Iklan
Love

Begini Perjalananku Menemukan Cinta Sebagai Pengidap HIV Positif di Indonesia

Mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap pengidap HIV sebagai kaum liyan. justru saat aku didiagnosis positif HIV, aku berada di momen ketika hidup dan cinta kasih amat berharga.

oleh Bara Birawa; seperti diceritakan pada Adi Renaldi
14 Februari 2020, 4:54am

Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng.

Artikel ini adalah bagian dari seri liputan VICE Asia Pasifik tentang cinta yang universal. Termasuk mereka yang memutuskan jujur dengan hasratnya, serta bagaimana kita mengatasi sekian hambatan untuk menjalin kasih sayang dengan orang-orang di sekitar. Alhasil, cerita cinta yang diliput VICE mencakup realitas kencan di dunia digital, pengalaman cinta komunitas LGBTQ, serta relasi pacaran yang tidak lazim. Baca cerita-cerita lain seputar cinta universal itu di tautan ini.


Aku masih ingat hari itu, di bulan Mei 2017, ketika baru menginjakkan kaki di Jakarta setelah seminggu berlibur di Hong Kong. Badanku tiba-tiba terasa sakit. Meriang di pagi sampai sore, dan hilang saat malam. Aku pikir itu cuma karena kecapekan. Tapi selama seminggu kemudian, demam itu tak kunjung enyah.

Dokter lalu menyarankan tes darah seandainya aku terkena demam berdarah. Hasilnya negatif. Dokter bingung. Begitu juga aku. Dokter menyarankanku untuk rawat jalan. Selama dua minggu keadaanku tak juga membaik. Atas saran dokter dan kawan aku memutuskan menjalani biopsi untuk mengambil sampel jaringan. Ada benjolan di leher kiriku rupanya.

Tak terasa sakit memang. Dari hasil tes, aku mengidap tuberkulosis kelenjar getah bening dan harus operasi untuk mengangkat benjolan itu. Aku panik dan segera menelepon kakak perempuanku. Sebenarnya kami tak terlalu akrab, tapi sejak ayah dan kakak laki-lakiku meninggal, kami jadi dekat. Mungkin karena praktis aku menjadi satu-satunya anak laki-laki di keluarga.

"Kamu yakin enggak mau tes HIV?" kata kakak perempuan di ujung telepon. "Temen-temen gue yang positif HIV rata-rata kena TBC kelenjar dulu soalnya."

Saat bercakap dengannya, pikiranku meluber ke mana-mana. Aku sempat melamun, gagang telepon masih menempel di telinga. Aku kembali teringat, cuma kakak perempuanku dan beberapa orang teman dekat yang tahu aku gay. Sepanjang duduk di bangku sekolah, aku selalu berhasil menutupi orientasi seksualku. Aku cuma tak mau menjadi bahan perundungan dan menjadi pusat perhatian. Maka aku mulai bergabung dengan geng anak-anak populer di sekolah. Sampai-sampai aku punya pacar seorang perempuan demi menutupi identitas seksualku.

Aku baru memberitahu kakakku pada 2015, beberapa hari sebelum pernikahannya. Kakakku menikah pada umur 38 tahun. Aku masih 35 tahun waktu itu.

"Gue mau menikah ya," ujar kakakku saat itu. "Sekarang lo juga udah bisa menikah, enggak perlu lagi nungguin gue." Di Jawa, seorang adik memang harus menunggu kakaknya lebih dulu untuk menikah. Atau kalau tidak, sang adik harus memberi ‘pelangkah’ kepada kakaknya.

"Kayaknya gue enggak bakal menikah," jawabku dengan nada berat. "Gue gay."

"Gue udah tahu kok," kata kakakku. "Gue cuma perlu denger dari mulut lo, it’s okay. Nyokap juga mungkin tahu. Tapi enggak masalah."

Lamunanku buyar.

"Bar, lo ikut tes ya, please," kata-kata itu meluncur menyadarkanku dari lamunan.

"Nanti deh kak." Aku menjawab pendek.

Sebagai seorang gay yang aktif secara seksual, aku tahu risiko HIV/AIDS. Aku bergabung di sebuah komunitas yang kerap mengadakan bakti sosial dan tes HIV/AIDS gratis setiap bulan. Tapi aku selalu menolak dan menyangkal. Menurutku, toh, setiap orang bakal mati apapun penyebabnya, jadi biarlah itu menjadi misteri. Menurutku ketika seseorang terkena HIV, aku pikir itu adalah sebuah akhir. Dan mereka yang hidup dengan HIV hanya tinggal menunggu waktu. Aku tak mau seperti itu. Jadi setiap kali komunitasku mengadakan tes HIV, aku selalu menghindar.

