Kisah Penyintas Bertahan dari Kepungan Banjir Terburuk Jabodetabek 2020 Akibat Perubahan Iklim
Jamilah dan anaknya berdiri di jalan masuk menuju rumahnya di Ciledug Indah, Kota Tangerang, Banten. Semua foto oleh Firman Dicho Rivan/VICE.
Banjir 2020

Bukan Banjir Biasa: Kisah Penyintas Bertahan dari Kepungan Air Bah Terburuk Jabodetabek

Keterangan penyintas berbagai lokasi yang dikumpulkan VICE mempertegas indikasi banjir 2020 berbeda dari yang mereka biasa hadapi. Ini efek perubahan iklim, yang harus serius direspons pemerintah.
03 Januari 2020, 8:45am

Ketika hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore 31 Desember dan tak kunjung berhenti hingga kalender berganti, Siti Zulaikha tak merasa khawatir sama sekali. Ibu dua anak itu masih beraktivitas seperti biasa, dan lebih sibuk menyambut pergantian tahun. Sepanjang hidupnya tinggal di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, perempuan 37 tahun itu merasa sudah akrab dengan banjir akibat luapan Sungai Ciliwung, yang berjarak hanya enam meter dari rumahnya.

Di luar perkiraan Zulaikha, datangnya kawan lama bernama banjir itu agak berbeda. Pada malam menjelang pergantian tahun, hujan deras tak kunjung mereda. Zulaikha kemudian melongok ke arah Ciliwung. Ketinggian air sudah hampir mencapai batas tanggul setinggi lima meter. Pada dini hari, air sungai berwarna coklat keruh mulai menerobos tanggul dan menggenangi jalanan.

"Saat tahu air sudah melebihi tanggul warga sini sudah bersiap menyelamatkan barang-barang," kata Zulaikha. "Saya segera memindahkan barang ke lantai dua. Saya pikir kalau pun banjir paling cuma di lantai satu saja."

Perhitungan Zulaikha meleset. Menjelang pagi, Rabu 1 Januari, banjir mencapai lantai dua rumahnya. Tak ada tempat tersisa buat menyelamatkan barang berharga. Zulaikha dan keluarganya hanya bisa pasrah saat dievakuasi. Beberapa warga lain memilih bertahan di loteng lantai dua yang lebih tinggi dari banjir.

Saat ini Zulaikha dan warga Kampung Pulo lain masih bertahan di posko penampungan di dekat Pasar Jatinegara. Meski banjir perlahan mulai surut, lumpur pekat dan tumpukan sampah masih terserak di seantero kampung. Genangan air juga masih terlihat di halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat mulai membersihkan rumah mereka, namun tak sedikit yang memilih menunggu sampai air benar-benar surut.

"[Banjir awal tahun ini] terparah sejak Ciliwung dinormalisasi Ahok [panggilan akrab Basuki Tjahaja Purnama, gubernur DKI Jakarta 2014-2017]," kata Zulaikha. "Banjir sampai sedada di lantai dua rumah saya."

Warga berusaha menyelamatkan motor melintasi genangan air di Ciledug Indah, Kota Tangerang.

Sungai Ciliwung di sepanjang Kampung Pulo sudah dinormalisasi oleh Ahok pada 2015. Saat itu permukiman ilegal di sepanjang Ciliwung dibongkar dan penduduknya dipindah ke rumah susun Jatinegara dan Komarudin, Jakarta Timur. Ada 926 kepala keluarga di kampung itu, sementara sekira 400 sepakat pindah ke rusun. Selain memperlebar aliran sungai Ciliwung, Pemprov DKI Jakarta kala itu juga meninggikan tanggul penahan banjir di kiri-kanan aliran sungai. Kendati sudah dinormalisasi, banjir tetap menyambangi kampung itu.

Pada Februari 2018, banjir setinggi dada orang dewasa menggenangi rumah warga seharian penuh. Belum jelas sejak kapan Kampung Pulo menjadi langganan banjir. Dari ingatan Zulaikha, bapaknya dulu kerap bercerita bahwa banjir tahunan sudah rutin melanda sejak 1960-an.

"Dari yang awalnya cuma setinggi lutut orang dewasa," kata Zulaikha. "Hingga sekarang mencapai 3 meter."

Pada Kamis, 2 Januari, Jabodetabek masih dikepung banjir. Kota Tangerang, Banten termasuk salah satu daerah terparah akibat luapan Kali Angke. Ada 13 kecamatan yang terendam banjir, memicu status tanggap bencana selama tujuh hari ke depan. Salah satu yang terparah adalah perumahan Ciledug Indah di kecamatan Ciledug. Permukiman tersebut dihuni sekira 100-an kepala keluarga.

