Jasa Cuddling Kelon Profesional Menarik Minat Anak Muda Indonesia
ILUSTRASI JASA PELUK BERBAYAR DI INDONESIA OLEH RYAN/VICE
Ada Apa Dengan Bercinta

Menelusuri Penyebab Cuddling Kini Menarik Minat Anak Muda Indonesia

Kelonan sama orang asing tanpa seks jadi gaya hidup baru anak muda kota besar lewat aplikasi kencan. Jasa kelon profesional bersiap muncul. Apakah anak muda kian sulit mendapat pelukan dan kasih sayang?
17 Maret 2020, 12:14pm

"Ada Apa Dengan ber-Cinta" adalah seri liputan khusus VICE membahas serba-serbi seks yang selama ini dianggap tabu, khususnya di Indonesia, padahal penting sekaligus bikin penasaran. Klik tautan ini untuk mengikuti artikel dan video lainnya dalam topik yang sama.


Sebuah lowongan kerja tak lazim beredar di media sosial dengan tipe pekerjaan yang jarang didengar keberadaannya, setidaknya di Indonesia. Tertera posisi yang ditawarkan: professional cuddler alias pemeluk profesional. Pengguna Internet di Indonesia geger. Memangnya ada yang mau membayar untuk kelonan sama orang asing? Udah gitu kelonan doang, tanpa seks sama sekali?

Jangan salah. Permintaan macam itu rupanya amat tinggi.

Ketika kalian menggunakan aplikasi ponsel yang digunakan untuk ngobrol sekaligus kencan seperti Tinder, Bumble, atau Whisper, "dicari partner cuddle no sex" adalah salah satu kalimat yang lazim kalian temukan. Khususnya, ketika memakai aplikasi tersebut di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Malang.

Lowongan pekerjaan yang menghebohkan itu diumumkan perusahaan rintisan bernama Indocuddle. Sesuai namanya, perusahaan yang rencananya beroperasi mulai April 2020 ini menawarkan jasa pelukan (cuddle) dan curhat bagi klien kawasan Jabodetabek. Tarif yang dipatok, Rp700 ribu per satu jam.

1584441929706-nah-ini

Hasil tangkapan layar lowongan pekerjaan sebagai pemeluk profesional, diambil dari akun Twitter @ezash.

Fenomena anak-anak muda mencari "cuddle buddy", sebutan untuk teman kelon dalam era aplikasi kencan, sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak tiga tahun terakhir, lazim bagi pengguna aplikasi kencan mencantumkan motivasi mereka mendaftar dan membuat akun. Frasa seperti "Cuddle, no sex. Anyone?" sangat mudah ditemui.

Heidi, perempuan 24 tahun asal Jakarta yang sempat mempunyai cuddle buddy, termasuk salah satunya. Tahun lalu, belum terpikir olehnya untuk cuddling dengan orang asing. Dia sekadar ingin memuaskan hasratnya. "Aku senang bila bisa merasa kalau aku itu dibutuhkan, diinginkan apalagi sama cowok," kata Heidi kepada VICE.

Selama delapan tahun sebelum akhirnya punya teman kelon, Heidi memiliki masalah kepercayaan diri. Dia merasa bukan perempuan hetero yang memiliki fisik menarik lawan jenis.

Tawaran itu justru pertama kali datang dari si teman kelon. Heidi baru menyadari, bahwa ternyata aplikasi kencan bisa digunakan untuk aktivitas semacam ini. Berawal dari perjumpaan di aplikasi kencan online, Heidi dan cuddle buddy-nya temu darat. Kemudian beberapa kali mereka saling mendatangi tempat tinggal masing-masing. Setelah penjajakan dan ngobrol panjang, mereka sepakat kelon tanpa seks sama sekali.

"Waktu itu aku juga sempat tanya dia [alasannya pengin kelon doang], I asked him what was the reason. Dia cuma jawab, 'sepi aja.' Dia agak tertutup sih orangnya," imbuhnya. Heidi pun sampai pada kesimpulan bahwa kesepian bagi orang seusianya di kota besar amat nyata, dan menjadi semakin prevalen di era media sosial.

"Menurut aku, [anak muda] sekarang benar-benar kesepian karena mereka melihat banyak hal menyenangkan di medsos, kemudian mereka merasa tidak melakukan apapun sama hidupnya."

