Acara televisi

Dilema Para Penulis 'Pabrik Naskah' Sinetron Indonesia

Apa alasan cerita sinetron Indonesia bermutu buruk? Kenapa banyak tokoh utama dimatikan? Simak wawancara kami bersama penulis naskah sinetron stripping.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
04 Januari 2017, 8:42am

Gambar diambil dari tayangan RCTI Mobile

Ada tradisi unik yang sering muncul dalam cerita sinetron Indonesia. Nyaris selalu ada episode menayangkan adegan tokoh utama (atau figuran) ditabrak kendaraan di jalan raya. Ambil contoh sinetron Anak Jalanan, acara drama televisi dengan rating tertinggi di negara ini. Pada episode 770, publik gempar. Boy, tokoh utama serial ini, meninggal tertabrak mobil saat ngebut naik sepeda motor, dalam perjalanan menolong Reva yang diserang geng motor 'Godzilla'. Kematian ini membuat penonton setianya menangis sesenggukan, tak terima idola mereka berhenti menghiasi layar kaca.

Kenapa Boy harus mati? Apakah memang karena kebutuhan plot? 

"Kita engga pernah tahu endingnya di mana. Tergantung rating," ungkap salah satu anggota tim kreatif Anak Jalanan. Sebut saja namanya Yonglek untuk artikel ini, karena dia keberatan identitas aslinya diungkap. 

Menurut Yonglek, dua pemeran utama Anak Jalanan, Boy (diperankan Stefan William) dan Reva (Nathasha Wilona) pernah pacaran di dunia nyata. Saat keduanya masih pacaran, share rating sinetron RCTI di jam tayang utama itu mencapai angka 40, setara capaian sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan dan siaran langsung Piala AFF ketika timnas Indonesia masuk final. Belakangan, beredar rumor kematian Boy tidak terkait rating atau kebutuhan cerita. Istri Stefan konon tidak suka suaminya masih berakting bersama Natasha Wilona, mantan kekasihnya. Solusinya? Boy harus dimatikan untuk memfasilitasi pengunduran diri Stefan. 

Kematian Boy tentu saja plot twist gila-gilaan, tapi seharusnya pecinta sinetron tidak perlu kaget. Ini hal biasa. Kualitas dialog yang mengundang tawa, inkonsistensi plot, karakterisasi yang dangkal, hingga buruknya teknis pengambilan gambar sudah banyak dikritik, kendati opera sabun tetap dicintai banyak orang di republik ini. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggelar survei tahun lalu, menyatakan sinetron adalah hiburan berkualitas paling buruk di layar kaca. Salah satu komisioner KPI sampai menyebut sinetron mendorong terjadinya pelecehan seksual dan maraknya tawuran di kalangan pelajar.

Suka tidak suka, sinetron terus diputar karena menjadi tambang uang bagi televisi. Sinetron, bersama dengan tayangan opera sabun impor dari Turki dan India, selalu berhasil meraih rating tinggi beberapa tahun belakangan. Lembaga pemantau siaran televisi, Remotivi, menyatakan ada kemunduran besar dari kualitas cerita sinetron saat ini dibanding era 90-an. Dua dekade lalu, serial Si Doel Anak Sekolahan berhasil meraih sukses dengan menawarkan cerita yang logis dan menarik semua kalangan.

"Kalau kita bandingin Si Doel sama sekarang itu kan jauh, ada kualitas di sana. Ada plot yang logis, yang jadi persoalan sekarang itu kan aku menduga ini berkaitan dengan pasar," kata Muhammad Heychael selaku Direktur Remotivi.

Yonglek, yang terlibat dalam beberapa produksi sinetron-sinetron Indonesia, menjelaskan bahwa cerita semacam itu muncul karena tuntutan industri. Dia menyatakan, seandainya para pemilik modal mau, mutu naskah sinetron bisa dibuat lebih baik. "Kita tuh engga kekurangan penulis cerita bagus sebenarnya," ujarnya.

"Cuma kalau sinetron itu ya gitu karena waktunya bayangin aja kita harus bikin satu episode satu hari, besok sehari lagi terus aja begitu tiap hari. Bayangin saja saya setahun lebih ngerjain itu setiap hari engga berhenti tanpa ada libur."

