Iklan
Tarot

Ngobrol Bareng Satu-Satunya Grand Master Tarot Lokal, Menerka Nasib Indonesia

Bagi Hisyam A. Fachri, tarot bukan sekadar perkara meramal nasib apalagi mistis-mistisan. Ditambah pemahaman psikologi, Hisyam membuat seni tarot diterima khalayak yang lebih luas.

oleh Titah AW; foto oleh Umar Wicaksono
25 Januari 2018, 6:41am

Kartu Tarot Nusantara hasil kolaborasi Hisyam A. Fachri dan ilustrator Sweta Kartika. Semua foto oleh Umar Wicaksono.

Bapak yang duduk di depan saya meruntuhkan bayangan soal penampilan pembaca kartu tarot. Saya mengira semua pembaca tarot berpenampilan serba gothic, ke mana-mana memakai pakaian serba hitam, atau jemarinya berhiaskan batu akik ragam ukuran yang kilaunya pudar dimakan usia. Hisyam A Fachri sama sekali tak tampak seperti itu.

Saat kami bertemu di satu hotel di daerah Mangkubumi, Yogyakarta, awal Januari lalu, ia mengenakan celana katun hitam dan kemeja putih dengan motif bintik hitam. Penampilan Hisyam—dinobatkan sebagai satu-satunya grand master tarot di Indonesia yang masih hidup ini—tak ubahnya lelaki paruh baya pada umumnya.

“Kalau rambut gondrong, pakai pakaian hitam, kembang, dupa itu kan sebenernya permainan gimmick,” kata Hisyam yang tahun ini berusia 53 tahun. Saat saya temui, dia baru saja menjadi pemateri seminar telephatic marketing yang digelar untuk mempertajam kemampuan pemasaran karyawan salah satu bank nasional di Indonesia. “Enggak nyangka ya pekerja profesional gitu masih datang ke saya latihan mind power kayak gini?” katanya sebelum tertawa-tawa kecil.

1516780435579-tarot-2-lede

Hisyam mendapatkan gelar grand master dari The Tarot Certification Board of America pada 2009. Agar bisa disebut grand master, tiap pembaca Tarot harus membuat kartu sendiri, punya buku tentang tarot yang telah diterbitkan, mengelola komunitas, dan mendirikan asosiasi tarot berbadan hukum. Untuk saat ini, di Indonesia hanya ada Hisyam yang sudah memenuhi semua persyaratan. Sebelum itu, ada Ani Sekarningsih. Seorang antropolog yang membuat dan merilis Tarot Wayang pada 2002. Ani meninggal tiga tahun lalu.

Kartu Tarot versi Hisyam ia beri nama Tarot Nusantara, dibuat berdasarkan hasil riset panjang selama kurang lebih tiga tahun. Ia mengadopsi kartu versi Raider Waite, membongkar polanya lalu menyelaraskannya dengan simbol-simbol yang ada di suku Jawa, Dayak, Toraja, Sentani, dan Bali. “Masak iya saya baca tarot untuk orang Indonesia tapi pakai simbol dari budaya luar semua? Bisa sih, tapi nggak dapat soul-nya. Misalnya untuk kartu “Setan”, kita kan punya setan sendiri Leak itu, kenapa harus pakai setan dari luar negeri,” kata Hisyam sambil mulai mengocok kartu yang ia pegang.

Hisyam menggandeng Sweta Kartika, seorang ilustrator muda asal Bandung untuk menggarap aspek visual Tarot Nusantara. Hasilnya, 78 buah kartu didominasi figur ramping ala pewayangan Indonesia dalam balutan simbol berbagai suku di Indonesia. Mengikuti kartu Rider Waite, ada 22 kartu Mayor Arcana, dan 4 kelompok Minor Arcana yang masing-masing berjumlah 14 kartu. Warna-warna kalem Tarot Nusantara juga merupakan hasil pertimbangan psikologis yang matang.

