persalinan

Meningkatnya Tren Operasi Caesar di Indonesia Berujung Dilema Bagi Perempuan

Banyak faktor membuat perempuan melakoni operasi caesar. Muncul tudingan miring pada mereka yang tak melahirkan 'normal'. Apapun alasannya, perempuan tak sepatutnya dipojokkan atas pilihan sadarnya.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
08 April 2017, 7:41am

Ilustrasi oleh Ilham Kurniawan.

Deddy Meizia masih ingat detail hari yang akan selalu dia ingat dalam hidupnya, lima tahun lalu. Hari itu adalah Rabu tersibuk dalam karirnya selama lebih dari dua dekade menjalani profesi dokter spesialis kandungan alias ob-gyn. Sejak pagi, Deddy terpaksa keluar masuk ruang operasi dan ruang bersalin di tiga rumah sakit berbeda kawasan Cimahi, Jawa Barat.

Hari tersibuk bagi Deddy Meizia itu, dan mungkin bagi hampir semua ob-gyn di seluruh dunia, jatuh pada tanggal 12, bulan 12, 2012, tanggal yang dianggap sebagian orang, termasuk para numerologis sebagai tanggal spesial atau tanggal cantik. Hari itu, Deddy berhasil membantu dua belas perempuan berbeda bertarung di kamar operasi. Mereka semua ingin melahirkan bayi mereka di "tanggal cantik" 121212. Tentu saja, tidak semua perempuan tadi bisa melahirkan normal. Mayoritas harus melalui bedah caesar.

"Ada 10 orang di antaranya yang sectio caesaria dengan saya," kata Deddy kepada VICE Indonesia.

Walaupun sibuk, Deddy bilang sebenarnya tidak ada masalah besar untuk melakukan operasi caesar maraton, karena prosesnya tak sulit-sulit amat. "Sudah biasa sih sebenarnya itu… Kalau pengerjaan 1 sectio caesarean itu setengah jam lah, tergantung keterampilan dokter masing-masing dan juga teknik," katanya.

Dalam dunia kedokteran dikenal dua cara umum dalam melahirkan. Pertama adalah vaginal delivery (pervaginam) yang banyak orang awam sebut proses kelahiran natural. Metode kedua sectio cesarean atau operasi caesar. Kedua proses persalinan itu dikawal dokter dengan satu tujuan: memastikan keselamatan ibu dan bayi dalam proses kelahiran. Lazimnya operasi caesar dilakukan saat salah satu atau baik ibu dan bayi memiliki risiko saat saat proses kelahiran. Risiko itu bisa datang dari si ibu yang memiliki gangguan kesehatan, postur tubuh yang tidak mendukung seperti panggul sempit, maupun faktor bayi.

"Kita melakukan sectio cesarean itu atas indikasi (masalah kehamilan), selalu atas indikasi. Indikasi ini bermacam-macam, ada indikasi medis, kemudian kadang pasien karena dia punya suatu risiko, kadang ingin mengurangi risiko yang bisa terjadi," ungkap Deddy.

Sectio cesarean yang sebenarnya hanya untuk kondisi darurat, persentasenya naik di Indonesia, tak hanya di tanggal-tanggal cantik. Sebagian operasi cesar dilakukan tanpa ada indikasi medis serius. Fenomena ini pun oleh Jurnal Perempuan sedang menjadi tren.

Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar oleh pemerintah, praktik operasi caesar di seluruh provinsi di Indonesia persentasenya sebesar 15,3 persen, di atas standar yang dikeluarkan WHO. Data lain menunjukkan RS-RS Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menunjukkan persentase bedah caesar mencapai 27 persen.

Beberapa rumah sakit, terutama di kota-kota besar Indonesia, menawarkan berbagai promo melahirkan sectio cesarean. VICE Indonesia menelusuri informasi di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang, Banten yang lazim mengeluarkan promo operasi sesar dengan harga lebih murah bagi perempuan yang tidak memiliki gangguan kesehatan. 

Diskon harga bukan satu-satunya 'keuntungan' yang ditawarkan manajemen RS. "Ada paket-paketnya," kata salah satu tenaga medis di RS tersebut menjelaskan tawaran mereka, termasuk layanan kamar, jika ada pasien berkeinginan melakukan operasi caesar. Di rumah sakit swasta Jakarta, ada pula promo yang bekerjasama dengan bank tertentu mengeluarkan program pembayaran kartu kredit untuk biaya bedah caesar. Semua promosi itu tentunya tidak ada sangkut pautnya dengan kondisi medis ibu dan bayi dalam kandungan.

Mildri Putri Fudradjat termasuk perempuan yang memilih bedah caesar saat melahirkan anak pertamanya empat tahun lalu. Sebenarnya tak ada urgensi medis yang mengharuskan Mildri melakoni operasi. Saat itu dokter kandungannya menyatakan, sangat memungkinkan bagi Mildri untuk melahirkan pervaginam. Mildri bergeming.

"Aku takut mati, kalau aku mati, kasihan anak aku enggak ada yang ngurusin," ungkap Mildri pada VICE Indonesia. Ia mengaku memutuskan operasi sesar setelah membaca sebuah artikel soal betapa sakitnya melahirkan. "Suatu hari aku baca suatu artikel bahwa tubuh manusia itu, hanya bisa menahan sakit sampai 42 tulang yang patah, tapi kalau melahirkan itu sekitar 54-60 tulang yang patah rasanya."

Pilihan melahirkan natural atau caesar melahirkan "perang opini" di kalangan ibu-ibu. Mildri mengaku memperoleh stigma karena mengenai pilihannya melahirkan dengan proses bedah. "Banyak banget sih yang bilang 'yah gitu aja pakai caesar?' Banyak kok yang begitu (meremehkan), dari keluarga sendiri pun ada," kata Mildri. "Bahkan dokternya pas udah mau melahirkan, di ruang operasi bilang 'ah kamu culun, kamu enggak mau (melahirkan pervaginam)."