Saya tertarik mendalami proses kerja para penulis naskah drama televisi lainnya. Saya menghubungi Pitoresmi Pujiningsih, yang pada 2006 menulis skenario sinetron Mimpi Manis, diperankan Dewi Perssik. Pito—begitu julukannya—tidak mengerjakan sinetron stripping alias tayang setiap hari, tapi dulu dia tak kalah sibuk dari Yonglek. Pito dipekerjakan bersama empat orang lain oleh seorang penulis skenario kawakan. Timnya ditempatkan di satu kamar rumah, kawasan Jakarta Timur, menggarap bermacam-macam naskah. Masing-masing orang tidak tahu akan mengerjakan naskah apa setiap harinya. Kadang naskah mereka dipakai sinetron tertentu, sesekali untuk film televisi (FTV). "Kayak sweatshop sih bentuknya, tapi engga parah sih. Kerjaannya waktu itu tuh cuma tinggal nonton (tayangan) Korea atau Jepang gitu," ungkap Pito. "Itu tuh lebih kayak transkrip jadinya. Terus kami cuma mindahin itu ke dialognya. Serius!"

Nama Pito dan kawan-kawannya tidak dicantumkan untuk skenario yang mereka kembangkan. Saban hari, mereka hanya menulis setelah menerima pasokan ide dari petinggi Production House (PH). "PH itu punya satu orang India yang kerjaannya nonton film India. Dan dari situ dia kayak bikin paling banyak cuma tiga baris kalimat untuk tiap scene. Dari situ kita bikin dialog lah," jelas Pito. "Kami engga pernah ketemu. Beneran itu kerjanya kayak kartel, benar-benar blind." 

Para penulis skenario sinetron mengakui mutu karya mereka sangat rendah. Upaya swadaya penulis meningkatkan mutu skenario tidak digubris oleh para pemilik PH. Skenario wajib dibuat "sesederhana" mungkin, dengan alasan agar mudah dipahami penonton kelas C dan D yang berpendidikan rendah. "Aku tuh sering banget dibalikin naskah cuma karena it's too intelligent," kata Pito.

Salah satu adegan sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji'.

Alur cerita yang berbelit-belit turut menjadi keluhan banyak orang. Sinetron yang memecahkan rekor episode di Indonesia, Tukang Bubur Naik Haji, menderita persoalan ini. Plot utama serial sudah hilang sama sekali. Haji Sulam, si Tukang Bubur yang ingin naik haji, meninggal sejak episode 1.001. Dengan total 2.133 episode, tokoh utama hanya hidup tidak lebih dari setengah cerita yang sudah tayang. "Tukang Bubur Naik Haji itu produsernya aja udah enough, tapi stasiun TV-nya engga mau [berhenti]," ungkap Yonglek.

Bagaimana penulis skenario menyiasati cerita sampai ribuan episode semacam itu? Yonglek bilang, solusinya adalah membuat plot sebanyak mungkin. "Karena banyak ceritanya, jadi di dalam cerita itu ada cerita soal Haji Muhidin yang berantem terus, ada anaknya yang punya masalah, jadi ceritanya paralel jalan sendiri."

Solusi lain adalah memperbanyak karakter dalam satu serial. Tim kemudian memantau mana karakter yang disukai penonton. "Nah selama itu karakter masih disukain sama penonton, kita tinggal supply cerita aja. Ceritanya yang ngalir, ngalir, ngalir," urainya.

Supaya karakter disukai penonton televisi Indonesia, maka si tokoh wajib nyaris sempurna sebagai manusia. Harus cantik atau ganteng, saleh, suka menolong, dan bertanggung jawab. "Kalau dia dibikin menderita, dia engga mau membalas," kata Yonglek.

Bisa dibayangkan, dalam lanskap industri semacam itu, akan selalu muncul formula cerita semacam ini: Si cantik berjodoh dengan si ganteng, kaya, dan baik hati, atau nasib buruk terus-terusan menimpa para menantu mandul dan gadis desa yang hijrah ke kota. Barangkali memang hanya lewat sinetron, kita bisa menyaksikan Hello Kitty direbus, lalu satu keluarga berkumpul menangisinya.

Bukan cuma sebagian penonton televisi yang jengah melihat perkembangan sinetron. Presiden Joko Widodo sempat angkat bicara menyoal mutu drama televisi.

Heychael mewakili Remotivi, berharap presiden menjalankan otoritasnya mengatur dan memperbaiki siaran televisi. Adanya perang pemasukan antar televisi swasta merupakan biang kerok utama. "Ini kan yang terjadi begitu, perang harga macam-macam, persaingan ketat, dan ini berimbas pada produksi," ujarnya.

Sinetron populer seperti Tukang Bubur Naik Haji sebenarnya berhasil meraup keuntungan besar. Nominal pemasukannya mencapai triliunan rupiah sejak pertama kali tayang. Agaknya uang melimpah pun belum mendorong produser berinvestasi lebih baik mengembangkan mutu cerita.

Jika situasi terlanjur kusut begini, apakah para penulis skenario sinetron masih bangga melihat hasil karya mereka tayang di televisi?

"Aku terlalu malu untuk (menonton) hasil akhirnya," ujar Pito.