Tapi mengapa puas dengan cuddling saja? Apa yang spesial dari kelonan sama orang yang belum dikenal, bahkan tidak bisa disebut pacar? Heidi diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "mungkin karena gue pengin merasa kalau gue layak dapat kasih sayang."

"When sex sometimes is pure physical, cuddling is better because you have someone yang bisa elo pelukin dan gemes-gemesin," imbuhnya. "Kayak punya cowok atau pacar, tapi sebenarnya enggak. That suits me and my fear of commitment."

Kata kunci itu, soal ketakutan terhadap komitmen, tampaknya perlu dicermati. Sebab, jawaban serupa disampaikan beberapa pelaku cuddling lainnya yang diwawancarai VICE.

Rashy, laki-laki dari Bekasi berumur 19 tahun, juga sempat cuddling dengan perempuan yang baru ia kenal beberapa hari. Meski hubungan mereka tidak berlanjut ke tahap lebih serius, dan juga tak pernah cuddling lagi sampai sekarang, dia memiliki pendapat yang sama dengan Heidi.

Menurut Rashy, tiap kali kenalan dengan orang baru, dia tak punya niat aktif mencari cuddle buddy. Meski begitu, dia punya keinginan mencari sosok yang dapat berbagi hubungan personal, lebih ke aspek emosional tapi tanpa harus direpotkan persoalan komitmen yang kadang menambah beban hidup.

"Keinginan to be intimate with someone itu selalu ada sih," kata Rashy. Dalam era Internet yang membuat hubungan berakhir dalam sekali swipe kiri, emosi yang intim jadi sangat berharga. Kalau yang dicari hanya pelampiasan hasrat seksual, metode selain seks sudah banyak tersdia. Setidaknya itu yang diyakini Rashy. "Itulah kenapa aku enggak terlalu suka cuddling atau bahkan seks cuma untuk senang-senang. I seek intimacy."

Indocuddle lahir karena sentimen serupa. Berbekal pengalaman pribadi yang sulit menemukan sosok untuk berkeluh kesah dan mendapat pelukan lantaran perceraian orangtuanya, Akbar Sahbana menggagas Indocuddle bersama beberapa teman. "Basically, saya dulu dari keluarga broken home, nah dari situ kepikiran keinginan untuk curhat dan memeluk sosok ayah," ujar Akbar saat diwawancarai Pikiran Rakyat. "Tapi saya bingung mau ke mana, karena sejak SD sudah tidak pernah bertemu lagi. Akhirnya saya kembangkan jenis layanan ini."

Lelaki 23 tahun itu sebelumnya pernah bekerja sebagai tenaga pemasaran di sekolah anak berkebutuhan khusus di Cikarang, Jawa barat. Dari pengalaman di sekolah itu soal kesehatan mental dan manajemen emosi, dia melihat celah bisnis, bahwa layanan afeksi ini bisa dikomersialisasi untuk orang dewasa.

Sayangnya, cuddle dengan orang asing bukannya tanpa risiko. Aktivitas ini bahkan sempat dihantui citra buruk beberapa bulan lalu. Pasalnya, beredar pengakuan di medsos, bahwa ajakan kelon sering dipakai oleh fakboi untuk meniduri teman kecan tanpa ada consent. Dalam skala lebih serius, cuddling pun dapat mengarah pada pelecehan dan kekerasan seksual. Pro-kontra cuddling jadi meluas menjadi bagaimana kita harus memaknai konsep consent dalam hubungan—bahwa bersedia diajak kelon tidak sama dengan pemberian izin penetrasi. Ketika relasi timpang yang terjadi, maka hasilnya tentu saja sudah masuk ranah pemerkosaan. Dimensi abu-abu yang rumit ini akan jadi topik liputan VICE berikutnya.

Meski di Indonesia dianggap belum lazim, permintaan jasa cuddling profesional sudah cukup tinggi di Jepang. Hal itu bisa kita lihat dari berdirinya cuddle cafe yang salah satunya terletak di Distrik Akihabara, Tokyo. Di sini, orang-orang datang dan membayar untuk tidur dalam pelukan lawan jenis. Hanya tidur bareng dan kelonan saja; tidak lebih.

Pilihan layanan di cuddle cafe beragam. Mulai dari waktu tidur 20 menit hingga 10 jam yang setara dengan_—bahkan lebih—_durasi tidur normal malam hari. Tarifnya tentu saja tergantung durasi, mulai dari setara Rp560 ribu hingga Rp5,6 juta sekali kelon.

