Iklan
Culture

Indonesia Harus Mengakui Punya Masalah Akut Pemerkosaan

Budaya yang mendukung pemerkosaan tersebar di Indonesia. Kita bisa menemukannya di guyonan-guyonan cabul, lagu-lagu populer, hingga sikap polisi. Kita harus melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

oleh Putri Widi Saraswati
24 November 2016, 7:10am

Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina.

Masyarakat Indonesia masih menganut sistem patriarki. Ini fakta yang saya bisa terima. Saya juga sanggup mentoleransi kenyataan banyak pengacara di negara kita gagal memegang teguh integritas profesi. Namun jujur, perut saya mulas membaca komentar yang dikeluarkan oleh anggota tim pengacara "guru spiritual" Aa Gatot.

Jika anda sudah agak lupa atau tak pernah mengikuti berita selebriti Indonesia, biar saya berikan sedikit latar belakang. Bernama asli Gatot Brajamusti, Aa Gatot adalah mantan aktor yang kemudian mengakrabi dunia mistis, mengubah citranya menjadi seorang guru spiritual. Dia terancam dipenjara karena dugaan kepemilikan sabu, senjata api ilegal, dan koleksi satwa langka tanpa izin dua bulan lalu.

Tapi, cerita ini belum selesai. Setelah Aa Gatot ditangkap polisi, seorang wanita muda berinsial CT menuduh Aa Gatot memperkosanya selama sembilan tahun berturut-turut. Gatot memaksanya mengugurkan janin dua kali (CT memutuskan tetap melahirkan anak yang ketiga, sekarang berumur empat tahun). Pengacara CT mengatakan kliennya baru berumur 16 tahun ketika dia bertemu Aa Gatot. Sang guru spiritual berjanji melejitkan karir CT sebagai penyanyi dangdut terkenal. Janji itu tak pernah ditepati.

Anggota kuasa hukum Aa Gatot, bernama Ahmad Rifai, menyerang balik CT dengan kata-kata paling menjijikan yang pernah saya dengar dari seorang pengacara. Dia mengatakan kalau memang terjadi pemerkosaan selama kurun 2007-2011, tentu CT sudah melapor ke polisi. Intinya, jika seorang wanita melakukan hubungan seksual dengan seorang pria berkali-kali dan tidak mengeluh atau melaporkan hal ini ke polisi, artinya si wanita sudah "ketagihan".

Tim pengacara Gatot berargumen klien mereka dan CT sudah menikah sebelum berhubungan seks. Ada bukti surat resmi dari negara? Tentu tidak. Rifai mengatakan bahwa mereka menikah mutah dan tidak tercatat hukum. Belakangan CT dianggap sebagai wanita pembohong yang berusaha memanfaatkan situasi. Pihak Aa Gatot menuntut balik CT atas pasal pencemaran nama baik dan tuduhan memberi keterangan palsu di hadapan penyidik.

Mungkin sebagian dari anda yang mengikuti perkembangan kasus Aa Gatot akan penasaran, kenapa saya membicarakan isu ini sekarang padahal detail-detailnya tuntas dibahas media massa sejak akhir September lalu. Poin utama yang ingin saya bahas adalah fakta menyedihkan (namun sering disangkal dan diabaikan): banyak warga Indonesia menyetujui secara diam-diam pernyataan tim pengacara Aa Gatot. Terlalu sering kita mendengar sebutan "perempuan nakal", "cewek matre" dan lain sebagainya. Intinya perempuan yang dikesankan memanfaatkan daya tarik mereka demi mendapat uang dan kekuasaan dari pria. Masih banyak juga warga Indonesia, yang tidak mengerti—atau menolak untuk mengerti—sifat, cakupan, dan definisi pemerkosaan.

Definisi pemerkosaan yang komprehensif bisa ditemukan dari Komnas Perempuan. Pemerkosaan didefinisikan sebagai "serangan yang diarahkan pada bagian seksual dan seksualitas seseorang menggunakan organ seksual (penis) ke organ seksual (vagina), anus atau mulut, atau dengan menggunakan bagian tubuh lainnya yang bukan organ seksual atau pun benda-benda lainnya. Serangan itu dilakukan dengan kekerasan, mengguanakan ancaman kekerasan ataupun pemaksaan sehingga mengakibatkan rasa takut akan kekerasan, di bawah paksaan, penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang koersif, atau serangan atas seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan yang sesungguhnya."

Berkebalikan dari definisi mendetail itu, hukum pidana Indonesia memaparkan pemerkosaan terbatas pada pembuktian adanya kekerasan fisik atau ancaman kekerasan, penetrasi penis ke dalam vagina, dan hubungan seksual di luar pernikahan.

Bagaimana dengan penyalahgunaan kekuasaan? Banyak wanita menghadapi situasi ini di kehidupan sehari-hari. Bayangkan jika kamu seorang pelajar perempuan, atau karyawati, atau seorang istri/pacar perempuan. Lalu guru/bos/suami/pacar lelaki anda ingin melakukan hubungan seksual. Dia tidak peduli apa yang kamu inginkan. Dia ingin seks. Sekarang. Titik. Kamu akan melakukan apa? Mengetahui apa yang dia bisa lakukan ke dirimu dan hidupmu, apa kamu berani menolak?

