Ciri Gejala Self Harm Anak Muda Indonesia Melukai Diri Sendiri Konsultasi Psikologi
ILUSTRASI MENYAKITI DIRI SENDIRI OLEH RYAN/VICE
Kesehatan Mental

Kita Perlu Lebih Serius Membahas 'Self Harm' yang Menghantui Anak Muda Indonesia

Perilaku sengaja menyakiti diri sendiri, berdasar data, kerap menimpa mereka yang berusia 18 hingga 24 tahun di negara ini. Problemnya self-harm relatif jarang dibahas dibanding bentuk gangguan mental lain.
09 Maret 2020, 9:04am

*Peringatan: artikel ini memuat deskripsi detail perilaku menyakiti diri sendiri

Sandra* adalah anak muda berusia 21 tahun pada umumnya. Ia mengecat rambut panjangnya dengan highlight merah kecokelatan dan suka melontarkan guyonan "receh" selama ngobrol bersama VICE. Mendadak, di tengah perbincangan, ia menunjukkan deretan bekas luka memanjang di beberapa bagian tubuhnya.

"Ini bekas lukaku yang dari self harm pas SMP. Bekas lukanya masih timbul sampai sekarang, mungkin karena dulu aku menggoresnya lumayan dalam dan panjang juga," kata Sandra, memperlihatkan bekas luka di salah satu lengan.

Sandra menyakiti diri sendiri untuk pertama kalinya saat masih 13 tahun. Hubungan kedua orang tuanya mulai retak, berdampak besar pada kehidupan Sandra dan saudara-saudaranya. Ayah Sandra berhenti menafkahi mereka, sementara ibunya saat itu sedang tidak bekerja.

Itu momen awal krisis ekonomi keluarga mereka. Sandra dan ketiga saudaranya terombang-ambing dalam ketidakpastian, hingga terancam putus sekolah. "Aku merasa benar-benar down. Rasanya aku ada di salah satu titik terendah dalam hidupku," ujar Sandra.

Suatu kali, tangan Sandra tanpa sengaja tergores kawat di ember yang dibawanya. Saat itu, Sandra masih belum paham konsep self harm. Bukannya kesakitan, Sandra justru sengaja menggoreskan lagi tangannya ke kawat itu. Sebuah epifani terlintas. Rasa sakit meredakan kesedihannya.

Beranjak dewasa, Sandra semakin jarang bertemu teman-teman akrab sebayanya. Kondisi finansial keluarganya memburuk, memaksanya cuti kuliah dan bekerja paruh waktu. Ia mengenang momen-momen yang memicu episode kedua dari kebiasaan _self harm­­_-nya.

"Setiap kali lewat di depan kampus, aku pasti nangis. Lihat Insta Story teman-teman yang sibuk kuliah, sementara aku kerja siang malam berusaha nutup semua utang keluargaku," kata Sandra.

Pada 2017, Sandra kembali melakukan self harm, dengan intensitas yang lebih banyak dibanding sebelumnya. Cara yang paling sering ia pilih adalah dengan menggores beberapa bagian tubuhnya dengan cutter atau silet.

"Enggak tahu juga deh, apa yang bikin aku lega saat melakukan self-harm. Entah saat darahnya baru keluar, atau saat darahnya berhenti mengalir. Yang jelas, setiap kali aku self-harm, aku selalu menangis. Setelah itu, luka dari goresan yang kubuat terasa semakin perih. Tapi, di saat yang bersamaan, aku merasa beban yang menyesakkan dadaku jadi sedikit terangkat, seperti baru menghela napas," ungkap Sandra.

Sandra sebetulnya sadar bahwa menyakiti diri sendiri tidak akan berguna. Namun saban kali mentalnya down, dia terpicu untuk kembali menggores luka pada tubuhnya. Sandra ketagihan menyakiti diri sendiri.

Sandra cuma satu dari taksiran puluhan juta orang lain di Indonesia yang pernah melakukan self harm dalam hidupnya. Data dari survei YouGov Omnibus mengenai kesehatan mental penduduk Indonesia yang mereka publikasikan pada Juni 2019 menunjukkan lebih dari sepertiga (setara 36,9 persen) orang Indonesia pernah melukai diri mereka dengan sengaja.

Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda antara 18 hingga 24 tahun. Dari demografi tersebut, sebanyak 45 persen responden mengaku pernah melakukan self harm. Ini berarti dari setiap lima anak muda Indonesia, terdapat dua orang yang pernah melakukan self harm. Sementara, 7 persen dari responden bahkan mengaku melakukan self harm dengan frekuensi rutin.

Tak cuma Indonesia, self harm juga menjadi isu gangguan mental yang semakin mengemuka dalam skala global. Penelitian longitudinal dari American Academy of Child and Adolescent Psychiatry melibatkan 597.548 partisipan dari 41 negara, sepanjang 1990 hingga 2015, menyatakan hampir 17 persen dari orang-orang di dunia pernah melakukan self harm. Rata-rata mulai melakukannya sejak usia 13. Prevalensi tersebut mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun hingga berakhirnya penelitian tersebut pada 2015.

VICE berusaha mencari tahu lebih banyak mengenai self harm dengan menghubungi Pijar Psikologi, media daring pertama di Indonesia yang fokus memberi layanan informasi dan konsultasi isu kesehatan mental.

Vega Annisa Solenta, psikolog klinis dari Pijar Psikologi, menjelaskan setiap orang punya coping strategy atau cara menyikapi masalah berbeda. Self harm, dalam hal ini, merupakan bentuk coping strategy yang tidak sehat.

"Kebanyakan pelaku self harm merasa puas dengan sensasi fisiologis berupa rasa sakit yang mengalihkan mereka dari stres yang sebetulnya sedang mereka tekan. Kalau generasi milenial mungkin bilangnya, 'Lebih baik luka fisik, daripada luka batin yang enggak berdarah tapi kerasa sakitnya,'" terang Vega.

Dari kajian psikolog, self harm bisa terjadi pada siapapun dan kapanpun. Faktor penyebabnya rumit dan berbeda pada setiap kasus. Sebagian orang mungkin lebih rentan melakukan self harm karena faktor genetik dan biologis, sedangkan yang lain mungkin terdorong faktor psikologis, gangguan psikiatrik, sosial ekonomi, hingga budaya.

"Bisa jadi orang yang awalnya tergolong baik-baik saja sebenarnya punya kecenderungan untuk self-harm, namun belum terpicu saja. Nah, ketika ada peristiwa besar yang tidak menyenangkan terjadi, orang itu mungkin saja tiba-tiba melukai dirinya sendiri sebagai cara dia mengelola stres," tutur Vega.

Beberapa metode self harm yang umum ditemukan termasuk berulang-ulang ialah membenturkan kepala atau tulang (tangan dan kaki), menampar wajah atau kepala sendiri, menggigiti bagian tubuh tertentu (bibir, lidah, lengan, dan kuku), menggaruk atau mencongkel kulit hingga terluka, serta mencabuti atau menjambak rambut.

Ada pula pelaku self harm yang menggores, menyilet, membakar, mengukir, atau menusukkan benda tertentu (tajam atau tumpul) ke dalam kulit, dada, atau perut mereka. Pada titik paling ekstrem, pelaku self harm dapat melukai diri hingga merusak jaringan tubuh mereka, seperti mengamputasi bagian tubuh tertentu.

Melihat betapa jauh seorang pelaku self harm bisa menyakiti dirinya, sebenarnya apa sih alasan mereka melakukan self harm sampai enggak lagi memedulikan rasa sakit fisik?

"Ada beberapa latar belakang kondisi yang bisa membantu kita memahami kenapa seseorang self harming. Bisa jadi mereka melakukannya untuk mengalihkan emosi menjadi rasa sakit fisik, melepaskan ketegangan di dalam tubuh, atau menghilangkan perasaan ‘mati rasa’ hingga bisa terhubung dengan diri mereka lagi," papar Vega. "Sebagian berusaha menghukum diri dan self harm jadi cara mereka ‘memaafkan’ diri. Ada juga yang menginginkan kendali atas tubuh mereka. Pelaku self harm dengan tipe ini biasanya berpikir, ‘Orang-orang mungkin bisa ngatur hidup, karir, sampai gaya berpakaianku, tapi enggak dengan tubuhku."

