Pandemi Corona

Solidaritas Menguat di Tengah Wabah, Warga Berbagi Makanan sampai APD Gratis

Di tengah kabar yang bikin pesimistis setiap hari, ada yang menghangatkan hati. Masyarakat di Indonesia masih menempatkan kemanusiaan sebagai hal utama.
10 April 2020, 9:05am
Kemanusiaan Masih Kuat, Warga Indonesia di Berbagai Kota Berbagi Makanan dan APD Gratis Selama Pandemi Corona COVID-19
Warga Penjaringan, Jakarta Barat, yang terdampak kebijakan PSBB menerima bantuan sembako. Foto oleh Aditya Irawan/AFP

Kita berharap negara hadir bukan cuma di akhir Maret ketika tenggat membayar pajak berakhir, melainkan juga di saat-saat seperti ini, ketika corona memutus mata pencaharian sebagian orang atau bahkan kita sendiri. Tapi di Bandung, hanya 5 dari 100 keluarga RT 6 RW 5 Lio Genteng yang mendapatkan bantuan dari Pemkot Bandung. Padahal mata pencaharian warga setempat yang mayoritas pedagang kaki lima telah lumpuh. Kesulitan memenuhi kebutuhan pokok segera menjelang. Lalu bagaimana?

Kita masih punya bekal solidaritas. Itulah yang dilakukan warga di RT tersebut, membangun sebuah dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap warga RT 6. Belief in Humanity restored.

Bahan pokok dibeli dari uang patungan, lantas dibuat jadwal memasak bergiliran antarwarga. Subsidi silang terjadi, warga yang tak sanggup patungan menjadi prioritas program. Sampai saat ini dapur umum masih berjalan sembari warga terus menunggu bantuan dari pemerintah.

Kemanusiaan itu memang hidup dan mulai bermunculan di mana-mana, tak hanya di Bandung. Di Malang, solidaritas serupa diprakarsai para pemuda. Dapur umum versi mereka juga punya tujuan yang juga spesifik: membantu para sopir ojol yang masih harus lalu lalang bekerja dengan penghasilan menurun.

Makanan dan minuman gratis dibagikan sejak jam 12 siang sampai jam 5 sore. Inisiatif persis juga dilakukan kolektif Jurnalis Lintas Media di Kendari. Pada Minggu (5/4) kemarin, mereka membagikan sembako gratis kepada sopir ojol dan beberapa warga terdampak lain.

Di Cimahi Utara, Jawa Barat, hati akan terasa hangat ketika mendengar berita warga bersolidaritas mendukung pasien positif yang sedang mengisolasi diri di rumah. Karena pasien tidak bisa meninggalkan rumah, warga sekitar berinisiatif memasakkan makanan untuk si pasien. Biasanya, makanan diantarkan sampai pagar sebelum diambil oleh keluarga.

"Kita kuatkan, support keluarga itu dengan kerja sama. Bahkan, warga memasak makanan dan memberikannya kepada keluarga itu untuk disantap setiap harinya," kata seorang warga, Yuli Septyo Indartono.

Solidaritas bentuk lain dari warga bersama melawan virus corona tanpa mengesampingkan nilai kemanusiaan terjadi di Lampung Barat. Di saat banyak kasus penolakan pemakaman jenazah corona di sejumlah daerah, warga Dusun Srigaluh, Lampung Barat malah melakukan sebaliknya. Mereka bergotong royong menyiapkan pemakaman jenazah pasien corona yang baru saja meninggal dunia. Setelah mendengar ada korban meninggal pada Sabtu (4/4) lalu, warga setempat berbondong-bondong menyiapkan liang kuburan di TPU Srigaluh, Kecamatan Sekincau.

"Alhamdulillah, tidak ada penolakan dari masyarakat. Warga begitu teredukasi dengan baik. Insya Allah dimakamkan malam nanti begitu jenazah tiba. Masyarakat sudah paham, pemulasaraan jenazah sudah ada standarnya. Tidak akan ada virus itu hidup ketika jenazah dimakamkan," kata Bupati Lampung Barat Pasosil Mabsus kepada Kompas.

Tenaga medis juga tidak luput dari aksi solidaritas masyarakat. Tenaga medis yang kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) memicu masyarakat untuk memproduksi secara mandiri. Di Surabaya, berbagai komunitas desainer seperti Womenpreneur, Fashion Desainer Jawa Timur, dan JCI East Java bergabung untuk memproduksi suplai APD.

"Total ada 33 desainer, masing-masing membuat APD, untuk jumlahnya terserah masing-masing, nanti terus dikumpulkan. Kami terpanggil untuk membantu Indonesia untuk membuat dan menyalurkan APD buat instansi dan teman-teman medis yang membutuhkan. APD ini tidak untuk dijual-belikan," kata desainer Margarteha kepada Tribunnews.