Lingkungan

Perempuan Kendeng: Mata Air Perlawanan Tambang Semen

Media massa menjuluki mereka 'Kartini Kendeng' karena rela menyemen kaki demi melawan ekspansi bermacam pabrik semen. Kami menemui para perempuan di jantung konflik agraria rumit Jawa Tengah.

oleh Adi Renaldi
14 Januari 2017, 8:04am

Semua foto oleh penulis

Wajah Siti Muryati terlihat letih. Saya menemui Siti sesudah dia selesai menggarap sawahnya seharian. Siti tinggal di dusun kecil Mbombong, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Mbombong terletak di jajaran Pegunungan Kendeng Utara yang sangat subur. Petani setempat, seperti Siti, rata-rata mengaku bisa panen sampai tiga kali dalam setahun.

Namun, sore itu daripada persoalan mengurus sawah, Siti lebih lelah mempersiapkan segala hal terkait aksi menolak pabrik semen yang berdiri di desanya. Beberapa bulan terakhir perjalanan darat sejauh 85 kilometer dari Pati menuju Ibu Kota Provinsi Semarang diakrabi oleh Siti dan belasan perempuan lain di desanya. Mereka menolak pendirian rencana pendirian pabrik sekaligus tambang semen milik PT Semen Indonesia. Megaproyek itu diyakini Siti akan menghancurkan kehidupan komunitas petani Kendeng Utara. Beberapa saat kemudian Hartati, bibi Siti, yang selesai menyapu halaman ikut dalam perbincangan kami.

"Kehidupan berubah di sini. Sejak ramai pabrik semen," kata Hartati dalam bahasa jawa kasar alias ngoko.

Hidup Hartati dan Siti selama ini sangat sederhana. Aktivitas harian mereka dipengaruhi oleh musim tanam padi. Sekarang, alih-alih hama wereng, mereka menghadapi ancaman yang lebih menggentarkan: rencana pendirian sekian pabrik semen atas sokongan penuh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Di Rembang, yang berjarak setengah jam dari desa Siti dan Hartati, rencana ekspansi Badan Usaha Milik Negara kalah di tingkat Mahkamah Agung. PT Semen Indonesia gagal mempertahankan izin penambangan batu kapur—bahan baku semen—di Kendeng Utara. Namun pemprov Jateng belum lama ini memantabkan niat merevisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), agar proyek pabrik semen tetap beroperasi pada 2018 sesuai jadwal.

Kengototan PT Semen Indonesia dan Pemprov Jateng direspons pula dengan sikap tak kalah keras para perempuan Kendeng. Perempuan Mbombong bersolidaritas dengan warga Rembang, terutama dari kalangan penganut ajaran Sedulur Sikep, secara aktif menolak pendirian pabrik yang mengancam mata air bawah tanah setempat. Beberapa hari sebelum saya temui, Siti baru saja kembali dari unjuk rasa di depan kantor Gubernur Jateng. Setiap dua hari dia pulang ke Mbombong mengurus ternak dan sawah, lalu kembali menggeruduk kantor pemerintah provinsi. Siti tidak akan berhenti, sampai pabrik semen itu berhenti beroperasi sepenuhnya. 

"Ini kan demi pelestarian untuk anak cucu nanti. Kalau sampai tanah ini dijual ke pabrik semen, anak cucu nanti kebagian apa," kata Siti.

Dia lantas menjelaskan pada saya secara artikulatif alasan perempuan Dusun Mbombong menolak semen.

"Ibu-ibu lah yang paling merasakan dampak pabrik semen," ujar Siti. "Soal lingkungan itu kan bukan cuma urusan bapak-bapak saja. Soal air itu kan lebih ke ibu-ibu. Ibu-ibu di rumah kan bangun tidur yang dicari langsung air. Nyiapkan makanan, mencuci beras, memasak untuk keluarga. Jadi ibu-ibu ya merasa air itu bukan cuma kebutuhan bapak-bapak. Ibu-ibu itu merasa dialah yang berperan untuk menyiapkan kebutuhan keluarga."

