Sejarah Menarik Lipstik Hitam yang Membuatmu Terlihat Seksi Sekaligus Badass

Lipstik hitam ternyata memiliki banyak sejarah yang menarik, dan sudah ngetren jauh sebelum ada Kardashian.

|
17 Oktober 2018, 9:09am

Ilustrasi oleh Kat Aileen

Tak ada yang bisa mengalahkan pengaruh lipstik hitam dalam dunia kecantikan. “Yang terpenting, warna hitam seolah menyiratkan: ‘Jangan ganggu gue deh,’” kata Yohji Yamamoto, desainer Jepang yang paling berpengaruh, soal warna tersebut. Warna galak ini kerap diasosiasikan dengan counter-culture dan kultur clubbing. Warna ini sangat berkaitan dengan penampilan dan kecantikan. Pakai lipstik merah untuk memberikan kesan seksi. Ingin terlihat seksi sekaligus
badass? Pilih lipstik hitam.

Dimulai dari mumi di mesir sampai suku maori

Lipstik hitam pertama kali diduga muncul pada 4000 SM di Mesir. Perempuan Mesir pada masa itu tidak takut dengan warna dan kecantikan: Mereka memakai eyeshadow hijau, lipstik biru-hitam, pemerah muka, pacar (henna) di kaki, cat emas untuk payudaranya dan biru untuk putingnya. Mereka bahkan punya alat kosmetiknya sendiri—arkeolog menemukan kotak kayu yang digunakan untuk menyimpan kosmetik. Para perempuan ini sering mengoleskan lipstik pakai tongkat kayu basah. Kaum adamnya juga mewarnai bibirnya. Orang Mesir kuno sangat mementingkan penampilan, begitu juga dengan yang sudah mati. Perempuan yang sudah meninggal akan dikubur bersama dua bejana pemerah pipi di makamnya.

Beribu tahun kemudian, bibir yang dihitamkan muncul kembali. Kali ini warna hitam banyak digunakan oleh suku Maori di Selandia Baru pada masa 1700-an. Beberapa orang menganggap tato Maori sebagai salah satu contoh awal lipstik hitam (atau setidaknya mirip lipstik hitam karena pendekatannya lebih tetap). Bagi suku Maori, kepala adalah bagian tubuh paling suci. Mereka menganggap tato sebagai ritual dan penanda kedudukan sosial. Perempuan Maori biasanya menato bagian mulutnya dengan warna biru dan hitam. Meskipun kegiatan ini sudah dianggap basi pada abad ke-20, tetapi orang Maori menghidupkannya kembali beberapa puluh tahun terakhir. Suku Maori punya pepatah tentang tatonya: “Taia o moko, hei hoa matenga mou.” Menurut Dr. Ngahuia Te Awekotuku, perempuan Maori dan ilmuwan yang banyak menulis tentang ini, menerangkan arti pepatahnya: “Ukir dirimu sendiri, agar ada yang bisa menemanimu saat mati.”


Simak dokumenter VICE tentang sejarah lipstik hitam

Masa-masa kejayaan Hollywood

Setiap orang akan mati, tetapi setidaknya karya (dan kecantikanmu) bisa dikenang selamanya. Banyak bintang Hollywood pada era 20-an yang menggunakan lipstik hitam. Pada masa ini, lipstik hitam bukanlah sebuah simbol, melainkan penunjang gaya semata. Era ini adalah masa-masa gemilang bagi Mae Murray, Clara Bow, dan Max Factor. Mereka bisa terkenal berkat film-film lama dan makeup artist. Dalam konteks ini, lipstik hitam adalah solusi yang tepat untuk masalah pencahayaan film. Pada masa ini, makeupnya berupa greasepaint (cat tubuh) dan biasa digunakan dalam produksi teater. Factor, orang Yahudi Polandia yang pindah ke Amerika Serikat pada 1904, menciptakan makeup warna-warna primer yang lebih mudah dicampurkan, yang disebut sebagai “flexible greasepaint.”