Jamilah, 43, mengatakan banjir kali ini terjadi lantaran tanggul penahan Kali Angke jebol. Posisi permukiman itu memang terletak di jalanan yang landai, membuat air kali mudah masuk. Kali itu memang sering meluap jika hujan, namun tak pernah separah ini, kata Jamilah. Banjir Kali Angke menggenangi komplek hingga setinggi dua meter. Banyak warga yang terjebak di lantai dua rumah mereka hingga dievakuasi menggunakan perahu karet.

"Barang-barang hanyut semua. Saya sempat kembali ke rumah buat mengambil berkas-berkas penting," kata Jamilah.

Warga mengevakuasi kucing peliharaan keluarga di Pondok Bahar, di Kota Tangerang, Banten.

Ivan, 22, juga merasa banjir awal 2020 yang terburuk. Kali Angke dekat rumahnya memang kerap meluap, tapi hanya sebatas lutut. "Ini seperti kejutan yang tak dinanti-nanti di awal tahun," kata Ivan saat menuju ke posko banjir. "Entah kapan bakal surut kalau setinggi ini banjirnya."

Di Pondok Bahar kecamatan Karangtengah, Tangerang, Supriyadi dan beberapa warga terlihat tengah mengevakuasi motor matik putih kesayangannya menggunakan perahu yang terbuat dari kayu dan bambu seadanya. Banjir mencapai 3 meter di kawasan itu. "Sudah pasti turun mesin ini," kata Supriyadi sembari menurunkan motornya ke tempat aman. "Di sini terakhir banjir lima tahun lalu."

Tim SAR daria kepolisian hendak mengevakuasi warga yang masih terjebak di Ciledug Indah.

Kebanyakan warga tak siap menghadapi banjir kali ini. Sebab, wilayah itu tergolong jarang dilanda banjir. Pada 2013, turap atau tanggul penahan banjir di Kali Angke yang cuma berjarak beberapa meter dari Pondok Bahar jebol lantaran debit air tinggi. Saat itu banjir cuma setinggi 70 cm.

Di kawasan itu tak ada posko bencana terlihat. Bantuan juga belum mengalir ke warga. Para warga memilih mengungsi ke sanak famili atau tetangga yang selamat dari banjir. "Sudah dua hari banjir tapi tak ada bantuan datang. Perahu ini pun dibikin sama warga," kata Supriyadi."

Sebagian bocah di Cipinang Melayu bermain air sisa genangan banjir.

Sementara itu di perumahan Pondok Gede Permai, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat banjir akibat luapan Sungai Cikeas telah surut pada Kamis (2/1) sore, menyisakan genangan lumpur licin dan sampah. Iyan dan Zulfikar terlihat sibuk membersihkan lumpur dari teras rumahnya. Iyan, yang bagian belakang rumahnya cuma terpisah jalan sempit dari tanggul sungai Cikeas, menjelaskan air masuk dari tanggul yang retak.

"Ini baru pertama kalinya [banjir]," kata Iyan dengan sekujur tubuh terpapar lumpur.

Banjir di seantero Bekasi mengukir sejarah baru, menurut Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi dikutip awak media. Sebab tiga sungai yang menjalar di kota itu—Sungai Cileungsi, Sungai Cikeas, dan Kali Bekasi meluap bersamaan - memicu banjir dari ketinggian 70 cm hingga 4 meter.

"Dari kita statusnya darurat siaga satu," kata Rahmat.

Tercatat 31.232 orang mengungsi akibat banjir. Sementara jumlah korban tewas mencapai 30 orang hingga artikel ini dilansir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 103 titik banjir di Jabodetabek. Terbanyak adalah Jakarta Selatan dengan 22 titik, diikuti Jakarta Timur dengan 11 titik.

Warga berusaha membersihkan sisa genangan dan lumpur di tempat usahanya, kawasan Pondok Gede Permai, Bekasi.

Intensitas hujan sedang hingga tinggi berada di wilayah Bogor sejak 31 Desember hingga 1 Januari, menyebabkan tinggi muka di Pintu Air Katulampa, Bogor mencapai lebih dari 110 cm. Padahal normalnya, ketinggian muka air ada di kisaran 40 cm. Akibatnya Sungai Ciliwung meluap. Banjir tahun ini juga menjadi yang terparah sejak 2013, yang menyebabkan 47 kematian di Jabodetabek.

Warga Jakarta paling suka menyebut bencana banjir sebagai ‘banjir kiriman’—sebuah istilah buat menyebut air kiriman dari Bogor—yang menjadi daerah hulu Sungai Ciliwung. Padahal istilah itu tak cuma salah kaprah, tapi juga memicu sesat pikir. Sebab bencana banjir adalah bencana yang kompleks yang meliputi berbagai faktor, dari hulu hingga hilir, termasuk tingkah polah manusia yang mendiami daerah tersebut.

