Iklan
sains dan teknologi

Ilmuwan Selidiki Otak Manusia Berusia 2.500 Tahun yang Masih Awet

Jaringan saraf otak milik lelaki yang tewas terbunuh di utara Inggris pada Zaman Besi itu masih utuh. Lantas apa penyebabnya?

oleh Becky Ferreira
09 Januari 2020, 12:00pm

Otak Heslington. Gambar: York Archaeological Trust

Sekitar 673-482 SM, seorang laki-laki tewas terbunuh di dekat kota Heslington bagian utara Inggris. Kepalanya terpenggal dan dibuang ke dalam lubang. Sementara sisa tubuhnya hilang entah ke mana.

Pada 2008, sejumlah arkeolog tak dapat mempercayai apa yang ada di depannya. Mereka menemukan tengkorak lelaki itu, dan otaknya masih utuh. Otak Heslington ini telah membingungkan para ilmuwan selama belasan tahun. Bagaimana mungkin otaknya masih utuh, padahal biasanya jaringan saraf akan cepat hancur setelah mati? Dalam otak Heslington, jaringan ini adalah satu-satunya yang tidak membusuk.

Ahli saraf Axel Petzold dari University College London memimpin tim peneliti untuk mempelajari sampel jaringan dengan berbagai teknik molekuler. Misteri awetnya otak tersebut diselidiki selama satu tahun.

Diterbitkan Rabu (8/1) dalam Journal of the Royal Society Interface, hasilnya menunjukkan protein khusus di otak adalah alasan mengapa otaknya tidak mengalami pembusukan enzim. Protein ini membentuk agregat kuat yang tahan terhadap pembusukan. Penelitian mereka tidak hanya menjelaskan sifat-sifat organ ini saja, tetapi juga bisa diaplikasikan dalam ilmu saraf dan arkeologi modern.

“Protein otak manusia tidak mungkin bisa diawetkan selama ribuan tahun pada suhu sekitar di alam bebas,” tulis Petzold. Oleh karena itu, “massa cokelat-kekuningan” otak Heslington “menawarkan kesempatan unik untuk menggunakan alat molekuler dalam menyelidiki protein otak manusia yang awet,” mereka menambahkan.

1578505661776-rsif20190775f01
Gambar otak Heslington oleh Axel Petzold dkk.

Meski spesimen Heslington bukan satu-satunya contoh pengawetan otak dalam sejarah arkeologis, tim peneliti beranggapan peristiwa ini cukup luar biasa karena “tidak ada tanda-tanda rambut, kulit, atau jaringan lunak” selain jaringan saraf.

Untuk menemukan perbedaan dari otak ini, Petzold dkk menyaksikan pembusukan jaringan otak Heslington dan modern selama setahun. Mereka juga menggunakan teknik presisi seperti spektrometri massa untuk menganalisis sampel, dan mengamati perilaku antibodi yang dihasilkan sel-sel otak kuno itu.

Percobaannya mengisolasi filamen menengah, sejenis struktur ikat saraf, sebagai sumber utama stabilitas di otak Heslington. Kalau jaringan otak biasanya terurai oleh enzim protease setelah mati, filamen di otak Heslington kebal terhadap efeknya. Filamen-filamen ini membentuk agregat protein kuat yang menjadi alasan strukturnya masih utuh.

Walaupun belum jelas kenapa filamen membuatnya kebal, peneliti berspekulasi ada semacam senyawa pengawet yang mungkin meresap ke dalam tengkorak dari endapan di lubang pembuangan.

“Jika digabungkan, data mengusulkan kemungkinan protease otak Heslington kemasukan senyawa tak dikenal yang menyebar ke struktur otak lebih dalam,” para ilmuwan melanjutkan.

Hasilnya memiliki implikasi untuk mengungkap mekanisme di balik kondisi neurodegeneratif yang terkait dengan pembentukan agregat, seperti penyakit Alzheimer atau Creutzfeldt-Jakob.

Lelaki itu mungkin tewas mengenaskan, tapi setidaknya otak dia bisa utuh hingga ribuan tahun.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.
Tagged:
york
neuroscience
University College London
Inggris
heslington brain
otak heslington
penyakit neurodegeneratif
ilmu saraf