Dari sudut pandang tenaga medis, melonjaknya praktik caesar berkaitan dengan keinginan pasien. Deddy merasa tidak berhak menolak, jika memang permintaan sang ibu adalah kelahiran melalui pembedahan.

"Kita pasti akan menjelaskan pada pasien risiko terhadap caesar, siapkah pasien dengan risiko tindakan caesar tanpa mencoba 'natural' (pervaginam). Kita akan terangkan risikonya, siap atau tidak," kata Deddy. "Kalau mereka siap, ya itu tergantung kesiapan kitanya (tenaga medis) juga."

Operasi caesar membutuhkan ongkos besar. Di rumah sakit milik pemerintah, setidaknya pasien kelas tiga minimal harus merogoh kocek Rp8-15 juta. Di rumah sakit swasta kelas VIP, biayanya segera meroket, bisa mencapai angka lebih dari Rp50 juta. Namun, sistem jaminan kesehatan nasional kabarnya menekan aspek biaya tersebut.

Dari penuturan Deddy, besar bedah caesar semakin populer beberapa tahun belakangan berkat program BPJS yang dapat menutup 100 persen biaya persalinan.

"(Dengan di-cover BPJS) Jumlahnya naik, keinginannya mereka juga naik yang saya amati, karena saya kan berhadapan terus dengan pasien BPJS, dan memang meningkat jumlahnya karena mereka ingin mencoba juga," ungkap Deddy. "Sekarang dari kalangan menengah ke bawah lebih punya keinginan meminta sectio ya. Itu karena merasa sudah di-cover oleh BPJS sekarang dia punya hak yang sama, terutama karena dia di rumah sakit pemerintah. Dia free semuanya."

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sebenarnya tidak ada justifikasi bagi negara-negara manapun di dunia yang memiliki persentase operasi caesar di atas 15 persen. Dalam studi tersebut WHO menekankan praktik operasi caesar sebaiknya sesuai dengan "fitrahnya" yakni menyelamatkan ibu dan bayi dalam proses kelahiran

WHO memperkirakan ada 3,18 juta praktik operasi sesar yang dibutuhkan, dan hampir dua kali lipatnya, yakni 6,20 juta, merupakan praktik operasi sesar yang tidak diperlukan.

Negara-negara dengan angka operasi caesar di bawah 10 persen dikategorikan sebagai "underused" karena dianggap belum punya akses terhadap fasilitas standar persalinan. Sementara negara-negara dengan angka operasi caesar 10-15 persen dianggap cukup atau "adequate", dan negara-negara dengan bedah persalinan di atas 15 persen dikategorikan sebagai "overused". Penilaian WHO didasarkan pada kekhawatiran bila bedah caesar akan dikomersialkan. Hal itu sayangnya kini sudah terjadi di Indonesia.

Jika data tersebut dikonversi ke dalam nominal biaya, maka total biaya yang diperlukan dari operasi caesar yang tidak diperlukan di seluruh dunia mencapai US$2,32 miliar (setara Rp30,9 triliun), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan total biaya yang bisa dialokasikan bagi para ibu yang punya urgensi medis dalam pelaksanaan operasi caesar, terutama di negara-negara miskin. Dalam studi WHO, selisih angka tersebut memiliki implikasi negatif terhadap keadilan atas kesehatan di berbagai negara.

Terlepas dari sorotan negatif terhadap caesar, dan fakta memang ada beberapa kecenderungan RS di Tanah Air mendorong pasien memilih operasi alih-alih pervagiman, tak bisa dipungkiri ongkos caesar relatif lebih terjangkau perempuan Indonesia lima tahun belakangan. Satu hal lain yang patut digarisbawahi, keputusan akhir metode persalinan tetap ada pada si perempuan yang akan melahirkan.

Toh semakin ringannya biaya caesar tak lantas menarik minat semua calon ibu melakoni persalinan di ruang operasi. Dhita Dewi Alviane, seorang dokter yang kini memasuki bulan terakhir kehamilan tidak merencanakan operasi caesar. "Aku dari awal pilih vaginal birth aja, karena memang naturalnya tubuh perempuan disiapkan untuk bisa melahirkan pervaginam."

Meskipun memilih melahirkan secara natural, Dhita tidak ingin ada judgement dan stigma ditujukan pada ibu yang memilih tindakan caesar. "Kedokteran masa kini memegang prinsip authority di mana pasien berhak menentukan tindakan-tindakan medis yang akan dilakukan padanya, dan juga berhak menolak tindakan medis yang sebenarnya harus dilakukan padanya," kata Dhita. "Pasien pun pada akhirnya memiliki hak jika memang memilih untuk melahirkan dengan c-section, tentunya harus menerima segala benefit dan risiko medis di dalamnya."

Mildri berharap perang opini soal keputusan perempuan atas tubuhnya sendiri sudah saatnya diakhiri. Sudah terlalu banyak perdebatan basi yang harus dihadapi perempuan di Indonesia. Mulai dari pilihan menjadi perempuan karir maupun yang ibu rumah tangga, memberi ASI eksklusif atau tidak, dan kini masih harus ditambah debat cara terbaik seorang perempuan melahirkan. Belum termasuk perempuan lain yang bahkan sejak awal menolak untuk hamil.

"Aku ada trauma melahirkan itu, sampai aku pernah kena baby blues sampai anakku umur tujuh bulan. Jadi jangan dianggap ibu-ibu caesar itu habisnya indah. Kan tekanannya lebih banyak daripada yang melahirkan natural karena yang melahirkan normal enggak akan dicemooh," keluh Mildri.