1516780472393-tarot-3-lede

Kartu Tarot Nusantara bikinan Hisyam sudah sampai ke pasar Internasional. “Semalam baru ada orang Rusia yang beli,” ujarnya bangga. Kartu Tarot Nusantara ini ia produksi dalam dua tipe berdasar kualitas kertas, yang biasa dan yang premium untuk ekspor. Kartu Tarot Nusantara pertama kali dirilis tahun 2009 bersamaan dengan buku pertama Hisyam, The Real Art of Tarot.

Di Indonesia, praktik membaca kartu tarot masih kerap diasosiakan sebagai ritual mistik yang melibatkan kekuatan supranatural. Jadinya orang mengharapkan ramalan atau solusi dari masalah pribadi tiap bertemu pembaca Tarot. “Tapi enggak apa-apa kalau masih dianggap mistik, justru makin mudah bagi saya untuk membaca orang itu karena di kepalanya dia udah punya frame gitu."

Menurut Hisyam, orang Indonesia menyimpan memori budaya kolektif animisme-dinamisme yang masih tertanam kuat. Barangkali itulah mengapa orang Indonesia selalu punya relasi yang dekat dengan hal-hal mistis, tak peduli seberapa mencoba modernnya ia. Sejak awal obrolan, ia sudah mewanti-wanti, “Silakan kalau mau bicara tarot sebagai mistik, tapi frame saya adalah psikologi. Saya jangan digiring jadi seorang cenayang ya,” katanya.

Hisyam meminta saya mengambil tiga buah kartu. Ia hendak ‘membaca’ kepribadian saya melalui kartu tarot. Sambil menyelam minum air, kapan lagi dianalisis langsung grand master tarot. Saya ambil tiga dari tumpukan kartu yang disodorkan Hisyam. Yang keluar kartu Mayor Arcana, “Bintang”, “Matahari”, dan “Sang Pecinta”.

Ia lalu bercerita saat ini saya sedang berada antara dua pilihan hidup yang besar, karena figur di kartu “Bintang” memegang dua cangkir dan berada di persimpangan laut-darat. Lalu jika saya bisa memilih satu saja secara mantap, maka “Bintang” akan berubah jadi “Matahari.”


Tonton dokumenter VICE mendatangi kontes kencantikan unta yang heboh di Timur Tengah:


Artinya tahun ini saya punya potensi untuk sukses besar. Setelah itu kartu “Sang Pencinta” sebagai akhir berbicara soal keintiman relasi saya dengan orang lain. Menurutnya, setelah berjuang, saya akan bertemu "seseorang"; artinya bisa calon sahabat sejati, keluarga, atau dalam hati sih saya sempat ge'er bahwa tahun ini saya akan dapat pacar.

Yang jelas, ternyata kunci teknik membaca kartu tarot adalah interpretasi simbol, kemampuan bercerita, dan kepekaan terhadap subyek yang dibaca. Yang dibaca pun tidak cuma simbol yang keluar, tapi pola sebaran kartu selama proses berlangsung. “Satu kartu itu bisa diinterpretasikan 1.000-2.000 kali, tergantung kitanya saja," kata Hisyam. Selain tarot dan hipnosis, ia juga melakukan telekinetik, psikoanalisa, transpersonal, fisiognomi (membaca mimik wajah), bahkan sampai regresi kehidupan masa lalu untuk memperbaiki peruntungan.

Berkat latar pendidikan S1-nya di bidang psikologi, Hisyam memperlakukan kartu tarot layaknya alat diagnosis penyakit ketika kita pergi periksa kesehatan ke dokter. “Dipetakan dulu pakai tarot orang ini masalahnya di mana, sisanya ya enggak pakai tarot. Tapi sudah pakai ilmu psikologi lainnya, makanya pembaca tarot harusnya paham gimana jadi terapis atau psikolog juga,” ungkapnya. Masalahnya tak semua pembaca tarot mendalami ilmu psikologi sebagaimana Hisyam. Cara kerja kartu tarot ini sebenarnya lebih seperti alat proyektor. Kita memilih kartu dengan insting, yang dihubungkan dengan teori sinkronisitas. Lewat teori ini, kita harus percaya bahwa kartu yang muncul memproyeksikan diri kita yang sebenarnya, lapisan bawah sadar yang muncul lewat simbol, lapisan bayang-bayang persona kita.

