Upaya 'Tiga Mata Sapi' Bikin Karung Plastik di Rumah Kalian Punya Kehidupan Kedua

Siapa sangka, tote bag dan pouch hasil daur ulang karung nampak keren ketika kalian tenteng ke mana-mana.

|
13 Juni 2019, 11:46am

Dunia berduka saat seekor paus mati di laut Filipina pada 18 Maret lalu. Tapi duka itu lekas berubah menjadi kemarahan: 40 kilogram sampah dalam perut sang paus.

"Hal ini sangat menjijikkan dan menyedihkan," kata peneliti Darrel Blatchley kepada VOA Indonesia. "Kami telah melakukan nekropsi terhadap 61 lumba-lumba dan paus dalam 10 tahun terakhir, dan ini jumlah plastik terbesar yang kami temukan."

Di antara sampah-sampah plastik itu, ada karung beras bekas berukuran 56 x 90 cm. Bukan tak mungkin karung itu pernah membungkus beras yang kita makan. Indonesia, kita tahu, memproduksi beras sebanyak 47,3 juta ton dan mengonsumsinya hingga 33,47 juta ton per tahun.

Dan Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah plastik yang terhebat: 3,22 juta metrik ton per tahun, dengan 70 persennya berupa sampah rumah tangga.

1560426238415-DSC06703

Duka datang dan pergi. Kemarahan pasang dan surut. Namun, kesalahan selalu membayangi kita. Kesalahan hanya bisa dibayar dengan bertanggungjawab secara terus-menerus, sambil berharap bahwa upaya itu memadai.

VICE menemui Ursula Tumiwa dan Artisa Tumiwa, duo ibu-anak penggagas Tiga Mata Sapi, yang menyulap karung-karung bekas beras dan tepung menjadi tote bag, pouch, dan berbagai produk kerajinan tangan lainnya sejak 2014.

Selain turut membendung limpahan limbah, upaya Tiga Mata Sapi ini juga menunjukkan bahwa kegiatan daur ulang bukan semata amal baik, tetapi juga peluang ekonomis.

VICE: Halo Ibu Ursula, bisa ceritakan asal ketertarikan Ibu membuat produk kerajinan tangan dari karung dan plastik bekas?
Ursula Tumiwa: Bisa dibilang ketertarikan ini terbit pada 1991, saat saya tinggal di Kanada dalam rangka program pertukaran pelajar. Selama di Kanada saya terlatih untuk memilah sampah, dan melihat berbagai cara sampah bisa didaur ulang. Saya sampai takjub, “Oh, sampah ternyata bisa jadi seperti ini toh.” Saat itu saya juga mulai membawa tas belanja sendiri ke mana-mana, yang akhirnya menjadi kebiasaan.

Pada 2014 saya mendirikan usaha kerajinan tangan. Di sisi lain, keluarga saya sudah cukup lama mengumpulkan karung beras dan kantong plastik bekas. Daripada dianggurin, saya dan anak saya mencoba menjadikannya bahan dasar kerajinan tangan—kami membuat tote bag dan pouch. Terus jadi penasaran, deh, kira-kira apa bisa disablon? Ternyata bisa. Setelah beberapa percobaan kami mulai suka dengan hasilnya.

1560426261186-DSC06704

Apa cerita di balik pemilihan nama Tiga Mata Sapi—usaha ini, kan, nggak ada hubungannya dengan telur ceplok ataupun sapi.
Awalnya saya sempat memberi nama Indonesia Loh, tapi rasanya terlalu spesifik. Jadilah kami ubah menjadi Tiga Mata Sapi. Menurut kami nama ini lebih mudah diingat, lebih catchy, lebih fun—lebih unik lah. Itu saja, nggak ada makna spesial atau filosofi tertentu.

Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap Tiga Mata Sapi?
Masyarakat cukup apresiatif. Pernah waktu itu, di acara Minikino, beberapa tamu internasional bilang bahwa Tiga Mata Sapi adalah gagasan cemerlang. Kami senang banget! Ya, bangga juga lah karena bisa turut mengurangi sampah plastik.

Bagaimana proses pengelolaan karung beras bekas hingga menjadi totebag siap jual?
Pertama adalah tahapan pemilahan, lalu tahapan pencucian. Karung bekas tepung dan beras biasanya kusam, jadi terkadang tahapan ini memakan waktu cukup lama. Selanjutnya tahapan pengeringan, lalu pemotongan. Pada tahapan inilah karung dipotong sesuai dengan pola yang kami rancang. Setelah itu dijahit dan dipasangkan aksesoris—biasanya, sih, kami pakai batik, supaya ada ciri khas Indonesia.

Selain membuat kerajinan tangan, apa kegiatan Tiga Mata Sapi lainnya?
Pernah beberapa kali bikin lokakarya seputar daur ulang sampah. Kami juga mengimbau warga sekitar rumah untuk tidak membuang karung bekas. Karung bekas, kalau dibeli dari pengepul lain, terkadang kondisinya buruk sehingga sulit diolah lagi. Jadi lebih baik mengorganisir para tetangga. Sejauh ini hasilnya lumayan, saya bisa membeli 1-5 karung bekas dalam kondisi layak dari setiap rumah.

Apa kendala yang Ibu hadapi dalam mengelola bahan-bahan ini?
Itu tadi: kualitas karung bekas tidak konsisten. Kalau dapat karung yang sudah kotor dan koyak, kami perlu mencucinya lebih lama. Tapi nggak apa-apa, namanya juga sampah.

Selain itu, terkadang konsumen ingin bahan yang lebih ringan sementara karung, kan, berat. Siasat kami adalah membuat produk berukuran kecil—sarung laptop, pouch, tote bag—sehingga otomatis beratnya berkurang.

Apakah, berdasarkan pengalaman Ibu, sampah bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan?
Cukup menjanjikan, saya pernah menerima pesanan sampai 500 tas. Lagi pula proses pembuatannya relatif singkat: 200 produk dalam lima hari kerja. Tantangannya adalah menetapkan harga jual yang pas, yang terjangkau oleh khalayak karena, bagaimanapun, produk-produk ini berbahan dasar "sampah."

1560426198171-DSC06700

Apa kesan Ibu soal sampah plastik di Indonesia?
Suram, deh. Di sini, sedikit-sedikit plastik. Mau beli buah harus pakai kantong plastik. Ketika sakit, beli obat, kemasannya plastik. Ini sangat disayangkan. Kita harus mengubah pola pikir dan perilaku kita, dari yang kecil-kecil saja. Dari yang kita bisa.

Kira-kira bagaimana kita memulainya?
Mudah kok. Jangan buang sampah sembarangan. Kalau belum bisa sepenuhnya berhenti menggunakan plastik, ya sudah, tapi setidaknya kita bisa memilah sampah sendiri. Kalau sampah plastik sudah terlanjur kotor, boleh lah dibuang. Tapi, kalau masih bagus disimpan saja. Siapa tahu bisa digunakan kembali atau, kalaupun tidak, pasti bisa didaur ulang.

Memilah sampah adalah langkah kecil untuk kebaikan besar. Bayangkan setiap orang melakukannya, kita mungkin bisa menyelesaikan salah satu masalah lingkungan lebih cepat dari yang kita duga.


Seri The Pledge adalah kolaborasi VICE X Danone AQUA mengkampanyekan kesadaran tentang gerakan #BijakBerplastik