Iklan
Narkoba

Pencurian Gas Tawa dari RS Jadi Tren Kriminalitas di Inggris

Bermodal nekat, penjualan balon berisi gas tawa (NOS) di rave party mendatangkan untung ratusan Euro. Pemerintah Inggris sampai cemas melihat tren kriminal ini.

oleh Kevin EG Perry
09 Februari 2017, 8:01am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Berkat NHS (Badan Layanan Kesehatan Nasional Inggris) tersedia banyak obat-obatan gratis untuk rakyat Britania Raya. Tentu saja, gas tawa (Nitrous Oksida) yang penting untuk proses operasi dan anestesi lainnya, jadi tersedia gratis. Tapi, asal tahu saja, tren terbaru menunjukkan banyak orang berusaha mencuri tabung gas tawa dari rumah sakit seantero Inggris, lalu menjual isinya di berbagai rave party dan festival musik. Gas tawa dijual secara eceran dalam balon-balon yang isinya bakal dihirup pembeli. Jangan salah, bisnis gas tawa ini untungnya tak main-main. Para pengunjung pesta rave biasanya rela merogoh kocek senilai 2 sampai 6 euro (senilai Rp60 - 80 ribu) hanya untuk menebus satu balon gas tawa. Artinya, satu tabung gas berukuran 1 meter bisa menghasilkan untung bersih hingga 800 euro (setara Rp11 juta) sekali beraksi. Dalam bahasa slang Inggris, gas tawa dijuluki NOS.

Pada episode terbaru serial tentang narkotika di VICE.com, High Society, kami menemui salah satu maling spesialis gas tawa di Inggris, yang punya julukan "Big Blue". Dia menjelaskan pada kami bagaimana timnya mencuri stok gas tawa dari gudang-gudang rumah sakit. Big Blue menceritakan caranya menarget rumah sakit. Biasanya yang dia sukai adalah rumah sakit yang tempat penyimpanan gas tawanya berada di luar gedung. Meski salah satu rekaman CCTV menunjukkan Big Blue "dikerjai" oleh salah satu petugas keamanan rumah sakit saat beraksi. Setelah kepergok, Big Blue rupanya tak dikenai tuntutan hukum apapun karena rekaman CCTV dianggap tak cukup untuk jadi bukti adanya pencurian.

Big Blue bukan satu-satunya yang menarget rumah sakit. Perempuan berusia 25 tahun dijatuhi hukuman penjara satu tahun setengah setelah terbukti melakukan pencurian gas tawa secara berantai, menyasar RS demi RS. Daftar barang curiannya mencakup enam tabung gas berukuran 2 meter yang dicolong dari Royal United Hospital, di wilayah Kota Bath. Kepolisian Inggris meyakini bahwa tabung gas tawa dicuri untuk mengisi balon yang digunakan membuat penghisapnya teler. Berbagai kasus pencurian gas tawa dilaporkan di berbagai wilayah Britania Raya, mulai dari Kirkcaldy dari Skotlandia sampai Canterbury di Kent. Menariknya, tempat kejadian perkara tak melulu di rumah sakit. Pencurian juga terjadi di Departemen of Veterinary Medicine, Univeristy of Cambridge. Sebuah tabung gas tawa raib dari sana beberapa waktu lalu.

Penyalahgunaan balon berisi NOS di pesta-pesta. Semua foto dari dokumenter VICE

Menurut data dari NHS yang didapatkan VICE, sepanjang 2014-2015, setidaknya ada 200 tabung gas medis berisi Nitro Oksida dicuri dari fasilitas kesehatan di seluruh wilayah Inggris. Sebenarnya, angka pencurian yang terjadi di lapangan bisa jauh lebih tinggi. Sebagian besar silinder yang dicuri berisi entronox, merek yang digunakan untuk memasarkan sintesa NOS-oksigen. NHS memperkirakan tahun lalu kerugian yang diderita akibat pencurian tabung medis ini mencapai 150.000 euro (setara Rp2 miliar).