Dengan greasepaint itu, dia mengubah kontur dan garis pada wajah untuk menunjukkan kontras dalam film hitam putih, yang membutuhkan proses berbeda dari facepaint berwarna. Dia menggunakan warna hitam untuk menciptakan bibir merah “terang” di film. Di semua film ini, tokoh perempuan akan digambarkan layaknya mereka hidup di dunia hitam putih. Industri kecantikan di Amerika berkembang berkat keterlibatan Factor dalam dunia selebritas dan Hollywood. Berkat lipstik hitamnya yang ikonik, Factor menemukan istilah “makeup.” (Namanya menjadi merek produk kosmetik terkenal yang mungkin sering kamu lihat di mana-mana.)

Tidak mudah hilang

Terlepas kepopulerannya di dunia perfilman, lipstik hitam bukanlah pilihan utama bagi kalangan orang biasa (meskipun sudah lebih mudah didapat).

Lipstik hitam semakin naik daun pada 1927. Lipstik transformatif yang tidak mudah pudar pertama kali diperkenalkan pada masa ini. Merek-merek kosmetik menelurkan lipstik semacam ini. Black Lipstick keluaran merek Prancis Rouge Baiser terkenal akan kiss-proof-nya. Gincunya tidak mudah dihapus sampai-sampai harus ditarik dari pasaran. Koleksi lipstiknya ada enam tingkatan warna hitam sampai yang tergelap. Harganya lima kali lipat lebih mahal dari lipstik lainnya di pasaran ($5 atau Rp75 ribu dibandingkan $1 atau Rp15 ribu). Tak berapa lama kemudian, merek Tattoo dan Tokalon mengeluarkan lipstik hitam yang lebih murah.

1949-rouge-baiser.jpg

Gambar milik the Deborah Group

Idenya muncul dari Paul Baudecroux, ahli kimia di balik Rouge Baiser. Pewarna yang digunakan dalam lipstik adalah minyak yang larut, membuatnya terlihat hitam. Bibir tidak mengandung minyak, sehingga makeupnya meninggalkan bekas merah bukannya merah kehitaman dari lipstik. Hal yang sama digunakan dalam lipstik yang bisa berubah sesuai mood, dan menjadi cara favorit bagi merek kosmetik: misalnya seperti lipstik “biru” Lipstick Queen, Hello Sailor, dan Rouge Interdit Magic Lipstick-nya Givenchy. Tidak banyak perubahan sejak penemuan pertama ini.

Dua tahun setelah peluncuran dan ketenaran lipstik hitam Rouge Baiser, Vogue mengkritik lipstik hitam dalam sebuah artikel yang berjudul “Discoveries in Beauty.” Dalam artikel tersebut tertulis “bahkan anak muda saja setuju kalau lipstik hitam dan parfum Russian-spy itu enggak oke.”

Meskipun begitu, bintang film tetap menggunakan lipstik hitam di depan kamera. Selebritas yang menjadi bintang sampul Vogue pun tetap memakainya. Dalam biografi Hollywood yang menjelaskan industri tersebut pada 1948, aktor Richard Board mengenang Gloria Swanson yang memoles bibirnya dengan lipstik hitam saat syuting. “Saya kagum dengan perempuan yang pakai lipstik hitam. Maksudku hitam seperti tar.”

Bowie, Biba, dan The Craft

Sekitar 10 tahun setelah lipstik hitam dikritik oleh Vogue, warna tersebut menjadi yang terlaris di toko-toko kosmetik London. Pada masa 1960-an, brand ikonik Biba menjadi trendsetter kecantikan dengan menciptakan lipstik warna emas, biru, ungu, dan hitam yang dipakai semua perempuan kalangan atas. Lisa Eldridge membuat video yang memperagakan pemakaian kosmetik Biba, jadi kamu bisa lihat betapa berpigmen produk-produknya. Lou Reed merupakan penggemar berat lipstik hitam Biba; Helmut Newton memotret iklannya; David Bowie pun sering mengunjungi tokonya. Selain lipstik hitam, brand tersebut merilis lipstik berwarna coklat tua-lipstik Biba yang pertama diciptakan, yang langsung sold out. Lipstik gelap akhirnya meninggalkan kesan positif pada masyarakat umum.