Kebiasaan self harm, secara ilmiah dapat dihentikan dengan membantu mereka menemukan coping strategy yang tepat. Bagi pendamping atau pakar, biasanya si pelaku akan diminta mencari bentuk sensasi fisik lain yang lebih baik, mulai dari mandi air hangat, menghirup aroma therapy, meremas squishy, atau latihan pernapasan.

Selain itu, solusi lain adalah dengan belajar mengenali emosi dan mengekspresikannya lewat hal positif, atau memberanikan diri untuk berbagi permasalahan dengan orang terdekat. Di tahap lebih lanjut, Vega menganjurkan bagi pelaku self harm segera mendapatkan penanganan langsung dari psikolog atau psikiater.

Namun, sepanjang pengalaman praktik Vega sebagai psikolog klinis, ia mengamati bila klien yang memiliki isu self harm, cenderung menyembunyikan hal tersebut dari orang lain.

"Kalau bicara tentang gangguan mental, istilah ‘menderita dalam diam’ memang masih umum terjadi, ya. Ini mungkin juga dikarenakan masih kuatnya stigma negatif di masyarakat tentang orang-orang dengan gangguan mental," kata Vega.

Tantangan dalam penyembuhan self harm punya kelindan erat dengan cara masyarakat memandang isu ini. Hal ini pun diakui oleh Sandra yang berkilas balik saat ia mengungkapkan permasalahan self harm yang ia miliki pada orang terdekatnya.

"Dulu aku pernah cerita tentang perilaku self harm-_ku ke cowok yang lagi deket sama aku. Aku bilang aku butuh psikolog kayaknya. Eh, dia malah bilang aku jauh dari Tuhan. Dia juga bilang aku enggak perlu psikolog dan cukup ibadah aja buat nenangin diri. _Bete banget digituin. Dengan dia bilang begitu tuh, malah bikin hasrat self harm aku semakin kuat," kata Sandra.

Sejak awal 2018, Sandra akhirnya berhenti melakukan self harm. Keinginan Sandra berubah muncul lewat ketertarikan barunya pada sejumlah hal positif serta lingkaran pertemanan yang sangat peduli padanya.

Sementara itu, co-founder Pijar Psikologi, Regisda Machdy Fuady, menilai kesadaran masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental perlahan mulai meningkat. Hal ini, menurutnya, ditandai dari semakin banyaknya bahasan tentang topik ini di media serta kemunculan gerakan yang peduli pada isu kesehatan mental, seperti Pijar Psikologi.

"Kami secara konsisten berusaha mengedukasi masyarakat lewat artikel, layanan konseling online, hingga acara offline yang membahas seputar isu kesehatan mental, termasuk self harm," kata Regis.

Penanganan isu gangguan mental seperti self harm tak cukup jika hanya didasari oleh kesadaran personal dari para penderitanya, tapi juga memerlukan kepedulian kolektif dari masyarakat.

"Saat menemukan perilaku seseorang yang mungkin agak janggal dan tidak umum di mata kita, sebelum berkomentar atau memberi penilaian, mari coba pikirkan lebih dulu, ‘Mengapa dia berperilaku seperti itu?’ dan ‘Bagaimana caranya supaya aku bisa memahami perilakunya?'" menurut Vega. "Dengan mentalitas seperti ini, setidaknya kita telah ikut mengurangi stigma, minimal dari diri sendiri."


*nama narasumber tidak ditulis lengkap untuk melindungi privasinya

Jika kalian merasa memiliki gangguan mental, atau rutin melakukan kegiatan menyakiti diri sendiri seperti dijabarkan dalam artikel, atau memiliki keluarga atau kenalan dengan kecenderungan semacam itu, segera hubungi layanan konsultasi psikologi atau psikiater terdekat. Konsultasi bisa dilakukan di Pijar Psikologi, puskesmas dengan psikolog, dan kanal-kanal resmi lainnya.