Seperti Jakarta, Bangkok Perlahan-lahan Tenggelam Akibat Banjir
Semua foto oleh Ek Sangchuto.
Berita

Seperti Jakarta, Bangkok Perlahan-lahan Tenggelam Akibat Banjir

Daratan Ibu Kota Thailand itu angslup saban tahun, seperti dilaporkan kontributor VICE Indonesia. Perubahan iklim akan membuat persoalan banjir di kawasan Asia Tenggara semakin berbahaya.
15 Desember 2016, 3:50am

Air kecokelatan menggenangi kaki Khun Raksanalee seiring banjir masuk ke dalam kedai mi mungil miliknya. Datangnya air bah semakin lazim di Ramkhamhaeng, sebuah lingkungan miskin di Ibu Kota Bangkok, Thailand. Saking seringnya banjir datang, Raksanalee hafal di luar kepala apa yang harus dilakukan. Dia bergegas menumpuk barang-barang yang harus diselamatkan di atas meja dan rak. Setelah yakin semua selamat, dia tinggal berpegangan sekuatnya di sebuah pegangan dari logam. Banjir saat itu sepertinya lebih besar dari biasanya, sehingga kursi dalam kedai Raksanalee terangkat genangan banjir.

"Sepertinya akan lebih parah," ujar Raksanalee tentang banjir yang melanda daerahnya.

Dugaan Raksanalee tak salah. Menurut beberapa pakar, Bangkok didera banjir tahunan yang semakin parah dari tahun ke tahun. Tiap tahunnya, daratan Bangkok anjlok 1,5 sampai 5 cm . Tentu ini tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang terjadi di Jakarta. Ibu kota kesayangan kita ini setidaknya tenggelam 3 sampai 20 cm per tahun, kecepatannya berbeda di berbagai daerah di Jakarta.

Meski belum tenggelam secepat Jakarta, penduduk kota Bangkok sudah dibikin kelimpungan. Kemacetan di Bangkok tak lagi bisa dinalar dengan akal sehat. Isi selokan ikut-ikutan membuncah. Dalam 15 tahun ke depan, pakar memperkirakan sebagian besar wilayah Bangkok tak lagi layak huni karena banjir yang parah.

Ibu kota Negeri Gajah Putih ini hanyalah satu dari sekian kota di dunia yang menderita dampak langsung perubahan iklim global. Kota-kota di Indonesia, India, Bangladesh, bahkan Amerika Serikat, merasakan dampak yang lebih parah dari sekadar banjir dan perubahan cuaca yang ekstrem. Naiknya suhu lautan memicu kekeringan di beberapa daerah serta hujan lebat di bagian bumi lainnya.

Dampak perubahan iklim macam kini menjadi isu global, meski hanya beberapa daerah yang mengalami dampak perubahan iklim separah kawasan Asia Tenggara.

Di Bangkok, naiknya permukaan laut diperparah dengan turunnya permukaan kota itu. Rata-rata permukaan Bangkok telah berada 1,5 meter di bawah permukaan laut. Yang bikin runyam, sebagian besar wilayah Bangkok dibangun di atas lempengan lempung yang terus ditimpa beban pembangunan yang terus dilakukan.

Ada sekitar 2 juta orang yang tinggal di Bangkok pada 1960. Saat ini, populasi Bangkok berkembang sangat pesat, mendekati angka 10 juta. Jika penduduk yang mendiami daerah pinggiran ibu kota seperti Ramkhamhaeng juga ikut dihitung, jumlah penduduk Bangkok hampir mencapai 15 juta.

Semua faktor ini tak ayal menciptakan sebuah masalah. sayangnya, Bangkok hanya punya sedikit opsi untuk mengatasinya.

"Ada beragam persoalan yang perlu dipertimbangkan menyoal Thailand dan perubahaan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut, intrusi air asin, dan persoalan lain terkait peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan dan hujan lebat," kata Benjamin Schulte, seorang konsultan bidang lingkungan dan kesehatan publik di Bangkok. "Penyusutan permukaan tanah di beberapa bagian dapat memperparah dampak peristiwa-peristiwa tersebut. Karena kompleksitas dan perubahan iklim yang saling bersinggungan, serta dampaknya pada masyarakat, sangat sulit untuk menyimpulkan suatu bencana lebih berbahaya daripada yang lainnya."

Meski begitu, sebetulnya mudah saja menentukan siapa yang paling rentan terimbas bahaya. Pada skala nasional, efek perubahan iklim menimbulkan ancaman serius bagi sektor pertanian Thailand. Kekeringan terus-menerus membuat sektor ini tertatih-tatih selama kurun 2014-2015. Anjloknya produksi pangan tidak dapat dianggap remeh mengingat Bangkok adalah negara yang 40 persen populasinya bekerja di sektor pertanian. Para ahli mengimbau kekeringan lanjutan dan peningkatan banjir di wilayah pesisir, dapat memicu terbentuknya pedesaan miskin baru di sekitar Bangkok.

Penyebabnya utama permasalahan ini adalah, Thailand gagal berkembang secara merata. Bangkok bertanggung jawab atas 30 persen Pendapatan Domestik Bruto Thailand. Peningkatan angka migrasi internal dapat semakin menyesakkan kota, memaksa kota terus berkembang, dan menyebabkan permukaan tanah semakin menyusut. Hal ini dapat menciptakan lingkaran setan yang dapat memperburuk keadaan di Bangkok–sebuah kota di mana warga miskin telah merasakan langsung dampak kenaikan suhu global.

"Bencana alam banjir telah memberikan dampak luar biasa besar bagi segala kalangan masyarakat," kata Schulte. "Warga kalangan sosio-ekonomi bawah lebih rentan terhadap dampak banjir di Bangkok. Sederhananya begini, mereka punya sumber daya lebih sedikit mengatasi dampak-dampak langsung bencana alam."

Sejak banjir besar 2011, pemerintah kota Bangkok meluncurkan beberapa usaha mengurangi dampak banjir. Persoalannya, banjir berskala kecil terus menggerogoti ibu kota selama musim hujan. Menurut para ahli, diperlukan perubahan besar-besaran dalam kebijakan publik Bangkok, termasuk dalam menentukan batasan bagi pembangunan baru, sistem drainase anyar, dan pengelolaan kanal dan aliran air yang lebih baik.

"Kita harus fokus pada luapan aliran sungai dan kemungkinan penggenangan banjir. Kita perlu mengimplementasikan model pencegahaan tingkat lanjut, serta peningkatan infrastruktur," ujar Schulte.

Apapun kata pakar, di mata penduduk Ramkhamhaeng banjir cuma kerepotan sesaat. Beberapa perempuan seperti Raksanalee tetap khawatir banjir akan lebih parah tahun depan. Tapi setidaknya hari ini dia bisa menjalani hari-harinya seperti biasa. Kedai mi miliknya tetap buka. Dia berharap tahun depan situasinya akan lebih baik.

"Saya harap banjir tidak akan rutin seperti yang sudah-sudah," kata Raksanalee. "Soalnya pindahan rumah bukan urusan sepele."