Penjelasan sosiologis atas fenomena di Jepang ini kini mulai tersedia. Menurut pakar, layanan ini muncul karena institusi pernikahan sudah mulai luntur daya pikatnya bagi masyarakat Negeri Matahari Terbit. Fenomena ini di Jepang dikenal dengan celibacy syndrome alias sindrom membujang.

Anak muda tak lagi tertarik dengan seks, baik karena alasan reproduksi ataupun untuk senang-senang. Beberapa dipicu karena kelelahan bekerja. Kita tahu, durasi dan beban kerja di Jepang jauh melebihi negara-negara maju lainnya. Beberapa lagi mengungkapkan bahwa tidak ada alasan spesifik di balik keengganan tersebut. Pokoknya seks sudah tak menarik lagi buat anak muda Jepang. Titik.

Akibat meningkatnya tren itu, Jepang kini dinobatkan sebagai salah satu negara dengan angka kelahiran terendah. Data Catatan sipil Jepang per Januari 2017 mencatat, dari populasi total 123 juta jiwa, jumlah itu diprediksi bakal menyusut hingga tinggal sepertiganya saja pada 2060.

Nyatanya tempat-tempat yang menawarkan jasa cuddle tetap diterima dengan baik di Negeri sakura. Sebab, bagi orang aseksual sekalipun, merasakan kasih sayang adalah kebutuhan pokok. Jasa cuddling profesional juga perlahan makin membesar di Amerika Serikat. Cuddling disebut-sebut sebagai bentuk terapi psikologis, sama halnya seperti yoga dan meditasi.


Simak wawancara kami dengan pesepakbola perempuan profesional di Indonesia:


Di mata Zoya Amirin—psikolog seksual yang berpraktik di Jakarta—munculnya keinginan kelon dengan orang asing di kota-kota besar Indonesia tidak mengejutkan sama sekali. Layaknya makan dan bernapas, sentuhan fisik tergolong sebagai kebutuhan pokok bagi manusia. "Sentuhan antar manusia dapat merilis hormon oksitosin, endorfin, dan juga dopamin. Ketiganya berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih stabil," kata Zoya kepada VICE.

Menanggapi fenomena 'cuddle and no sex' di antara dua orang yang tidak menjalin hubungan khusus ini, menurut analisa Zoya, dipengaruhi oleh mentalitas anak muda yang sekarang cukup nyaman berada di tahap pertama triangular theory of love. Tahap awal, disebut passionate merupakan masa di mana rasa berbunga-bunga alias kegembiraan PDKT mendominasi pasangan.

"Kebanyakan orang cuma mau di fase itu aja. Enggak mau ke tahap selanjutnya, yaitu tahap rasa intim dan komitmen," ungkap Zoya. Beragamnya teknologi yang dapat menyita perhatian kita, bahkan yang spesifik untuk melampiaskan hasrat, menurut Zoya berpengaruh membentuk mentalitas enggan berkomitmen tadi. "Mungkin karena di zaman-zaman ini quick gratification is a thing. Tapi enggak banyak [kepuasan] yang bertahan lama."

Jika cuddling secara profesional ini kelak bisa menjadi industri jasa tersendiri di Tanah Air, Zoya menilai berarti ada banyak anak muda yang sebenarnya membutuhkan cinta. "Agak menyedihkan, tapi bisa dimaklumi juga. Karena kita butuh cinta, dan sentuhan fisik seperti cuddling adalah salah satu wujud ekspresi cinta," urai Zoya.

Nilai plus dari cuddling adalah kemampuannya membuat pelaku rileks, baik dalam hal aktivitas fisik, sampai urusan moral.

"Enggak semua orang setuju dengan seks sebelum menikah, atau mungkin lagi enggak mood karena kecapekan. Tapi kalau cuddling bisa kapan saja, karena it's always a good time for love," kata Zoya.

Heidi sendiri belum terbayang hendak memanfaatkan jasa kelon berbayar. Namun, dia merasa bersyukur. Pelukan yang intim dan sederhana bersama orang asing itu, melepas semua beban yang memenuhi pundaknya bertahun-tahun.

"Karena setelahnya kamu merasa nyaman. Kamu lupa pernah merasa tidak percaya diri. Rasa nyaman dan membahagiakan itu memenuhi dirimu, meski singkat saja."