Sedih Deh, Komposer Penulis Lagu Tema Stone Cold Cabut dari WWE!

Kamu mungkin enggak tahu siapa itu Jim Johnston, tapi kamu pasti hafal lagu buatannya,

|
Sep 16 2018, 9:07pagi

Dicuplik via YouTube/WWE

Mungkin ini sulit dibayangkan, tapi sekian dekade lalu, para pegulat pro tak punya lagu tema. Mereka berjalan masuk ring, melewati cercaan pujian tanpa diiringi musik sama sekali sampai kemudian drama-drama khas pro wrestling bergulir di atas ring. Memang, ada beberapa pengecualian—seperti Gorgeous George, yang masuk ring diiringi komposisi “Pomp and Circumstance,” mungkin untuk bahwa sosoknya sebagai seorang pegulat yang sengak dan mungkin gay. Tentus saja, petarung-petarung macam George ini langka pada dekade 50-an. Saat itu, yang dicari di pro-wrestling adalah cerita-cerita menarik dari atas ring, yang didukung oleh embel-embel promo singkat sebelum aksi sesungguhnya terjadi.

Kondisi ini baru berubah pada dekade ‘80. Generasi baby boomer jadi pemegang kendali pro wrestling. Tak ayal, selera mereka mulai mewarnai dan menggeser pakem pro wrestling yang sebelumnya diletakkan pendahalunya. Pendeknya, pro wrestling jadi lebih liar (memang sudah liar dari awalnya) dan lebih berisik. Lagu tema mulai mengambil peranan penting dalam pro wrestling dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tayangan gulat profesional di televisi. Lewat pemiihan lagu tema tersebut, penonton bisa membaca karakter seorang pegulat. Sudah barang tentu, dalam banyak kasus, lagu tema yang melekat di kepala pecinta pro wrestling bukanlah lagi yang dipilih secara asal-asalan oleh sang pegulat, melainkan lagu yang secara matang dipilih oleh seorang karena memang dirasa cocok dengan kepribadian mereka.

Di kawasan selatan Amerika Serikat, penggunaan lagu tema konon dipelopori oleh The Fabulous Freebirds, yang mengklaim sebagai tim pertama yang menggunakan lagu tema rock ‘n’ roll sebagai bagian penting dalam drama-drama ala pro wrestling. Klaim ini memang bisa diperdebatkan. Di sisi lain, efek dari penggunaan lagu saat The Fabolous Freebird masuk ring tak bisa disangkal. Bayangkan, mereka naik panggung dengan latar lagi “Freebid” yang disetel kencang-kencang.

Belum lagi, The Fabolous Freebirds beraksi dengan pakaian bernuansa bendera konfederasi. Jelas, pemillihan lagu Lynird Skynird bukanlan pilihan yang acak, melainkan erat hubungannya dengan usaha pegulat New South berdamai dengan sejarah wilayah tempat asal mereka sebab jika seragam bendera konfederasi dipakai para pegulat “jahat” dari daerah selatan Amerika untuk menghajar karakter kesayangan pecinta gulat profesional macam Von Erich, apa coba arti penggunaan bendera konfederasi dalam pakaian mereka? Lebih jauh lagi, apa arti lagu “Freebird” dalam konteks ini?

Salah satu masalah yang harus dihadapi dalam penggunaan lagu-lagu berlisensi adalah saat pro wrestling mencapai era emasnya, para pemegang lisensi lagu-lagu ini akhir tahu bahwa mereka bisa panen duit dengan menagih ongkos penggunaan lisensi lagu mereka. Itupun kalau para pegulat meminta izin menggunakan lagi mereka secara resmi. Dalam kasus Dusty Rhodes misalnya, pegulat satu ini sempat masuk gelanggang dengan lagu “Purple Rain” milik Prince—sebuah keputusan yang kurang bijaksana sebab Prince dikenal sebagai musisi yang ngotot mengendalikan karya-karyanya.

Pada masa itu, WWF—alih-alih membereskan masalah biaya lisensi ini—malah menghindari masalah ini dengan menciptakan lagu tema bagi tiap pegulatnya sencara mandiri. Ini jelas langkah bisnis yang cerdik sebab jika mereka menyewa sekumpulan musisi untuk merekam lagu tema, mereka tak usah ribet membayar biaya lisensi dan lagunya bisa mereka gunakan sampai kapanpun. Malah, jika WWF bisa menggaji musisi yang benar-benar tahu cara bikin lagu yang antemik dan mudah diingat orang, WWF bisa dengan mudah melibatkan lagu-lagu tersebut sejarah kultural di sekitar pro wrestilng tanpa memicu pemahaman yang tak diiinginkan terkait lagu tersebut. Gampangnya, “Purple Rain” mungkin punya konteks di luar pro wrestling saat dimainkan oleh Dusty Rhodes sebelum berjibaku dengan Rick Flair di Starrcade ‘84, tapi “Real American” dilihat dari sisi manapun hanyalah lagu tema gulat biasa.