Banjir di awal tahun ini, yang dianggap terburuk sepanjang 24 tahun terakhir, adalah contohnya. Sebab selain menghilangnya daerah resapan air, persoalan sampah dan tata ruang yang berantakan, kerusakan ekosistem dan bencana iklim juga menjadi faktor dominan.

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan pada malam pergantian tahun mencapai 377 mm/hari. Itu curah hujan tertinggi sejak 2007, saat curah hujan di Jakarta mencapai 340 mm/hari. BMKG menyebut hujan lebat di penghujung 2019 dan awal 2020 sebagai ‘bukan hujan biasa.’

Bocah di Ciledug Indah ditemani orang tuanya memantau banjir yang belum surut saat VICE mendatangi lokasi tersebut.

BMKG mencatat salah satu penyebab hujan ekstrem tersebut adalah angin muson—sebuah fenomena perubahan drastis dalam arah mata angin yang ditandai oleh perubahan musim hujan.

"Angin yang bergerak dari timur laut Jawa bertemu dengan angin yang berhembus dari selatan. Pertemuan itu menyebabkan terbentuknya formasi awan masif di langit Jawa," kata juru bicara BMKG Fachri Radjab dalam pernyataan tertulis.

Fakta bahwa bencana iklim akibat pemanasan global berada di balik banjir Jakarta tak bisa dipungkiri lagi. Fachri menambahkan kenaikan suhu di Samudera Hindia juga menjadi penyebab tingginya uap air, yang pada akhirnya mempengaruhi formasi awan tebal di Jawa. BMKG memprediksi hujan lebat akan turun hingga akhir Januari 2020.

warga melintasi jalanan kampung yang rusak setelah banjir surut di Pondok Gede Permai Bekasi.

Curah hujan tinggi ditambah dengan suhu Bumi yang semakin memanas dan mengakibatkan banjir juga selaras dengan berbagai penelitian. Pada 2016, dalam jurnal Nature Climate Change, sekelompok ilmuwan yang dipimpin Markus Donat dari University of New South Wales mengidentifikasi bahwa pemanasan global justru tidak membuat Bumi mengering, tapi justru membawa banjir dan hujan ekstrem. "Fenomena ekstrem justru akan melanda daerah yang memiliki iklim kering dan basah," kata Markus.

Markus dan timnya menemukan jumlah hari yang dilanda hujan lebat telah meningkat 1 hingga 2 persen setiap dekade di daerah kering dan basah. Kelompok ilmuwan tersebut menganalisis cuaca sepanjang 60 tahun belakangan di setiap daerah paling kering dan basah di Bumi, termasuk negara tropis dan gurun.

Sementara laporan perubahan cuaca dan pemanasan global yang dirils PBB mengungkap 2019 menjadi tahun terpanas dalam kurun lima tahun terakhir. Dikutip dari CNN Indonesia, iklim pada kurun tersebut diperkirakan naik 1.1 derajat Celcius di atas era pra-revolusi industri (1850-1900) dan 0,2 derajat Celcius lebih hangat sejak 2011-2015.

Alih-alih menurunkan emisi karbon sesuai Perjanjian Paris 2015, jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer justru meningkat 2 persen, setara 37 miliar ton, pada 2018. Dalam Perjanjian Paris 2015, negara-negara dunia menargetkan untuk membatasi kenaikan suhu jangka panjang di bawah 2 derajat celcius atau idealnya 1,5 derajat celcius di atas level pra-revolusi industri. Jika tidak, maka Bumi akan menghangat sekitar 2,9 derajat Celcius hingga 3,4 derajat Celcius pada 2050.

Banjir rupanya sudah menjadi problem di Jakarta sejak Abad 17. Tercatat pada masa pemerintahan gubernur jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen pada 1621, banjir besar pernah menenggelamkan Jakarta, memaksa pemerintah kolonial membangun tiga bendungan di Jakarta.

Genangan belum surut di Kampung Pulo pada Kamis sore, 2 Januari 2020.

Jakarta mendapat julukan oleh berbagai media dan peneliti sebagai kota paling cepat tenggelam. Di utara Jakarta, air laut terus merangsek ke daratan. Sementara itu penyedotan air tanah besar-besaran untuk permukiman dan bisnis turut memberi andil. Tak heran jika Jakarta diperkirakan tenggelam 25 cm per tahun dan pada 2030 diperkirakan air laut bakal mencapai Monas.

Rupanya bukan cuma air laut yang bakal menenggelamkan Jakarta. Jika tak ada yang dipersiapkan pemerintah pusat maupun daerah untuk menanggulangi bencana iklim, air sungai tak lagi menjadi sahabat warga, melainkan musuh yang setiap saat bisa meluluh lantakkan. Banjir 2020 ini bukan lagi sekedar pengingat, tapi sebuah peringatan bahwa ancaman itu nyata.