The Creators Project

Tumpahan Kopi Diubah Jadi Lukisan Indah untuk Menyemangati Harimu

Seniman AS Jon Norquist memanfaatkan kemubaziran berupa tumpahan kopi, menjadi seni yang enak dipandang.
02 Januari 2017, 4:21am

Artikel ini pertama kali tayang di The Creators Project.

Siapa sangka, tragedi kopi tumpah bisa menginspirasi seseorang menghasilkan karya seni abstrak yang menawan. Itulah yang dialami Jon Norquist, seorang seniman dari Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Karya-karya lukisanya melibatkan kesengajaan menumpahkan kopi ke kanvas putih. Tujuannya untuk menampilkan kontras menawan dalam warna coklat gelap hingga oranye pucat. Eksperimentasinya dimulai, gara-gara perkara sepele, sebuah ketel kopi murahan yang dibeli adik iparnya.

"Insiden itu terjadi lima tahun lalu. Adik iparku membelikan ketel kopi untuk istriku. Bibir ketelnya dirancang jelek sekali. Setiap menuang seduhan, pasti akan ada yang tumpah ke meja. Suatu ketika, aku terpaksa menyeduh kopi dengan ketel itu, seperti biasa, ada cairan yang tumpah ke lantai dan kakiku. Setelah kulihat-lihat lagi, rasanya kok tumpahan kopi itu bentuknya menarik ya. Aku jadi punya ide untuk bereksperimen menumpahkan kopi ke kanvas lalu mengutak-atik hasilnya," kata Norquist saat dihubungi lewat email.

Selama lima tahun terakhir, Norquist selalu menjajal beragam teknis agar lukisan tumpahan kopinya semakin sempurna. Dia belajar banyak soal mengatur lapisan antar gambar (layering), sebab lukisan ini tidak akan bagus juga Norquist serampangan menuang seduhan kopi ke kanvas. Seri lukisan yang telah menyita waktunya bertahun-tahun dan memaksanya berkomitmen belajar banyak ini, diberi nama  Coffee on Canvas.

Kepada The Creators Project, Norquist menjelaskan metodenya mengubah tumpahan kopi menjadi lukisan. Pertama-tama, kanvas yang akan ditumpahi kopi sebelumnya sudah dia cat dengan akrilik warna putih terang. Hasilnya, warna gelap dari tumpahan kopi akan sangat kontras. Selanjutnya, dia mulai menata area tumpahan itu di kanvas sesuai idenya, atau kadang dia tinggal menyesuaikan dengan sketsa yang sudah dia gambar lebih dulu. Ruang di kanvas yang ditumpahi kopi akan dibatasi dengan cairan frisket yang bisa mengeringkan lateks, sehingga jelas mana batas-batas yang tidak perlu ditumpahi. Semua proses itu dilakukan sambil menunggu kopi matang diseduh.

"Proses menumpahkannya itu yang paling menantang kreativitas," kata Norquist. "Kita harus menumpahkan di wilayah kanvas tertentu, agar sebagian warna putih tetap terlindungi, tidak ikut ketumpahan. Selain itu, layering dan pewarnaan harus dipersiapkan secara baik. Seiring waktu, saya semakin menguasai teknik menumpahkan sesuai porsinya ke kanvas. Pemahaman atas layering sangat penting," ujarnya.

Jika sudah dituang semua, Norquist akan mempertegas batas tumpahan dengan tinta. Ini proses yang paling membosankan dan menysika. "Aku harus mengarsir batas tumpahan manapun yang terlihat di kanvas. Kadang proses ini bisa berlangsung seharian karena aku harus memastikan tidak ada detail yang terlewat. Lama kelamaan aku sedikit bisa memanfaatkan perubahan tonal dari tumpahan kopi tanpa harus selalu dipertegas dengan garis bantuan dari tinta hitam," ujarnya.

Selama mengerjakan proyek ini, Norquist belajar banyak hal sebagai seniman. Misalnya saja, bagaiman mengakali sifat cairan kopi yang mengandung asam, yang sebetulnya tidak cocok digabung dengan tinta hitam. Dia pun menyadari bahwa harus ada pengeringan dalam kurun tertentu, supaya warna khas bisa muncul dari tumpahan kopi. "Kopi yang baru dituang ke kanvas biasanya akan berwarna oranye. Sementara kopi yang sudah dua hari tertumpah akan lebih berwarna coklat tua," urainya.

Simak karya-karya lain dari Jon Norquist dalam seri_ Coffee on Canva_s di tautan ini.