Bukankah itu tergolong pemerkosaan? Menurut definisi Komnas Perempuan: iya, tindakan itu sudah termasuk pemerkosaan. Sedihnya, kasus-kasus seperti ini jarang berujung pada vonis hukuman bagi pelaku. Saya berbincang dengang Yohanna Wardhani, praktisi hukum yang sebelumnya bekerja untuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum APIK dan sekarang bekerja sebagai seorang konsultan di MAGENTA Legal Research and Advocacy. Dia mengatakan dalam 10 tahun pengalaman menjadi pengacara perempuan-perempuan korban kekerasan seksual dan domestik, kebanyakan kasus berakhir tanpa hukuman bagi pelaku.

"93 persen korban pemerkosaan di Indonesia tidak membuat laporan resmi ke polisi."

Ada beberapa kasus korban yang langsung melaporkan tindakan kekerasan mendapat respon yang pantas dari aparat hukum, kata Yohanna. Namun kebanyakan, korban enggan melaporkan kekerasan seksual karena takut tidak akan ada yang percaya pada kesaksian mereka. Para korban juga takut dianggap "cabul" atau "amoral" oleh komunitas dan keluarga. Pada kasus-kasus lainnya, wanita yang ketakutan menjadi tidak berdaya dan bahkan tidak mencoba melawan penyerang mereka. Tanpa bukti fisik adanya perlawanan, Yohanna sebagai pendamping harus mengandalkan keterangan para korban—sayangnya walau sudah ada bantuan psikolog profesional, semua ini seringkali tidak cukup menghukum pelaku.

Ada statistik yang mendukung pernyataan Yohanna. Survei Lentera Sintas Indonesia dan situs Magdalene.co melaporkan 93 persen korban pemerkosaan tidak membuat laporan resmi ke polisi. Hanya 1 persen dari semua laporan yang berhasil berujung pada hukuman bagi pelaku. Alasan utama bagi perempuan tidak melaporkan sebuah tindak kejahatan ke pihak polisi adalah takut disalahkan.

Sedikitnya jumlah pemerkosa yang dijatuhi hukuman, ditambah ketakutan korban akan dipersalahkan saat melaporkan kejahatan seksual, melambangkan masalah yang jauh lebih besar: penolakan mayoritas masyarakat Indonesia mengakui dan menghadapi masalah budaya pemerkosaan yang serius.

Mungkin bagi beberapa orang definisi budaya pemerkosaan itu belum jelas seperti apa. Berikut contoh nyata dari kehidupan saya sehari-hari. Suatu hari di puskemas tempat saya bekerja, seorang rekan kerja—ayah dari dua anak remaja perempuan—melontarkan sebuah gurauan. Leluconnya membahas anekdot seorang petani wanita yang membungkuk, berusaha mencabut akar singkong yang keras. Punchline dari lelucon tersebut melibatkan seorang pria berjalan ke belakang petani wanita dan memasukkan penisnya ke dalam sang wanita tanpa izin. Semua orang tertawa keras di kantor, selagi saya mencoba menahan muntah karena jijik.

Kita semua pernah mendengar gurauan semacam ini. Lelucon tentang pemerkosaan. Lelucon tentang kekerasan seksual. Mungkin ini sudah jadi semacam genre komedi sendiri. Lagu-lagu pop pun banyak yang liriknya melukiskan pemerkosaan. Dan kita semua pasti bersalah karena pernah ikut menyanyikan lagu-lagu semacam ini atau menertawakan lelucon menjijikkan itu, seakan-akan tidak ada yang salah dengan semuanya. Kondisi inilah yang dimaksud budaya pemerkosaan. Kita kadang diajarkan agar menerima kelucuan dari komedi menyinggung pemerkosaa. Bahwa pemerkosaan bukan masalah besar. Mungkin kita tidak sadar, tapi perilaku semacam ini menjadi bagian dari budaya Indonesia. Kita menjadi terbiasa dan toleran. Suatu hari nanti bisa saja kita berhenti memperdulikan korban pemerkosaan, karena sudah jadi hal biasa, kan?

Budaya pemerkosaan mengajarkan bahwa wanita hanyalah obyek seksual semata. Bahwa tubuh dan jiwa perempuan sama dengan seks. Seorang pria mungkin menginginkan seks, atau bahkan butuh seks, tapi seorang perempuan dianggap sama dengan seks. Ketika seorang wanita menolak, budaya pemerkosaan mengatakan "tapi sebetulnya kamu mau kan. Gak usah malu-malu." Ketika si wanita menolak lagi, budaya pemerkosaan kembali menuding, "kamu itu hanya obyek — sesuatu yang bisa saya nikmati kapanpun saya mau."

Sampai akhirnya, ketika untuk ketiga kalinya si wanita menolak pemaksaan seksual itu, budaya pemerkosaan berteriak "Eh, tidak ada yang akan percaya pada pengakuan kalau kamu dipaksa!"

Kebanyakan masyarakat kita, sayangnya, menyetujui gagasan dalam budaya pemerkosaan. Inilah kenyataannya. Di Indonesia, tidak banyak orang menyadari budaya pemerkosaan adalah sebuah masalah serius.

Putri Widi Saraswati menulis topik-topik feminisme, persoalan gender, dan pendidikan seks bagi bermacam media, termasuk di antaranya adalah situs Magdalene. Dia bekerja sebagai dokter di puskesmas sekaligus kolektor buku kelas kakap.

'Views My Own' adalah ruang di VICE Indonesia untuk opini, komentar peristiwa, serta analisis. Anda punya esai atau opini yang ingin dibagikan pada khalayak luas? Silakan kirim email berisi ide tulisan itu ke indonesia@vice.com.

Tagged:
indonesia
Views My Own
Vice Blog
Aa Gatot
Kekerasan Seksual
Pemerkosaan
budaya pemerkosaan
Kasus Aa Gatot
LBH APIK