Sejatinya, upaya pencurian gas tawa bukan fenomena baru.  Gas tawa sudah digunakan sebagai bahan baku anestesi sejak 1844. Bahkan, kebiasaan menghirup gas tawa sebagai bentuk keisengan sudah dilakukan sejak lama. Gas tawa pertama kali digunakan sebagai obat-obatan di pesta anak muda sejak 1799. Saat itu gas tawa populer di kalangan atas Inggris dan pujangga romantis seperti Samuel Taylor Coleridge. Lumayan susah untuk menentukan kapan kasus pencurian gas tawa pertama kali terjadi. Namun, ada bukti yang menunjukkan bahwa pencurian gas tawa perdana dilakukan orang dalam rumah sakit. Laporan dari 1970 dari Michigan, AS, menyebutkan "bukan hal yang aneh mendengar seseorang mengaku (dalam sebuah wawancara) pernah melihat dokter, perawat, ilmuwan, terapis atau peneliti yang menyediakan gas tawa di sebuah pesta."

Popularita gas tawa dalam pesta-pesta rave ilegal di Inggris mulai meroket sejak 2008. Bahkan, pada 2010, Pangeran Harry menuai cercaan dari media massa karena ditengarai menghirup balon gas tawa. Menghirup gas tawa masuk dalam survei tindak kriminalitas ringan paling populer di Inggris dan Wales sepanjang kurun 2012-2013. Hasil survei itu membeberkan bahwa 6,1 persen responden berusia 16-24 tahun menyatakan pernah mengisap gas tawa. Angka tersebut naik jadi 7,6 persen setahun kemudian.

Pengguna menghirup NOS terang-terangan.

Maret 2015, Advisory Council on the Misuse of Drugs, badan ilmiah yang didirikan untuk memberi usulan pada pemerintah Inggris perihal penyalahgunaan obat-obatan, menyurati Menteri Dalam Negeri saat itu, Theresa May, dan Menteri Kesehatan  Jeremy Hunt. Mereka ingin pemerintah Inggris bersikap proaktif menyangkut penggunaan NOS. Badan ilmiah mewanti-wanti bahwa dalam pandangan mereka "penyalahgunaan gas tawa tidak di atur dalam Misuse of Drugs Act 1971."

Meski demikian, mereka juga mencatat bahwa "gas tawa yang berasal dari fasilitas medis resmi yang diambil tanpa izin adalah terjadi pasar gelap. Lembaga ini juga memperingatkan adanya "kenaikan upaya kriminal mencuri gas tawa." Dilaporkan pula bahwa kasus pencurian gas tawa sudah makin parah, sampai NHS harus merasa perlu memberikan petunjuk khusus penyimpanan gas tawa yang aman kepada setiap manajemen RS.

Pemerintah Inggris memilih mengesampingkan saran-saran alternatif untuk mengatasi penyalahgunaan NOS, seperti yang sering mereka lakukan. Mereka sekadar memasukkan gas tawa dalam daftar narkotika terlarang. NOS masuk dalam UU Substansi Psikoaktif  Berbahayayang mulai berlaku Mei 2016. Media massa Inggris menyoroti dampak beleid baru pada "obat-obatan teler yang mahal." Kriminolog Fiona Measham percaya adanya undang-undang baru itu justru membuat pasar gelap gas tawa berkembang pesat.

Sebelum beleid itu berlaku, gas tawa banyak digunakan dalam usaha catering. Gas tawa sangat berguna untuk membuat sajian whipped cream. Sampai saat ini, gas tawa bisa diperoleh dengan legal khusus untuk pemilik usaha catering. Beleid baru mengingatkan penjual agar "...memperhatikan dengan seksama kemungkinan penyalahgunaan nitrous oksida, terutama jika orang membeli gas tersebut dalam jumlah banyak."

Dengan adanya pengaturan pembelian gas tawa dalam jumlah besar, pengamat kriminal justru khawatir akan banyak stok gas tawa yang dicuri dari fasilitas kesehatan. Pembatasan itu juga berpeluang membuat staf rumah sakit, klinik gigi, klinik dokter hewan, dan fasilitas medis lainnya tergoda menjual secara ilegal stok NOS yang mereka punya.

Pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah NHS, sebagai pemasok utama gas tawa. VICE menghubungi pihak NHS untuk meminta pendapat mereka tentang kasus pencurian tabung gas tawa yang semakin parah belakangan. Juru bicara NHS  menyatakan pencurian Nitrous oksida tak bisa dipungkiri merugikan rumah sakit, terutama yang disubsidi oleh negara.

"Dana subsidi NHS yang hilang sangat banyak. Seharusnya dana ini bisa digunakan untuk menyediakan layanan kesehatan bagi pasien yang membutuhkan. Jelas, mencuri gas tawa dari RS sangatlah merugikan. Semua ini bukan bahan tertawaan."