Sepakbola

Penjual Furnitur Asal Belanda Ini Mengungkap Kekacauan Sepakbola Indonesia

Inilah pengakuan lengkap Kristian Adelmund kepada VICE, mengenai pengalamannya merumput bersama Persela hingga PSS Sleman. Spermanya pernah ditawar perempuan Rp1,6 miliar.

oleh Kristian Adelmund; seperti diceritakan pada Dave Aalbers
01 Februari 2018, 11:41am

Semua foto oleh Willem de Kam.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports Netherlands.

Kristian Adelmund sempat bermain di timnas sepakbola Belanda bersama pemain macam Royston Drenthe, Gianni Zuiverloon, dan Tim Vincken. Pesepakbola yang bermain di posisi bek ini juga memiliki kehidupan kedua yang tidak kalah gemerlap, tepatnya saat dia sempat dinobatkan para suporter PSS Sleman sebagai dewa sepakbola.

Adelmund, 30 tahun, memang sempat tenar di Indonesia. Pesepakbola asal Belanda tersebut mengaku ke VICE Sports Netherlands banyak perempuan rela memasak. Satu perempuan bahkan menawarkan uang bernilai sangat besar hanya untuk ditukar sebotol cairan spermanya. Sayangnya, sepak terjang Adelmund di Indonesia harus berakhir karena ayahnya sakit, memaksanya kembali pulang kampung. Kini, di Belanda, dia mengelola toko furnitur. Namun apabila memungkinkan, sesungguhnya Adelmund ingin cepat-cepat kembali bermain sepakbola di Indonesia lagi. Setidaknya itulah pengakuannya kepada VICE Sports.

Dave Aalbers, dari VICE Sports Netherlands, ngobrol panjang bersama Adelmund tentang suka dukanya bermain di kompetisi teratas sepakbola Indonesia. Berikut kisahnya.

“Kehidupan di Belanda terasa sangat membosankan setelah apa yang saya alami di Indonesia. Saya tidak pernah sebahagia itu. Begitu pesawat terbang menapakkan rodanya di tanah Indonesia, hati saya mulai berdebar lebih kencang.

Saya orang yang sangat impulsif, jadi mungkin saja saya pamit ke semua orang dan pergi sekarang juga. Satu-satunya yang menahan saya di sini adalah ayah yang sakit. Saya masih mendapat pesan setiap harinya, pesan macam ‘Ayu pulang Adelmund! Kami kangen!’ Di Indonesia, pendapatan saya lumayan. Saya bisa hidup layaknya seorang dewa yang dipuja-puja. Rasanya buang-buang waktu tinggal di Belanda sekarang seperti ini. Saya sering berpikir: kenapa juga saya masih di sini?

Saya memulai karir di tim yunior Feyenoord. Sayangnya lutut saya selalu bermasalah. Mereka mengirim saya ke tim lain, dan saya direkrut Sparta Rotterdam. Di Sparta, saya bersikap buruk dan sering berulah. Saya sibuk mengejar perempuan. Merokok dan minum-minum. Ya begitulah. Saya sering sekali berdiri di bar menenggak alkohol dibanding latihan.

Pemain lain seangkatan saya banyak yang dikontrak klub Eredivisie. Saya tidak. Sparta akhirnya menyadari kecintaan saya akan olahraga, tapi di saat itu, saya tengah bergulat dengan cedera pergelangan kaki yang parah dan mereka memutus kontrak. Kemudian lewat VV SHO, saya berakhir di kelas puncak VV Capelle. Lalu mendadak saya mendapat telepon dari Lorenzo Rimkus, kenalan sesama pemain muda Sparta. Dia dikontak seorang agen dari Indonesia yang sedang mencari tiga pemain Belanda untuk membela PSIM Yogyakarta. Saya tidak berpikir dua kali. Dalam hitungan hari, saya sudah berada di dalam pesawat menuju Indonesia.

Ada penggemar menunggu saya di bandara. Di Belanda, saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang atlet biasa. Tapi di Indonesia, saya langsung diperlakukan seperti pahlawan. Saya diantar ke sebuah hotel bagus dan langsung diberikan segepok uang. Salah satu pertandingan pertama saya adalah pertandingan tandang di Sumatra. Kami harus terbang selama dua setengah jam kemudian diantar oleh sebuah minibus selama sepuluh jam melalui daerah pegunungan yang gelap total. Supirnya gila; nekat banget. Dia menyetir sangat cepat dan itu berbahaya. Banyak bagian jalan bahkan tidak memiliki pagar pembatas dan jurangnya berjarak hitungan sentimeter dari bis. Semua rekan tim tidur dengan damai, tapi saya melek selama sepuluh jam, terbelalak menatap keadaan jalan.

