Olah Raga

Investigasi VICE: Penyebab Orang Indonesia Jago Badminton

Prestasi Indonesia di bidang bulu tangkis cukup mentereng, bahkan selama 90-an negara ini sangat dominan. Kok bisa ya? Kami menemui Christian Hadinata untuk mencari jawabannya.

oleh Abdul Manan Rasudi
06 April 2017, 7:48am

Foto dari situs Badminton World Federation.

Belakangan, saya punya hobi baru: menonton rekaman pertandingan ganda putra peringkat satu dunia saat ini, Kevin Sanjaya Sukomuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Tak terhitung kuota internet yang sudah saya habiskan untuk menonton pertandingan mereka, entah itu di sela-sela jam kerja, saat menunggu datangnya ojek online, atau bahkan saat mendekam di toilet. Alasan saya menonton rekaman-rekaman itu simpel saja: (pertandingan) bulutangkis membuat saya lupa banyak hal menyebalkan. Salah satunya kegaduhan pilgub DKI Jakarta.

Beruntung kalau menyangkut bulutangkis orang Indonesia bisa sering menepuk dada, lantaran atlet-atlet kita memang jago. Orang sering bilang penduduk Indonesia gila sepakbola. Tapi tentu kita harus sadar diri melihat performa tim nasional sepakbola yang hanya ada di peringkat semenjana: urutan 167 dunia.

Sebaliknya, bulutangkis selalu jadi lumbung berita gembira ketika penduduk Indonesia dirundung kabar buruk. Misalnya saat saya dibikin sebal atas skandal megakorupsi e-KTP, bulutangkis lekas menyiapkan penawarnya: Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon berhasil mempertahankan gelarnya di Kejuaran India Open 2017. Masih kurang membahagiakan? Anda tahu siapa pasangan dikandaskan duo minion di final? Siapa lagi kalau bukan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, senior mereka di Cipayung. All Indonesian final di gelaran superseries adalah barang langka, sehingga layak bila kebahagiaan kita pun bertambah. Indonesia berhasil mempertahankan tren positif cabang bulutangkis di abad 21, tapi kita harus mengakui bahwa capaian generasi atlet sekarang belum ada apa-apanya. Jagoan badminton Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan pada dekade 90-an. Baik untuk atlet lelaki maupun perempuan—yang sampai sekarang belum terulang.

Lalu muncul pertanyaan sepele tapi sering bikin saya garuk-garuk kepala ini: kok orang Indonesia jago banget main bulutangkis sih?

Saya orang yang optimistis dan punya prinsip sederhana. Setiap pertanyaan pasti ada jawabnya. Atau kalau pun engga ada, pasti ada pakar yang menunggu kita tanyai. Dan mengingat pertanyaan ini menyangkut bulutangkis—cabang yang bikin kita bangga jadi manusia Indonesia—saya tak mau tanggung-tanggung: saya wajib sowan langsung pada Christian Hadinata!

Christian Hadinata adalah raksasa sejati bulutangkis dunia. Sebagai pemain, meski pernah mencapai final kejuaraan bergengsi All England di nomor tunggal pada 1973, Koh Chris—begitu dia kerap disapa—melegenda sebagai spesialis ganda putra dan campuran. Guna menggambarkan betapa luar biasanya Koh Chris, ingat-ingat saja fakta ini: dia bisa berpasangan dengan siapapun. Ade Chandra, Lius Pongoh, Retno Kustijah, Atik Jauhari, Imelda Wiguna, Ivana Lie, Lim Swie King, atau bahkan sang juara dunia yang kerap ragu Icuk Sugiarto—hasilnya cuma satu: gelar juara (hampir) selalu dalam genggaman.

Christian Hadinata pada masa keemasannya akhir dekade 70-an. Arsip foto oleh PB Djarum.

Setelah pensiun, Koh Chris ternyata tetap moncer sebagai pelatih. Tangan dingin Koh Chris melahirkan begitu banyak ganda putra kelas dunia macam Antonius/Denny Kantono, Rexy Mainaky/Ricky Subagja, dan Candra Wijaya/Sigit Budiarto. Berbekal rekam jejak seperti ini, lelaki berumur 67 tahun itu adalah narasumber terbaik dalam upaya menyelidiki rahasia kehebatan pemain badminton Indonesia.

"Atlet-atlet kita banyak memang punya bakat yang luar biasa," ujar Koh Chris menyangkut tradisi orang Indonesia jadi kampiun kejuaraan bulutangkis. Pria yang kini menjabat sebagai penasihat teknis Klub PB jarum ini percaya bahwa orang Indonesia beruntung dikaruniai talenta bermain bulutangkis, disokong bibit pemain yang berterbaran di seluruh nusantara.

"Setidaknya dalam seleksi pemain bulutangkis di bawah usia 13 dan 11, minat orang Indonesia masih sangat tinggi. Di (seleksi PB Jarum) Pekanbaru saja, jumlah pesertanya hampir mencapai 500 orang. Trennya terus naik," imbuhnya.