1516780546295-tarot-5

Kartu tarot ini, kata Hisyam, sebenarnya rangkuman teori psikologi klasik milik Carl Gustav Jung (1875-1982). CG Jung dulunya adalah pengikut teori psikoanalisa Sigmund Freud yang kemudian mengembangkan lagi konsep tersebut. Beberapa konsep utama CG Jung yang diaplikasikan di kartu tarot adalah ketidaksadaran kolektif, archetype, semiotika, dan synchronicity.

Teori ketidaksadaran kolektif ini memuat nilai, gagasan, atau kebijaksanaan yang bersifat universal, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sedangkan arketip adalah simbolisasi yang muncul. Simbol-simbol ini adalah esensi murni dari sifat primordial manusia yang bukan berasal dari pengalaman pribadi. Artinya lewat arketip, kita semua seluruh umat manusia terhubung dalam satu situasi bawah sadar yang sama. Sedangkan sinkronisitas adalah konsep kebetulan-yang-bukan-kebetulan, artinya kemunculan simbol lewat kartu itu didasari insting kita yang seolah adalah panduan untuk langkah selanjutnya.

Soal apakah tarot itu mistis atau bukan, jawabannya agak klise, namun kuncinya ada pada persepsi masing-masing orang yang terlibat. Hisyam menggolongkan tarot sebagai ilmu pseudoscience-psychology. Alasannya konsep soal sinkronisitas dan psikologi transpersonal belum banyak punya bukti empiris. Juga karena soal tarot kerap sangat berkaitan dengan soal jiwa, mental, dan rasa seseorang.

Tak seperti beberapa pembaca tarot yang mengaku punya bakat meramal, Hisyam memulai perjalanannya dari bidang ilmiah. Dengan pemahaman dan kemampuannya menjelaskan secara ilmiah ini, praktek kartu tarot Hisyam bisa diterima di berbagai kalangan, seperti praktisi psikologi, industri, sampai akademisi. “Semuanya ada di pikiran sini nih,” ujarnya menunjuk kepalanya.

Tentu saja mumpung bertemu dengan sang master, saya bertanya soal apa yang akan terjadi dengan Indonesia di tahun 2018. Ia menghela nafas, membenarkan posisi duduknya sedikit, lalu mengambil tiga kartu secara berturut-turut. Kartu yang keluar adalah “Sang Raja”, “Kereta Perang”, dan “Ahli Tafsir Agama”.

Lalu Hisyam bercerita yang kurang lebih intinya seperti ini: “Kartu raja ini berarti dunia keangkuhan, kekuasaan, massa, bisa dibilang mungkin akan jadi tahun politik. Banyak ‘raja’ akan lengser, tapi akan diimbangi dengan naiknya beberapa ‘raja’ yang baik. Nah dalam prosesnya, dua kuda ini simbol persaingan, dan tarik ulur, jadi bisa jadi akan banyak konflik yang sumbernya sebenarnya kepentingan segelintir orang saja. Di akhir, ahli tafsir ini menunjukkan orang yang bervisi kuat, dia akan selamat. Tapi hati-hati, dua orang di bawah ini bisa diartikan sebagai penjilat yang terus mepet sang ‘raja’. Jadi ya, agak ngeri sih, semoga semua baik-baik saja ya.”

Saya manggut-manggut di depannya, sambil berusaha mengaitkan uraian barusan dengan berita-berita nasional yang akhir-akhir ini muncul dan hal lain. Menurutnya, apa yang sering disebut dengan ramalan itu sebenarnya lebih seperti proses sebab-akibat pikiran bawah sadar seseorang. Realitas yang terjadi tetap tergantung si orang itu sendiri.

“Tarot tidak berbicara soal besok kamu jadi apa, tapi kamu punya potensi besok jadi apa. Dia tidak memberi pencerahan praktis yang spesifik, tapi selalu bermain di area probabilitas. Jika anda percaya, itu bisa jadi nyata.“