Siti Muryati (kanan) dan Hartati.


"Kami itu tidak ingin neko-neko," imbuh Hartati. Bagi orang Sedulur Sikep sepertinya, bertani adalah pusat kosmos mereka. Warga Sedulur Sikep menghindari transaksi uang. Mereka cuma membeli sesuatu jika benar-benar dibutuhkan. Bagi mereka bertani dan menghabiskan waktu bersama keluarga hal terpenting dalam hidup. Ada sekitar 400 kepala keluarga Sedulur Sikep—biasa disebut orang Samin—yang bermukim di dusun Mbombong. Dusun ini memiliki jumlah warga Samin terbanyak di Jawa Tengah. Bertani adalah satu-satunya mata pencaharian yang diperbolehkan dalam ajaran Sedulur Sikep. Berdagang, yang mereka sebut candak kulak, adalah kegiatan terlarang kecuali berasal dari komoditas buatan sendiri.

Banyak cerita mengabarkan keengganan warga Samin bergabung dengan Republik Indonesia dan dunia modern, sampai akhirnya mereka bersedia menjadi 'warga resmi' pada 1970. Banyak laporan warga Samin baru memiliki KTP pada awal 2000-an. Mereka juga menolak mengisi kolom agama KTP karena ingin mempertahankan kepercayaan Sedulur Sikep.

Semangat perlawanan perempuan di desanya ini, bagi Hartati, terinspirasi oleh Samin Surosentiko, tokoh pembawa ajaran Sedulur Sikep yang dibuang ke Padang pada era kolonial Hindia Belanda. Di dinding ruang tamu Hartati, terpampang potret Surosentiko, gambar wajah terbesar di rumah fasat kayu warisan keluarga besar mereka itu. "Foto ini diberikan oleh pemerintah Jepang," kata Hartati.

Dari Samin Surosentiko, narasi perlawanan menitis pada para perempuan yang menolak pabrik Semen. Pada April 2016, perempuan Kendeng lintas kabupaten melakukan serangkaian aksi menyemen kaki di depan Istana Negara, menuntut Presiden Joko Widodo memerhatikan masalah pabrik semen. Peran perempuan memang tak cuma berkutat di urusan domestik. Ibu-ibu Sedulur Sikep turut mendirikan sebuah paguyuban Simbar Wareh, yang selain memudahkan koordinasi sekaligus menjadi pusat logistik. Ibu-ibu Simbar Wareh mengordinir urusan perbekalan bagi para pendemonstrasi. Mereka juga memproduksi jamu tradisional yang dijual untuk umum, yang hasil penjualan tersebut digunakan untuk pelestarian lingkungan di sekitar Kendeng Utara.

Warga semakin tergerak melawan dipicu kata-kata Ganjar yang mempertanyakan kesuburan Kendeng Utara. "Dari dulu setahu saya, di sana tidak ada air. Daerahnya itu gersang," ujar sang gubernur Jateng saat dikutip media lokal. Sedangkan menurut warga, setidaknya ada 200 mata air yang mudah kita temukan seandainya mau mengelilingi desa. Pada musim kemarau, sumber air Sukolilo mampu mengalirkan 1.000 liter air per detik.

Gonjang-ganjing di Mbombong dimulai sejak 2008, ketika PT Semen Gresik mengumumkan rencana pendirian pabrik semen seluas 2,000 hektare dengan proyeksi kapasitas 2,5 juta ton/tahun. Lokasi pabrik dan tambang membentang dari kecamatan Kayen, Tambakromo, hingga Sukolilo. Dusun Mbombong, yang dihuni Hartati dan Siti, tadinya akan dijadikan situs penambangan tanah liat. Mereka aktif melawan, sehingga pabrik dipindah ke Rembang. Di Rembang, muncul perlawanan baru dari kalangan ibu-ibu setempat.

