangi acara handshake kapanpun dia mau. Demi menjabat tangan Vanka dan ngobrol barang beberapa menit, Azis rela merogoh dalam-dalam koceknya.

"Secara fisik dan emosional, mereka cuma bisa kenal lewat salaman," kata Azis, "dan kita cuma bisa tahu kehidupan mereka lewat cuma bisa tahu lewat penampilan di teater dan media sosial.”

Azis sedang melakoni sesi salaman bersama Kinal di Jakarta.

Fans idol group memanggil anggota kesayangan mereka memakai sebutan “oshi,” kependekan dari “oshimen,”—gabungan dari kata “oshi” yang berarti dukungan dan “menba” yang berarti “member.” Kultur oshimen tak terbatas pada punya musisi kesayangan. Oshimen masih serumpun dengan fandom garis keras. Dalam hal ini, penggemar tak ragu memberikan dukungan dukungan dan aliran dana tanpa putus.

Tentu saja skema relasi penggemar-musisi macam ini punya masalahnya tersendiri. Kadang seorang fans tajir akan membeli semua durasi yang tersedia untuk satu idol agar bisa ngobrol lama-lama dengan gadis pujaannya di event handshake. “Dengan cara ini, dia bisa nongkrong seharian di booth oshinya. Sementara, yang lain enggak bisa ketemu oshinya.”

Kultur dan fanatisme berlebih pada akhirnya punya konsekuensi yang bikin merinding. Di Jepang, dua anggota AKB48 ditebas dengan gergaji dalam acara handshake mereka di Takizawa City pada 2015, oleh pengangguran yang terlanjur stress lantaran tak kunjung dapat pekerjaan.

Selain itu, hampir tak ada yang bisa mengerem perilaku penggemar yang kelewat posesif terhadap oshi mereka. Ada semacam peraturan yang melarang anggota AKB48 memiliki pacar. Pasalnya, jika seorang idol memiliki pacar, maka daya jualnya bagi penonton pria bakal turun drastis. Misalnya, saat Minami Minegishi, salah satu anggota AKB48 yang paling tersohor, kedapatan keluar dari apartemen seorang pemuda. Insiden ini memicu skandal besar dalam kancah J-pop. Minami akhir menggunduli kepalanya dan meminta maaf sambil terisak kepada para penggemar melalui sebuah video yang diunggah secara online. Dua idol lain dari salah satu sister groul AKB48 dipecat gara-gara kepergok pacaran. Fenomena yang sama dijumpai di Indonesia. Angota JKT48 Vienny Fitrilya, alias Vinny, harus minta maaf kepada fansnya setelah ada yang menuduhnya memiliki pacar.

“Karena fans ini sudah mendukung banget, mereka jadi merasa berhak ngatur-ngatur si idol,” ungkap Azis pada VICE. “Misalnya, waktu ada dugaan bahwa Vinny pacaran, banyak fans dia yang ngatain dia pecun.”

"[Tapi kemudian] pas Viny minta maaf ke fans, gue sedih banget. Pertama karena gue percaya dia enggak bersalah dan kedua lantaran beberapa fans memanfaatkan insiden tersebut buat mencacimaki Viny. Gampangnya, mereka marah bukan karena Viny “melanggar” perjanjian tapi karena mereka enggak bisa macarin Viny. Rencananya, gue bakal ngomong gini begitu saya dapat MVP 200. Tapi mendingan [sama VICE], biar kerekam.”

Selain menjadi fans fanatik Vanka, Azis aktif dalam skena punk Jakarta. Dia menyanyi untuk band pop-punk Failing Forward serta menghadiri gig-gig punk di beragam venue DIY dan bar-bar Jakarta. Bagi Azis, ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari kancah idol. Jika fans bersedia menghamburkan uang yang akhirnya bakal parkir di rekening bank sebuah korporasi besar, tak ada alasan untuk ogah melakukan hal serupa bagi skena independen Indonesia.

“Fans JKT48, seperti fandom idol lainnya di Korea maupun Jepang, lebih militan dalam ngabisin duit buat ngedukung idola mereka,” ujarnya pada VICE. “Ini bikin gue jadi rela ngeluarin duit lebih di skena punk. Masa ngedukung yang korporat aja mau, tapi temen sendiri dan yang indie enggak?”

Hanya saja, bagi beberapa orang lainnya, gula-gula group idol Jepang ada batasnya. Try Budi, mantan penggemar JKT48 (Budi memilih Viny sebagai oshi-nya), meninggalkan fandom JKT48 setelah tak kunjung mendapatkan yang dia cari. Budi dalam kehidupan sehari-hari adalah pelahap lagu-lagu extreme metal dari band-band macam Darkthrone, Sargeist, dan Judas Iscariot. Akan tetapi, J-Pop punya satu sisi yang bikin dirinya kecantol. Kepada VICE, Budi mengakui sebagai penggemar yang jarang menyambangi teater JKT48. Di matanya, apa yang tersaji di teater terlalu mengikuti skenario tertentu.

Budi sebaliknya lebih sering mendatangi show-show JKT48 di luar kadangnya, mencari versi sejati dari anggota JKT48. “Kalau teater kan gue cuma ngejar satu set pertunjukan,” katanya. “Yang penting asal nonton. Abis itu udah.” Sayangnya, mau di dalam atau di luar teater, semuanya terasa terlalu palsu atau amatiran.

“Ada kekecewaan utama sih,” sergah Budi, “JKT48 enggak punya single original!”

Budi kini sudah menggusur photo pack JKT48 dan gambar-gambar biduan J-pop kesayangannya untuk merayakan tren pop yang lebih kekinian—Korean Wave. Belakangan, Profil Picture Facebooknya kini memacak foto-foto biduan Korea macam Binnie, anggota Oh My Girl, dan Hani, member EXID.

"Gue liat di idol group jepang ada budaya negatifnya budaya gravure. Di K-Pop itu enggak ada.”