Terorisme

Amerika Siap Beri Imbalan Rp14,1 Miliar Bagi yang Tahu Keberadaan Putra Mendiang Osama Bin Laden

Hamza bin Laden, umurnya kini sudah kepala tiga, diduga mengambil alih posisi ayahnya di jaringan teror Al Qaeda.

oleh Tim Hume
05 Maret 2019, 9:36am

Inilah wajah Hamza Bin Laden, yang diyakini meneruskan posisi ayahnya di jaringan teroris Al Qaeda. Foto dari Kemlu AS

Setelah Amerika Serikat membunuh sang ayah lewat operasi militer, kini Negeri Adi Daya ganti menawarkan hadiah sebesar US$1 juta (setara Rp14,1 Miliar) bagi siapapun yang mampu memberi informasi akurat tentang keberadaan putra mendiang Osama Bin Laden—yang menurut pandangan AS bersiap menggantikan kedudukan ayahnya dalam jaringan teror Al Qaeda.

Program kontraterorisme Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan berita soal imbalan bagi siapapun yang mengetahui lokasi Hamza Bin Laden sejak 28 Februari 2019.

Dalam pengumuman tersebut, Hamza—yang usia sudah lewat 30 tahun—mengeluarkan pesan suara dan video lewat internet. Dalam rekaman itu, dia memerintahkan setiap pengikutnya agar menyerang aset-aset strategis milik AS dan sekutunya. Dalam pesan yang sama, Hamzah mengancam akan membalaskan dendam atas kematian ayahnya pada 2011 lalu di Pakistan.

Pihak berwenang AS menyatakan Hamzah, salah satu dari 20 anak yang dipercaya sebagai anak kandung Bin Laden, disinyalir bersembunyi di kawasan perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Kemungkinan lainnya, Hamzan sudah menyeberang ke wilayah Iran. Di negara itulah, dia dan kerabatanya bermukim pasca insiden teror 9/11 sebagai tahanan rumah.

"Realitasnya, dia bisa ada di mana saja di wilayah Asia Tengah," kata Michael Evanoff, Asisten Sekretaris Keamanan Diplomasi AS, dalam jumpa pers.

Kementerian Luar Negeri AS menganalisis surat-surat yang disita dari sebuah kamp di Abbottabad, Pakistan, tempat bin Laden menemui akhir hidupnya di tangan Pasukan Marinir AS. Surat itu menyiratkan kalau sang gembong reroris sudah mempersiapkan Hamza sebagai pemimpin Al Qaeda di masa depan.

Dalam surat tersebut juga disebutkan bila Hamza, yang dilahirkan antara 1986 atau 1989, menikahi putri Atta, ketua tim pembajak pesawat dalam serangan 9/11 terhadap gedung Organisasi Perdagangan Dunia (WTC) di New York.

Sejak 2015, kanal propaganda Al Qaeda, yakni stasiun televisi As Sahab, berkali-kali mempromosikan Hamza sebagai tokoh kunci dalam organisasi teroris tersebut. TV ini menyebarkan rekaman suara berisi ancaman terbaru Hamza terhadap AS serta panduan bagi para pengikut Al Qaeda di seluruh dunia. Fakta penting yang harus diingat, sejak peringatan peristiwa 9/11 pada 2017, As Sahab berhenti menyebarkan foto Hamza dewasa. Sebaliknya, mereka menyebarkan foto Hamza kecil berlatar belakang gedung WTC tengah terbakar.

1551455039205-bin-laden-hamza
Di rumah pinggiran Kota Abottabad, Pakistan inilah Osama Bin Laden ditembak mati pasukan marinir AS pada 3 Mei 2011. Foto oleh Getty Images

Foto Hamza yang kini tersebar luas pertama kali dikeluarkan pada 2017, saat Biro Penyidik Kepolisian Federal AS (FBI) menyebarkan video perkawinan Hamza di Iran. Di tahun yang sama, AS menetapkan dirinya sebagai salah satu pentolan baru jaringan teroris global.

Menurut analisa terhadap surat-surat yang disita dari Abbottabad oleh lembaga think tank konservatif Foundation for Defense of Democracies, Osama bin Laden sebenarnya pernah mengkhawatirkan keselamatan Hamza dan mendorongnya menempuh pendidikan di Qatar daripada bergabung dengan Al Qaeda. Saat akhirnya Hamza memutuskan bergabung dengan organisasi teroris pimpinan ayahnya, Hamza langsung diberi pelatihan bahan ledak di Pakistan.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memasukkan Hamza ke dalam dafar hitam pelaku teroris global, membekukan asesnya dan melarang bepergian ke luar negeri. Jumat (3/1) pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengaku telah mencabut kewarganegaraan Hamza.


Tonton dokumenter VICE mengikuti orang dari berbagai negara yang sengaja datang ke Irak demi memerangi ISIS:


Kendati posisi Al Qaeda sebagai organisasi jihadis selama enam tahun belakangan tergeser oleh ISIS—yang berhasil meraih banyak pengikut lewat ideologi khilafah dan berhasil melakukan lebih banyak serangan teror—sejumlah pejabat tinggi di Pemerintahan Negeri Paman Sam mengatakan anggota Al Qaeda masih kerap berkumpul di berbagai negara, demi merancang serangan teror berikutnya.

"Saat ini aktivitas Al Qaeda memang jarang terekspose. Tapi mereka sengaja melakukannya sebagai bagian dari strategi, bukan sebuah tanda menyerah," kata Nathan Sales, Koordinator program kontrateror pemerintah AS.

"Walau lama tak terdengar, Al Qaedah sama sekali tidak stagan. Mereka terus memperkuat organisasi untuk mengancam AS beserta sekutunya."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News