Siang itu bersama Siti, kami mengendarai sepeda motor menuju salah satu sumber air yang menjadi tumpuan hidup: mata air Gadudero. Letaknya tak begitu jauh dari rumah Siti. Hanya perlu 15 menit untuk mencapainya, melewati jalan rusak yang sempit di samping sungai. Sumber ini sebenarnya adalah sebuah mata air pegunungan yang kemudian mengalir lewat bawah tanah sebelum langsung mengaliri sawah-sawah penduduk lewat mulut gua.

Para penduduk kadang menggunakan pompa untuk menyedot air bawah tanah sebelum digunakan untuk berbagai keperluan. Beberapa warga juga langsung mengalirkan air dari sungai di sekitar desa. "Di sini memang tak pernah kekeringan," kata Siti sambil menunjuk mulut gua yang mengalirkan air. "Tapi jika terjadi banjir gunung, sawah bisa tergenang seperti rawa, akibatnya ya gagal panen." Siti memiliki ratusan hektare sawah. Sekali panen, katanya, dia bisa meraup ratusan juta rupiah. "Namanya orang menanam itu kan kadang jadi kadang nggak, kalau gagal ya dimaklumi saja," kata Siti.


Pada waktu luangnya, para perempuan Sedulur Sikep juga membuat batik. Saya melihat beberapa dijemur di halaman rumah Siti. Berbeda dengan batik Yogyakarta atau Solo, motif batik Sedulur Sikep biasanya adalah kendi air atau padi—dua elemen penting dalam kehidupan Sedulur Sikep. Batik-batik ini cuma dibuat sesuai pesanan saja. Biasanya mereka menitipkannya di pengepul.

Setelah pabrik semen datang, ritme kehidupan Siti dan warga lainnya memang berubah. Sudah lama mereka tidak membatik. Di sela-sela mengurus sawah dan keluarga, Siti masih harus berkoordinasi dengan warga lain untuk melakukan langkah-langkah menuntut mundurnya pabrik semen di Rembang.

"Sekarang harus bergantian mengurus sawah," kata Siti. "Istilah Jawanya lebotan. Para tetangga akan membantu jika saya butuh. Begitu sebaliknya."

Siti mengaku tak sempat mengikuti pemberitaan seputar perlawanan warga terhadap pabrik semen. Ada banyak narasi, baik yang membela maupun menyudutkan warga penolak proyek semen. Baginya ketulusan membela tanah leluhur adalah tugas utama terlepas perdebatan di media ataupun jejaring sosial.

"Ini memperjuangkan untuk ibu bumi. Saya itu orang tani, terbiasa merasakan panas," kata Siti. "Kalau di sawah itu kan pikirannya ayem 'ini saya menanam nanti bakalannya saya tuai'. Lha kalau di kantor gubernuran kami berjuang demi kemenangan kan belum tahu kapan. Rasanya cuma harus 'sabar, sabar'."

Saya bertanya pada Siti, apa jadinya jika sampai pabrik semen menang? Dia mengatakan tak memiliki pilihan kecuali berjuang mati-matian. "Sebelum meninggal kakek saya dulu sudah berpesan Jawa Tengah ini adalah lumbung padi untuk seluruh Nusantara," kata Siti. "Terkadang saya juga sedih jika melihat daerah lain itu kekeringan, sementara di sini air itu melimpah."

Perjuangan para ibu-ibu Kendeng akan makan waktu panjang. Bermacam perusahaan semen terus berupaya membangun pabrik di pegunungan ini.

Seperti yang sudah disebut sebelumnya, PT Semen Indonesia usai ditolak warga Pati—juga terusir dari Blora dan Tuban—ganti berusaha mendirikan pabriknya di Rembang. Pabrik ini, dari sekian rencana tambang semen lain, yang paling berpeluang berdiri pada 2018. Keberadaan pabrik tersebut dikhawatirkan bakal berdampak pada lingkungan tak cuma di Rembang, tapi juga di seluruh Kendeng Utara.