Kami harus berlatih di atas lapangan yang nantinya juga digunakan untuk pertandingan. Masih banyak makanan sapi tercecer di lapangan. Setelah latihan selesai, saya bebas berjalan-jalan di desa. Lalu, tiba-tiba, saya dipaksa mampir ke pernikahan orang yang tidak saya kenal. Mereka menarik saya ke atas panggung, memberikan saya sepiring penuh makanan. Saya tidak melakukan apa-apa, tapi semua orang mengambil foto saya.

Ketika kembali ke hotel, saya baru sadar bahwa saya seharusnya tidak berkeliaran di luar. Ada yang mengatakan bahwa saya bisa saja diculik oleh kawanan teroris di gunung. Di malam yang sama, ruangan saya mulai bergetar akibat gempa bumi. Ini terjadi di liburan Natal, masa di mana kamu seharusnya bersama dengan keluarga. Waduh, keputusan saya pindah kesini bener gak ya?

Kemudian, satu hari, aliran uang berhenti masuk. Lantas saya terbang kembali ke Belanda. Saya pikir pengalaman saya di Indonesia sudah selesai. Tapi kemudian saya mendapat tawaran lain, dari Madura United. Mereka membayar setengah gaji saya di muka. Saya langsung kembali ke Indonesia.


Baca juga respons PSSI terhadap tuduhan Adelmund:

Ketika tiba di sana, ternyata Madura United mencari posisi nomor 10 alias playmaker. Posisi saya bek tengah. Agen yang mengurus kedatangan saya memiliki perjanjian dengan pelatih baru tim. Si pelatih dapet persenan dari biaya transfer saya.

Kayaknya gak ngaruh deh kalopun saya seorang kiper. Mereka akan tetap menaruh saya sebagai gelandang penyerang. Akhirnya, saya menjadi semacam sayap kanan dan ternyata hasilnya gak jelek-jelek amat. Dalam setengah musim, saya mencetak lima gol dan sepuluh assist.

Semuanya berjalan lancar dan supporter tim sangat menghargai saya. Kemudian, gak ada angin, gak ada hujan, saya kembali didepak. Beginilah cara kerjanya. Para pelatih akan terus mendatangkan pemain baru guna mendapat persentase gaji pemain. Mungkin sekarang situasinya sudah mendingan, tapi korupsi tetap menjadi masalah besar dalam dunia sepakbola Indonesia.

Suatu waktu saya menyaksikan pemilik klub lawan—yang suka membawa pistol kemana-mana—masuk ke dalam ruang loker wasit. Ini bukan lagi kejutan. Paling tidak di Indonesia. Untungnya, saya langsung direkrut oleh PSS Sleman. Begitu saya menginjakkan kaki ke stadium mereka, saya tahu bahwa saya ingin bermain di sana. Ada 35.000 penonton yang terorganisasi. Mereka semua meloncat-loncat, menari dan bernyanyi. Saya menandatangani kontrak hari itu dan tidak pernah menyesalinya. Saya memiliki hubungan yang akrab dengan penggemar di sana dan memiliki ritual yang indah bersama.

Suatu hari, setelah pertandingan, seorang jurnalis menyerahkan GoPro kepada saya dan ia mengatakan ‘bersenang-senanglah dengan penonton.’ Saya berpikir ‘harus melakukan apa, nih?’ saat saya berjalan menuju tempat duduk penonton. Saya memutar lagu ‘I can’t stop falling in love with you’ dan fans pun ikut bernyanyi. Saya merinding setiap menonton video itu.

Sebagian besar orang Indonesia memuji-muji pemain sepak bola. Pastinya banyak wanita yang ingin memasak makanan untuk saya setelah latihan kami selesai. Mereka akan mengajak saya berkencan, menanyakan apakah saya ingin ikut ke rumah mereka. Saya akan mencoba untuk menolak, tapi, itu semua tergantung seberapa menariknya wanita-wanita itu.

Lebih dari sekali wanita menawarkanku uang untuk cairan spermaku. Setiap satu ‘sumbangan’, saya bisa saja mendapatkan uang dari 50.000 sampai 100.000 Euro. Saya akan berkata, ‘walaupun saya depresi melakukan ini, saya bisa tetap mendapatkan uang.’

PSS Sleman adalah lawan klub sepak bola pertama saya, PSIM Yogyakarta. Kami pernah bertanding sekali di Jogja di laga derbi. Fans mereka akan menyerbu saya. Pada saat sedang pemanasan, mereka menghina saya dan melemparkan botol minum. Untungnya, ada banyak petugas keamanan di pertandingan seperti ini, jadi saya merasa aman.