Salah satu musisi yang dipekerjakan oleh Vince McMahon untuk menulis lagu-lagu macam “Real American” ini adalah Jim Johnston. Baru-baru ini, tersiar kabar jika Johnston akhirnya cabut dari WWF setelah bekerja di sana selama 32 tahun . Peninggalan Johnston untuk WWF kelewat banyak. Mustahil menulis semua judul lagu yang dia buat dalam artikel ini. Pasalnya, musisi satu ini memang dikenal produktif dan tak alergi mencoba segala macam gaya bermusik. Buktinya, Johston bisa menulis lagu tema Ultima Warrior yang sarat riff-riff metal repetitif lalu, sekian tahun kemudian, Johnston dengan mudah menggubah lagu march pemakaman Undertaker yang lamban.

Pun, saking produktifnya musisi satu ini, saya berani taruhan jika ada lagu tema WWF yang nyantol di otak kamu, kemungkinan besar Johnston-lah yang menulisnya. Atau minimalnya, dia ikut memberikan masukan dalam proses penulisannya. Karya-karya Johston pada dekade ‘90 di antaranya adalah lagu-lagu tema milik “Stone Cold” Steve Austin, The Rock, D-Generation X, Chris Jericho dan Billy Gunn yang sampai sekarang masih kita ingat. Lagu-lagu yang cepat nempel di ingatan seperti ini terus diproduksi hingga tahun 2000an. Jelas, masing-masing dari kita punya lagu favorit. Lagu tema favorit saya, misalnya, adalah lagu tema pertama Edge yang agak-agak industrial. Sepintas, lagu ini mirip seperti track-track kompilasi Cleopatra Records. Sampai saat ini, saya masih sering kangen mendengarkan lagu ini. Malah, menurut saya, lagu tema ini jauh lebih baik dari lagu tema Edge yang paling ayar sekalipun.

Kalian juga pasti punya lagu tema favorit. Yang mana pun itu, saya sih tak peduli karena memang tak penting. Yang jelas kita semua punya lagu tema favorit. Yang menarik, kita suka lagu ini bukan karena kualitasnya musik yang keren dan bikin kita pengin menyetelnya saban hari. Kita menggandrungi lagu-lagu ini karena lagu tema sudah menyatu dengan karakter pegulat yang diwakilinya. Jadi, kita tak nyerocos “YA AMPUN, LAGUNYA STONE COLD NIH” kalau lagunya tak sejalan dengan karakter Stone Cold. Artinya, Johnston memang jagonya menerjemah karakter pegulat dalam bentuk komposisi lagu. Mau bukti? Coba sebut satu nama pegulat pro wrestling. Niscaya, hal pertama yang kepikiran di otak kalian adalah lagu tema pegulat tersebut. Iya kan?

Sayangnya, Johnston kini sudah meninggalkan WWE dalam usia yang belum mencapai 60 tahun. Penyebabnya adalah kontraknya dengan WWE sudah habis. Namun, jauh sebelum itu, peran Johnston mulai dikerdikan beberapa tahun ini karena proyek pembuatan lagu tema makin sering diborong CFO$. Jujur saja, meski punya gaya yang berbeda dari Johnston dan cenderung aneh, CFO$ sudah berhasil menelurkan sejumlah lagu tema ikonik, seperti lagu tema milik Shinsuke Nakamura, Bobby Roode dan AJ Styles.

Fakta ini mengindikasikan dua hal. Yang pertama adalah dugaan sinis bahwa sebenarnya menggubah lagu tema pro wrestling itu pekerjaan yang enteng dan perkara pencocokan lagu dengan karakter itu lebih banyak dikerjakan oleh pegulat WWE. Lagipula, kancah pro wrestling toh tetap punya lagu tema orisinil yang keren begitu tren mencomot lagu berlisensi mulai ditinggalkan.

Dugaan kedua—yang cenderung saya yakini dan kesannya lebih optimistik—adalah peggubah lagu-lagu tema pro-wrestling adalah para alkimis yang bisa membentuk karakter pegulat jauh lebih efektif dari settingan drama WWE yang lebay. Nah dalam hal ini, saya tak bilang bahwa Johston secara tak langsung menulis standar musik pop dunia. Lagipula, itu bukan pekerjaannya. Dia dibayar untuk menulis lagu bagi dunia WWE yang penuh mitos. Mitos memerlukan karakter dengan ego yang besar dan musik tema adalah penjelmaan ego tersebut dalam bentuk gelombang suara.

Johnston paham betul akan hal ini. Tak heran, meski posisinya mulai disingkirkan beberapa tahun ini, sumbangsihnya pada WWF/WWE tak akan bisa dilupakan sedrastis apapun gelanggang pro wrestling berubah di masa depan

More VICE
VICE Channels