Pengobatan TBC kelenjar ternyata menyakitkan. Obatnya bikin mual. Beratku turun menjadi 50 kilogram, dari awalnya 70 kilogram, beberapa minggu setelah operasi. Aku cuti dari pekerjaanku selama pengobatan. Lagi-lagi kondisiku masih tak membaik. Kawan-kawanku akhirnya mendesak untuk tes HIV. Aku luluh.

Hasil tes positif. Dunia sekelilingku mendadak gelap, menelanku bulat-bulat. Bukan nasibku yang aku khawatirkan, tapi pasanganku. Apakah dia bakal tertular HIV gara-gara aku? Jika iya, aku akan menanggung rasa bersalah itu seumur hidup.

Aku menjalani hubungan dengan pasanganku selama 9 tahun. Pekerjaan sering membuatnya bepergian ke luar kota. Tapi aku tahu dia setia. Masalahnya, akulah yang bandel. Aku tak tahu bagaimana memberitahu pasangan soal keadaanku. Selama seminggu aku mengurung diri, hingga aku memberanikan diri meneleponnya untuk menjelaskan.

Nada bicaranya tenang, dia tak panik sedikitpun. Dia terus memberiku semangat hidup. Dia tak pernah lupa mengingatkanku untuk meminum obat antiretroviral yang harus aku minum tepat waktu, seumur hidup. “It’s time to be a better person,” katanya. Yang membuatku semakin tenang, dia tak pernah sedikitpun bertanya atau mengungkit bagaimana aku bisa tertular HIV.

Hasil tes pasanganku negatif. Aku merasakan kelegaan yang amat sangat.

Kehidupan seksualku bersama pasangan menjadi hambar. Aku tak merasakan dorongan seperti biasanya. Entahlah. Mungkin karena faktor pengobatan. Atau faktor psikologis? Pasanganku tak pernah memaksa. Tapi aku malah menjadi semakin merasa bersalah karena tak bisa menjalankan fungsiku sebagai pasangannya. Aku hanya bisa memuaskannya lewat handjob. Ada semacam tembok tak terlihat yang membuat kami tak berani melakukan penetrasi seksual.

Kami putus pada pertengahan 2018. Dia dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang perempuan lewat taaruf. Dia seorang biseksual, dan aku tahu momen pernikahannya pasti akan datang.

Tiga bulan setelah pernikahannya—setelah bangkit dari keterpurukan dan pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup—aku menginstall aplikasi kencan.

Ini tak mudah.

Apakah aku harus menaruh info jika aku HIV positif di bio? Kapan tepatnya aku harus mengatakan aku HIV positif kepada teman kencanku?

Pikiran-pikiran itu membuatku kalut dan membuatku semakin anti-sosial. Tapi akhirnya aku memutuskan maju. Ada dua orang yang tertarik denganku. Satu orang 10 tahun di bawahku, yang kini menjadi pasanganku. Satu lagi seorang pengusaha. Keduanya memberi respon positif, meski aku bilang ke mereka soal keadaanku beberapa saat setelah berkenalan.

Aku merasakan hidupku kembali seperti sediakala. Berat badanku naik lagi. Karirku sebagai manajer di sebuah hotel lancar. Pasanganku amat suportif. Aku belajar menjadi setia. Aku tak mau lagi menyia-nyiakan hidup dan waktuku. Kehidupan seksual kami bergairah. Walau kini virus HIV di tubuhku undetectable—keadaan di mana kemungkinan aku menularkan HIV kecil, aku tak mau ambil risiko. Pengaman sudah pasti kami gunakan saat berhubungan intim.

Namun tetap saja aku belum bisa terbuka soal keadaanku ke semua orang. Aku tahu bagaimana diskriminasi dan stigma terhadap orang dengan HIV. Aku tak mau kehilangan pekerjaanku.

Tak mudah memang menghadapi dunia ketika hasil tes itu positif. Tapi aku tahu dirimu di luar sana itu kuat. Tapi kekuatan itu tak ada artinya tanpa cinta kasih. Di saat pertama kali kamu mendapati hasil tes itu, tak perlu lagi kamu menyalahkan diri dan sekitarmu. Tak masalah untuk mengambil jarak dari dunia barang sebentar, tapi jangan biarkan dirimu larut dalam keterpurukan. Di sampingmu, aku yakin, selalu ada orang yang bakal menunjukkan cintanya.

Tagged:
hiv/aids
Budaya
kesehatan
Stigma Sosial
Percintaan
LGBTQ di Indonesia
Homoseksual
Pengalaman Hidup
Kasih Sayang
Pengidap HIV