Setelah Biba girl muncullah goth, semacam gaya yang sampai sekarang dikenal identik dengan lipstik hitam. Pada 1977, Manic Panic merilis lipstik hitam pertama mereka yang bernama Raven. Teksturnya semi-matte, dan lipstik ini dipadukan dengan gaya pakaian yang sangat berbeda dengan Biba: daripada dipadukan dengan pakaian mengkilap yang berwarna pelangi, cewek-cewek goth lebih memilih memadukannya dengan wajah pucat.

Saat Hot Topic buka pada 1988, stok lipstik hitam semakin bertambah. Mereka memenuhi kebutuhan para pemuda-pemudi goth tanpa henti. Bukan hanya warna hitam yang dijual Hot Topic, tetapi juga warna-warna biru, hijau tua, dan stik setengah putih. Saking populernya lipstik gelap, stik kosmetik hitam dapat dibeli di toko obat menjelang Halloween.

bibaarchive.jpg

Ilustrasi via Barbara H.

Delapan Halloween kemudian, lipstik hitam kembali muncul pada pasar kecantikan umum. Pada 1996, Urban Decay meluncurkan 12 warna cat kuku dan 10 warna lipstik, salah satu darinya berwarna hitam dan diberi nama Oil Slick. Sampai beberapa tahun lalu, sebelum Urban Decay merubah formula dan kemasan lipstiknya, warna ini masih tersedia. Kini Oil Slick hanya dapat ditemukan di eBay, seperti semua hal yang langka dan berharga.

Film The Craft juga tayang pada 1996, yang menginspirasi remaja-remaja di seluruh dunia untuk menjadi penyihir dan mengutuk siapapun yang berbuat salah pada mereka. Efek The Craft sangat nyata dan jelas—setelah rilis filmnya, lipstik hitam mulai dilihat sebagai “roh pengganggu” di sekolahan. Seorang perempuan remaja mencoba bunuh diri setelah disuruh pulang dari sekolah karena memakai lipstik hitam. Cerita ini masuk New York Times. (Dia selamat dan pindah sekolah.)

Tidak semuram yang disangka

Sekarang sudah sepuluh tahun lagi lewat, dan kini lipstik hitam tidak lagi dikritik sekejam dulu. Pada 2008, YSL meluncurkan YSL Gloss Pur Black pada musim gugur, yang dipakai model-model di runway.

Sejak momen ini, lipstik hitam selalu menjadi bagian dari percakapan di komunitas kecantikan. Tidak ada yang kaget ketika MAC meluncurkan lipstik hitam untuk merayakan Black Friday pada 2013, memanfaatkan obsesi dengan warna hitam sekaligus hari berbelanja terbesar di AS. Lipstik MAC ini edisi terbatas dan langsung sold out.

Sekarang kamu pasti melihat lipstik hitam di mana-mana: Kalau para Kardashian memakainya, artinya lipstik hitam bukan lagi produk yang diarahkan pada grup-grup tertentu. Itu masalahnya dengan identitas alternatif: identitas tersebut dapat diubah menjadi hal yang baru. Kebudayaan mainstream akan mengkooptasinya dan memuntahkannya kembali. Memang masuk akal bahwa lipstik hitam itu sangat berhubungan dengan kebangkitan dan akhirat, terutama dengan banyaknya fase-fase yang telah dilewati lipstik hitam selama bertahun-tahun. Sekarang para pemuda goth tidak perlu lagi menjelajah ke Hot Topic demi lipstik hitam: Mereka hanya perlu mengunjungi Sephora.