Dulu permainan ganda putra sangat stylish dan terkesan lamban. Menyadari tak akan bisa bersaing dengan pasangan Eropa, Christian Hadinata dan Ade Chandra memilih menciptakan gaya permainan bulutangkis mereka sendiri. Keduanya terus menerus memaksa menurunkan bola dan tak memberi kesempatan permainan lawan berkembang. Permainan bulutangkis ganda putra tak pernah sama lagi sejak saat itu.

Satu pertanyaan mengganjal. Bagi saya, olahraga permainan apapun selalu dipengaruhi postur dan tinggi badan. Celakanya, untuk yang satu ini, orang Indonesia tak mujur-mujur amat. Menurut catatan disabled-world.org, rerata tinggi penduduk Indonesia adalah hanya 158cm (laki-laki) dan 147cm (perempuan) sementara tinggi minimal yang ideal pemain bulutangkis adalah 170cm. Pertanyaannya jelas: apakah talenta cukup untuk menutupi kekurangan yang satu ini?

"[Pengaruh postur] masih diperdebatkan, tapi dari pengalaman saya, tinggi badan tidak terlalu berpengaruh," tutur Koh Chris. "Atlet-atlet kita yang tidak begitu tinggi punya prestasi yang luar biasa. Sebut saja Hastomo Arbi, Susi Susanti, Mia Audina. Yang terbaru ya Kevin dan Gideon sampai-sampai disebut duo minion."

Koh Chris—yang semasa muda dikenal sebagai playmaker berbahaya di depan net—cenderung percaya bahwa postur pendek bukan masalah sama sekali. Bulutangkis bukan olahraga fullbody contact. Faktor ini menisbikan pentingnya postur yang menjulang. Selain itu, pemain bertubuh mungil masih masih bisa menambal "kekurangan fisiknya" dengan kecepatan.

Perkara kecepatan, Koh Chris memang pakarnya. Dia sudah membuktikan hal itu tatkala menjadi kampiun gelaran All England 1972. Di masa itu, permainan ganda putra sangat stylish dan terkesan lamban, banyak bergantung pada stroke dan penempatan shuttlecock yang ciamik. Menyadari tak akan bisa bersaing dengan pasangan Eropa, Christian Hadinata dan Ade Chandra menciptakan gaya bermain mereka sendiri. Keduanya terus menerus memaksa menurunkan bola dan tak memberi kesempatan permainan lawan berkembang. Perjudian itu terbayar. Pasangan yang pertama kali berlaga di All England itu keluar sebagai kampiun. Permainan bulutangkis ganda putra dunia tak pernah sama lagi sejak saat itu.

Bagi Koh Chris, postur juga tak lebih penting dari insting. "Kalau insting dan feeling kita bagus, sepertinya bola yang mengarah ke kita, bukan kita yang mengejar bola," ujarnya.

Baiklah, postur bukan rintangan bagi orang Indonesia. Namun, masalahnya talenta bulutangkis bukan secara ekslusif dimonopoli Indonesia—Tuhan juga bermurah hati membaginya ke negara-negara Asia lainnya terutama Cina, Korea Selatan, Malaysia, Jepang serta belakangan Thailand. Atlet-atlet lawan itu semakin lama makin punya kecepatan dan insting yang sama tajamnya dengan binaan PBSI. Yang jadi pertanyaan: kalau negara lain—terutama negara Asia—punya bekal yang sama, lalu apa dong yang menjadi pembeda warga negara Indonesia di pentas badminton dunia?

Jawabannya, karena pemain bulutangkis Indonesia punya ciri khas dalam variasi pukulan yang kaya. Secara umum, mengutip penjelasan Koh Chris, pebulutangkis Cina dan Korea misalnya terkenal dengan permainan keras. Kalau cuma mau meladeni smash keras, kita menang banyak. Indonesia punya banyak atlet dengan persenjataan pukulannya lengkap. Nama-nama seperti Taufik Hidayat, Tri Kusharjanto, Iie Sumirat hingga Kevin Sanjaya langsung disebut Koh Chris sebagai pemain petarung yang siap diajak rally maupun adu smash.

Sayang seribu sayang, variasi pukulan yang lengkap adalah anugerah, tak cukup hanya dari latihan. Kemampuan ini mustahil ditumbuhkan di padepokan bulutangkis manapun, entah itu di Cipayung, Slipi, Kudus, atau Surabaya. Kemampuan mengeluarkan pukulan aneh bin ajaib bagi Koh Chris, "sudah dari sononya dan engga bisa diajarin."

Sampai di sini, formula keberhasilan pemain bulutangkis Indonesia di atas kertas sederhana: talent yang membuncah+speed+insting+variasi pukulan yang kaya. Tentu saja rumus ini sudah mencakup latihan keras yang menurut Koh Chris metode sama seperti yang diterapkan negara-negara Asia lainnya. Mendengar jawaban itu, muncul lagi satu pertanyaan susulan: jika memang mantan pelatih senior Indonesia tahu resep pemain lokal yang bagus, kok bisa-bisanya Indonesia masih menghadapi paceklik gelar di nomor ganda putri, tunggal putra, dan tunggal putri?