Pertandingan away terasa lebih santai. Saya ingat saat saya merasa sangat lega karena stadionnya kosong. Stadionnya baru saja direnovasi dan tidak ada penonton di tempat penonton, tapi mereka diperbolehkan untuk menonton dari belakang pagar yang mengelilingi lapangan. Saya harus tetap memerhatikan garis samping lapangan dan menghindari batu-batu yang dilemparkan ke arah kami. Pada akhir pertandingan, kami harus dikawal oleh mobil polisi untuk keluar dari stadion.

Ini sangat sering terjadi di Indonesia. Dengan PSS Sleman, saya bahkan pernah melihat kericuhan, melawan klub lawannya Persis Solo. Tidak ada satu pun dari fans kami yang mendatangi pertandingan away, tapi kali ini ada beberapa yang memberanikan diri untuk datang menonton pertandingan. Salah satu dari mereka terbunuh dan ada juga yang diperkosa di depan umum.

Saya merasakan suasananya sangat mencekam. Salah satu pemain bertahan kami ada yang tidak sadarkan diri karena kepalanya terlempar batu. Namun, wasit menyuruh kami untuk tetap bertanding. Pada saat jeda istirahat, kami harus berlari melewati terowongan dengan menggunakan pelindung untuk menutupi kepala kami. Saya berteriak kepada pelatih, ‘Saya tidak mau kembali ke sana!’ Kami harus rela kalah, padahal sebenarnya kami menang 3-0.

Namun, saya juga memiliki banyak kenangan indah dengan PSS Sleman. Saya menjadi juara pada tingkat kedua. Setelah pertandingan berakhir, banyak yang menangis di pelukan saya. Kami keluar dari sana dan banyak iringan sepeda motor di belakang kami. Sebagian besar anggota tim saya beragama Muslim, jadi mereka seharusnya tidak boleh minum-minum, terkecuali hari itu. Saya memiliki tato piala kemenangan dan tanggalnya di kaki. Jadinya saya bisa mengingat momen ini selamanya.

Sayangnya, petualangan saya di Indonesia berakhir buruk. Saya sedang bertanding bersama Persela, sebuah klub liga utama di sana, tapi saya balik ke negeri saya untuk liburan. Saat saya berada di Belanda, ayah saya mengidap penyakit kanker darah. Saya menetap di Belanda untuk menjaganya. Saya ingin memastikan saya bisa meluangkan waktu bersamanya selagi masih bisa. Klub saya paham dengan situasi ini dan mereka mengizinkan saya untuk memutuskan kontrak.

Pada salah satu pertandingan terakhir saya dengan Persela Lamongan, saya mencetak gol dari tendangan bebas sejauh 40 meter yang membuat saya cukup terkenal. Itu adalah pertandingan terakhir saya dan fans bernyanyi bersama sepanjang pertandingan. Ada banyak spanduk bertuliskan, ‘Aldermund, kami akan merindukanmu!’ (‘Aldermund, we’ll miss you!’) dan ‘Yang kuat untuk ayahmu.’ (‘Be strong for your dad’). Saya menangis saat pertandingan berakhir. Lagu-lagu yang dinyanyikan penonton ditujukan padaku. Saya benar-benar tidak bisa berhenti menangis. Pada saat jumpa pers, saya tidak bisa berbicara apa-apa. Saya sadar kalau waktu saya sudah selesai dan saya harus kembali ke negara saya untuk mengurus ayah.

Saat saya sampai di Belanda, saya baru tahu kalau penyakit ayah saya tidak seseram yang saya bayangkan. Ayah saya bisa menjalani masa tuanya dengan baik. Karena itulah saya tidak sabar untuk kembali ke Indonesia. Saya harap bisa kembali dalam waktu enam bulan. Saya ingin menasehati satu atau beberapa klub sepak bola, atau mungkin membuat channel YouTube. Saya bisa berbahasa Indonesia, dan saya ingin membuat video yang membahas tentang sepak bola atau seputar jalan-jalan. Saya sudah memiliki 70.000 pengikut di Instagram. Ini sangat menguntungkan. Saya juga ingin menciptakan clothing line.

Saya menato motto hidup saya di lengan. Tato itu berbunyi, ‘wherever you are in the world, it can all feel like home.’ Karena itulah yang saya rasakan. ‘Rumah’ tidak harus di Belanda, tapi bisa saja di Afrika, Amerika Selatan atau Indonesia. Saya benar-benar harus kembali ke Indonesia, karena kalau boleh jujur, saya sangat merindukan negara itu.”