Tantangan perempuan Mbombong belum berakhir, walau pusat konflik kini pindah ke Rembang. Pemerintah Kabupaten Pati memberikan izin kepada PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) selaku anak perusahaan PT Indocement menambang kapur dan mendirikan pabrik di atas lahan seluas 2,780 hektare di kecamatan Tambakromo. Pabrik bernilai Rp7 triliun itu batal dibuka karena kalah setelah digugat warga pada 2014. Namun, hanya berselang setahun, perusahaan mengajukan banding dan berbalik menang. Tambang bahan baku semen itu sekarang akan beroperasi di Larangan, desa berjarak 20 menit dari Dusun Mbombong.

Samin Surosentiko.


"Keahlian kami cuma bertani. Jika pabrik jadi buka kami bisa melakukan apa?" ungkap salah seorang warga desa Larangan, Jasmo. Siang itu saya berkendara bersama Jasmo menuju sumber air Sumberan Lawang yang menjadi tumpuan hidup masyarakat yang mayoritas bertani. Kami memacu mobil di jalanan beraspal yang sempit. Tak sampai satu jam kami meminggirkan mobil di kaki pegunungan Kendeng Utara.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki memasuki areal milik Perhutani. Cuaca yang mendung menambah aura kedamaian, sementara kabut masih malu-malu untuk segera pergi. Di antara pepohonan jati yang rimbun saya melihat tanaman jagung yang hampir siap panen.

"Jadi bagaimana mungkin tanah seperti ini kok dibilang gersang?" kata Jasmo menanggapi komentar Ganjar Pranowo, seraya terus berjalan di depan. 

Pembangunan pabrik semen, bertolak belakang dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pati 2010-2030. Kawasan yang mengandung batuan kars seluas 2,262.55 hektar tersebut hanya diperbolehkan untuk kegiatan pertanian dan konservasi yang sifatnya tidak menghalangi masuknya air ke dalam daerah resapan. Tak ada kata penambangan dalam RTRW tersebut.

Tjahyo Nugroho Adi dari tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan karakter Kendeng Utara berbeda dengan, katakanlah, Pegunungan Sewu di Gunungkidul, Yogyakarta, meski sama-sama perbukitan kars.

"Usia Kendeng Utara lebih muda," kata Tjahyo. "Cekungan mata airnya lebih di atas jadi mudah dimanfaatkan. Berbeda dengan Gunungkidul yang sudah lebih berkembang dengan sungai-sungai bawah tanahnya."

Menurut Tjahyo proses penambangan kapur harus cermat memerhatikan lokasi. Ancaman terhadap lingkungan tentu lebih besar jika pabrik dibangun dekat cadangan air tanah.

Pendirian pabrik pasti memiliki dampak. Masalahnya, kata Tjahyo, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) sering dikerjakan secara serampangan alias hanya demi mengejar tenggat. Buktinya Amdal pabrik di Rembang akhirnya kalah pada sidang MA.

"Sifat Amdal harusnya tidak politis tapi ilmiah. Makanya ilmuwan dan politisi itu tidak bisa sejalan," kata Tjahyo. Amdal ini penting untuk memproyeksi dampak lebih jauh akibat penambangan. "Itu yang susah. Saat ini belum ada standar terhadap hubungan sumber air dan kegiatan penambangan," tutur Tjahyo.

Jasmo tak bisa membayangkan jika desa yang sudah ada sejak beberapa generasi sebelumnya harus rata dengan tanah digantikan pabrik semen. Seumur hidupnya, Jasmo hanya mengenal bertani sebagai mata pencaharian, seperti kakek-kakek buyutnya. Dari bertani, dia mampu menyekolahkan putranya sampai lulus jenjang perguruan tinggi.

"Desa ini semua bakal habis jika pabrik tersebut berdiri," kata Jasmo. Dan Jasmo mengaku terhormat bisa membantu para perempuan Kendeng Utara, baik dari Pati, Rembang, ataupun Blora, mempertahankan hak mengolah tanah kelahiran mereka.

"Lebih menyedihkan lagi, imbas pabrik semen ini adalah perempuan. Otomatis kalau ada pabrik kerjaan bertani kan nggak ada. Perempuan nanti bisa mengerjakan apa selain berdagang? Tidak ada pilihan lain, kami harus bertahan menolak pendirian pabrik."