Ada yang salah di tiga sektor tersebut. Kita tak lagi menemui nama pemain Indonesia di sepuluh besar ranking pebulutangkis dunia di nomor tunggal putra dan putri. Di ganda putri, kondisinya lebih baik, ada nama Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di nomor delapan dunia. Tapi, kita tahu prestasi pasangan ini semenjana. Tolak ukur lain mandegnya prestasi Indonesia, terutama di sektor putri, adalah catatan buruk kita di ajang Uber Cup, supremasi tertinggi beregu putri dunia. Sejarah menunjukkan tim putri kita terakhir masuk final Uber Cup pada 2008 (untuk kemudian dicukur Cina 3-0). Di tiga gelaran Uber Cup terakhir, Indonesia bahkan gagal jadi runner up grup.

Lantas di mana masalahnya?  Apakah kita kesusahan mencari bibit pemain pasca Mia Audina atau Susi Susanti? Koh Chris bilang masalah sektor putri bukan dalam hal bibit pemain.

"Analisa pribadi saya sih sebaiknya dalam tiap nomor idealnya harus ada pemain yang dijadikan panutan atau mentor," ujarnya. Fungsi mentor seperti ini berjalan di ganda putra dan ganda campuran dan pernah dipegang oleh pemain macam Hendra Setyawan dan Lilyanana "Butet" Natsir. Merekalah yang menurut Koh Chris menjadi pemandu rekan-rekannya—terutama pemain junior—mencapai level permainan tingkat dunia. Bagi Koh Chris, inilah yang absen terutama di sektor putri. "Saya berharap seorang Greysia Polii bisa jadi leader (dan mentor) di ganda putri, tapi engga tahu kenapa ganda putri kita susah bangkit."

Sebenarnya, sampai di sini semua rasa penasaran sudah terpuaskan. Tapi, mumpung bisa bersemuka dengan Christian Hadinata, saya gatel melontarkan pertanyaan yang paling mengganjal sekaligus paling sensitif menyangkut bulutangkis Indonesia: apa benar bulutangkis Indonesia (bakal) terus didominasi atlet keturunan Tionghoa?

Pertanyaan ini sepintas sepele. Namun, dominasi atlet Tionghoa punya dua sisi mata pisau. Di satu sisi, bulutangkis jadi salah satu kanal bagi etnis keturunan Tionghoa untuk diakui sebagai WNI tulen terutama pasca 1965, seperti yang dialami Susi Susanti dan Tan Joe Hok.

Di sisi lain, dominasi ini jadi pemicu munculnya desas-desus sensasional di ranah badminton. Tahun 1983, Icuk Sugiarto berhasil keluar sebagai juara dunia di nomor tunggal putra. Sebelum Icuk berjaya, kejayaan nomor ini selalu diasosiasian dengan dua nama saja: Rudy Hartono dan Lim Swie King, dua pemain bulutangkis keturunan Tionghoa. Alhasil, muncul isu bahwa Icuk jadi kampiun lantaran King mengalah.

Saya penasaran bagaimana Christian Hadinata menanggapi rumor klasik ini. Diiringi senyum, Koh Chris tak menyangkal bahwa etnis Tionghoa punya peranan besar dalam kancah Badminton Indonesia. Namun, baginya, itu lantaran mereka kebetulan mengenal Badminton lebih dahulu. Plus, katanya, menurut dugaannya pemain Tionghoa rata-rata punya etos kerja yang gigih, miriplah yang kita temukan dalam ranah bisnis. Di luar itu, sama saja. Bahkan, pada akhirnya muncul juga talenta luar biasa dari etnis Indonesia lainnya. Sebut saja, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Sigit Budiarto, Taufik Hidayat, serta Iie Sumirat.

Khusus untuk Iie Sumirat, Koh Chris punya kenangan tersendiri. Dikirim ke kejuaraan Asia 1976, Koh Chris melihat langsung bagaimana Iie dengan segala pukulan tipuannya berhasil menghabisi Tong Sin Fu dan Hou Jia Chang—duet pemain berbahaya asal Tiongkok. di matanya, ini adalah capaian yang tak main-main mengingat keduanya belum terkalahkan waktu itu. "Kalau ada videonya, final Iie Sumirat vs Hou Jia Chang itu lebih menarik dari final All England 1976 antara King dan Rudy."

Hal yang sama, dia ucapkan mengenai Icuk. Tanpa ragu, Koh Chris mengatakan Icuk pantas jadi juara dunia. "Saya sering sekamar sama Icuk, kami kan dulu pernah dipasangkan. Jadi saya tahu kerja kerasnya. Icuk jadi juara dunia itu bukan kebetulan."

Singkatnya: Bulutangkis Indonesia bukan cuma milik etnis Tionghoa. Kalau udah jago mah, jago saja, tak peduli apapun etnisnya.