Iklan
Kesetaraan Gender

Ada Lho Aplikasi Rating Buat Kalian yang Jengah Melihat Tokoh Perempuan Dalam Film Kelihatan Lemah

Penonton yang jengah sama misogini dalam film di Indonesia atau Hollywood bisa pakai aplikasi Mango Meter, buat menilai ketimpangan gender atau malah misogini dalam cerita.

oleh Muhammad Ishomuddin
12 Maret 2019, 11:05am

Foto aplikasi Mango Meter oleh penulis

Bayangkan kalian sedang menonton film yang secara teknis pengambilan gambar dan tata visualnya luar biasa keren. Pengalaman itu jadi rusak, gara-gara penggambaran karakternya menyebalkan: tokoh cowok digambarkan serba hebat, sementara karakter perempuan diposisikan penulis skenario ataupun sutradara sebagai pemeran pendukung doang. Nyebelin banget. Baik film Hollywood ataupun film Indonesia, serta banyak film dari negara lain, punya masalah yang sama.

Harus diakui, banyak film mengandung stereotipe ras dan gender tertentu. Artinya, mengkritik penggambaran yang bias atau malah mendukung ketimpangan perlu dilakukan. Inilah alasan beberapa pegiat perempuan terlibat melahirkan aplikasi Mango Meter.

Aplikasi ini memberi ruang bagi penggunanya untuk memberi penilaian terhadap film-film yang pernah ditonton, apakah film tersebut mengandung kategori misoginis atau malah mendukung gagasan feminis. Dalam Mango Meter, tersedia 11 sistem rating untuk menilai apakah suatu film perlu memperbaiki representasi perempuan dan gender di kisahnya.

Pengguna bisa juga mencatat konten yang bersifat diskriminatif dalam narasi film yang mereka tonton. Harapannya, dengan memberikan rating film di Mango Meter, penonton lebih aktif menantang status quo serta menuntut industri film memberikan gambaran representasi yang lebih baik bagi karakter perempuan.

"Di era digital di mana orang selalu terjadi percakapan di sosial media, pesan penonton pasti sampai ke telinga filmmaker itu meskipun tidak secara langsung," ujar Devi Asmarani selaku inisiator Mango Meter dari Indonesia sekaligus pemimpin redaksi Magdalene. Dia yakin, seandainya platform ini semakin banyak yang menggunakan, pasti bakal ada dampaknya untuk industri perfilman di masa mendatang.

Devi hanya salah satu inisiator yang bersama-sama melahirkan Mango Meter. Ada perwakilan lima negara Asia lainnya terlibat, di antaranya Chen Yi-Chien (Taiwan), Medhavine Namjoshi (India), Meggan Evangelista (Filipina), Sahar Gul (Pakistan), dan Sharmee Hosain (Bangladesh). Aplikasi ini adalah bagian dari program Asian Political Feminism yang difasilitasi Yayasan Friedrich Ebert-Stiftung (FES) untuk kawasan Asia. Penyadaran soal gender ini menyasar film, sebab sinema adalah produk hiburan populer yang dekat dengan generasi milenial.

Aplikasi ini juga memperhitungkan realitas budaya Asia yang beragam seperti yang ditampilkan dalam film.

Merujuk data New York Film Academy (NYFA), dari 900 film paling banyak ditonton sepanjang 2007-2016, hasilnya kebanyakan film didominasi oleh aktor laki-laki. "Seperti kasus yang ada di India, pernah ada masa marga Khan pada zamannya menjadi superstar, yang sekarang semakin menurun, karena masyarakat mulai merasakan bahwa kebanyakan film mereka itu banyak mengarah ke misoginis, dan sekarang yang lagi naik daun adalah film-film yang low-budget," ucap Medhavine Namjoshi kepada VICE.

Jika kita melihat pertumbuhan film di Indonesia sendiri, beberapa tahun terakhir mulai banyak filmmaker menyediakan ruang lebih besar bagi karakter perempuan. Contohnya film ‘Sekala Niskala’ dari sutradara Kamila Andini. Dua tokoh di dalamnya, Tantra dan Tantri, memiliki peran yang menyatu, sekaligus memberi penggambaran perempuan yang akurat dalam budaya Bali. Kendati demikian, masih banyak juga film-film Indonesia yang memposisikan perempuan menjadi peran pemanis yang bertujuan untuk memikat mata lawan jenis agar menonton.

"Penonton muda harus mulai kritis merespons apa yang ditonton. Tidak terbiasa hanya dari bagus tidaknya teknis gambar, namun dalam literasi atau cerita dan pembagian peran dalam film juga perlu dikritisi," ujar Adrian Jonathan Pasaribu kepada VICE, selaku salah satu juru program kolektif Cinema Poetica asal Jakarta. Adrian sendiri sudah 26 kali mereview film di aplikasi Mango Meter.

"Harapannya lima tahun lagi atau bahkan lebih, [aplikasi mango meter] benar-benar bisa mengedukasi sekaligus mengubah cara pandang kita dalam menonton film."

Kayaknya penonton film memang harus mulai sadar kalau penggambaran karakter film bisa berdampak luas. Kita perlu mengingat kata-kata Simone De Beauvoir, penulis sekaligus filsuf feminis asal Prancis, yang bilang "hal paling memalukan dari skandal gender adalah fakta bahwa kita terbiasa melihatnya."