Industri Musik

Konsep Perbedaan Genre Musik Perlahan Mati, Generasi Z Pembunuhnya

Populernya layanan streaming dan musisi khas Gen Z seperti Lil Nas X atau Billie Eilish membuat batas antar genre dirobohkan. Memisahkan karakter penikmat rock, rap, hingga country tidak lagi relevan.

oleh Megan Evershed
22 April 2019, 11:35am

Cuplikan video klip Billie Eilish, 'when the party's over'

Single Old Town Road-nya Lil Nas X digambarkan banyak pihak sebagai campuran trap, rap, dan country—meski akhirnya batal masuk tangga lagu country Billboard karena kurang ‘country’. Lagu ini berisi unsur ketiga genre tersebut. Atau, bisa juga kita menyebut Old Town Road tidak diniatkan mempunyai genre sama sekali.

Lil Nas X adalah musisi yang mewakili semangat Generasi Z. Anak-anak Gen Z (sebutan ini untuk menandai anak muda yang lahir pada 1996 sampai pertengahan 2000-an) tidak tertarik pada label. Ide soal gender dan seksualitas bagi Gen Z adalah konsep penuh spektrum. Selain menjauhi batas gender tradisional, Gen Z juga melampaui pembedaan karakter musik. Generasi ini punya semangat lebih untuk bereksperimentasi dengan musik yang semakin sulit dikategorisasikan.

Patut dicatat, Gen Z bukan generasi pertama yang mencoba merobohkan sekat genre musik. Musisi generasi milenial di atas mereka juga suka lompat-lompat genre. Tetapi eskperimentasi ini di ranah arus utama masih terbatas. Banyak juga album dari musisi millenial yang gampang kita masukkan kategori-kategori genre tradisional, sekalipun ada elemen genre lain di dalamnya.

Contohnya adalah keputusan Taylor Swift untuk beralih dari country ke pop. Dia melompat-lompat antara dua genre yang definisinya sejak awal jelas. Tidak terlalu eksperimental lah, mengingat country juga punya elemen pop. Masih mudah bagi pendengar untuk menentukan Taylor Swift di lagu tertentu sedang memainkan musik dari genre yang mana.

Sementara artis-artis Gen Z sepenuhnya mengabaikan kategorisasi genre tradisional. Makin sulit bagi kita untuk bilang, "hmm, dia ini musiknya rap atau rock atau metal atau elektronik sih?!"

Perkembangan eksperimen menghapus sekat antar genre ini dipengaruhi naik daunnya layanan-layanan streaming musik. Layanan streaming mengubah secara total cara manusia masa kini mengkonsumsi musik.

Lewat platform-platform seperti Spotify atau Apple Music, penjelajahan musik kita sangat sulit hanya terpatok pada pada album-album atau genre spesifik. Kita sekarang bebas memilih lagu kesukaan dari genre apapun untuk ditambah ke playlist. Playlist-playlist yang disediakan oleh algoritman layanan streaming juga beragam.

Merujuk laporan yang dibuat pada 2018 oleh Sweety High, sebuah perusahaan media khusus perempuan, sekitar 97 persen perempuan Gen-Z yang mereka survei mendengarkan "paling sedikit lima genre musik berbeda secara reguler."

Selera musik anak muda masa sekarang lebih beragam dibanding ortu dan kakak-kakaknya. Perubahan selera ini turut mempengaruhi produksi musik zaman sekarang. Perpaduan suara yang berbeda lebih mungkin dilakukan, ketika pembuat musiknya sendiri juga terbiasa mendengarkan berbagai macam genre.

Layanan streaming juga mengubah cara konsumen masa kini mengorganisir musik pada platformnya. Ambil contoh Spotify. Perusahaan Swedia ini mengorganisir musik menggunakan kategorisasi yang cenderung tak taat genre. Spotify menciptakan playlist yang sesuai mood ("Lagi Galau") atau bertema aktivitas tertentu (“Mager”).

Playlist-playlist ini berisi lagu dari beragam genre. Salah satu lagu di playlist “Creamy” tidak terbatas hanya pada musik dengan bass kenceng, musik elektronik buat joget, atau musik "indie". Semua lagu di dalamnya bisa memadukan unsur dari ketiga genre tersebut.

Banyak Gen Z di seluruh dunia, karena menikmati fasilitas internet lebih merata dibanding kakaknya, tumbuh besar dengan Spotify dan kategorisasi genre yang longgar. Konsumen dengan usia di bawah 22 tahun terbiasa mengandalkan layanan streaming untuk menentukan mood harian. Kebiasaan ini mengubah karakter genre, sekaligus mempengaruhi cara mereka memandang musik. Masuk akal dong, kalau sekarang musisi Gen Z menciptakan lagu yang menolak sekat genre dan memanfaatkan media sosial secara massif untuk mengiklankan musik mereka—artinya menyasar demografi yang lebih luas.


Tonton dokumenter VICE tentang boyband K-Pop kontroversial karena tak ada personelnya yang orang asli Korsel:


Kebiasaan anak muda ini tentu merusak marketing musik dan pola A&R gaya lama. Dulu perusahaan rekaman terbiasa memikirkan segmen pasar untuk genre tertentu. Jazz dan musik elektronik "susah dijual" karena penikmatnya kecil. Sementra "pop" dan "rock" akan lebih digenjot. Sekarang, asumsi itu tak berlaku lagi. Sangat normal untuk menduga penikmat jazz, musik tradisional Thailand, dan folk jauh lebih besar dari perkiraan orang tua yang menguasai label rekaman. Memasarkan musikmu lewat medsos secara massif, justru berpeluang membuatmu meraih pasar yang lebih luas. Tidak seperti dulu.

Kalau ada pembaca yang masuk kategori Generasi Z, akui saja, kalian pasti lebih sering menggunakan medsos ketimbang generasi sebelumnya. Artinya, kamu memahami alasan konten viral dan kamu jago memanfaatkan platform medsos untuk mempengaruhi orang lain. Lil Nas X, contohnya, mempunyai akun Twitter yang sudah populer bahkan sebelum dia terkenal karena lagu Old Town Road.

Dia bahkan menggunakan TikTok untuk memasarkan lagunya. Old Town Road menemani seri video tentang dua remaja yang jatuh cinta, dan tak lama kemudian jadi viral. Alasan lain lagu tersebut populer karena dirilis tepat waktu, ketika pengguna Internet di AS sedang mengalami popularitas Yeehaw, meme bernuansa koboi. Lil Nas X sangat melek konten viral, dan mengerti dinamika medsos. Saat dia berencana membagikan musiknya, dia mudah saja menavigasi platform online, tanpa harus dapat bantuan dari konsultan pemasaran. "Aku memang jenius di bidang pemasaran," begitu tulisnya dalam sebuah cuitan.

Media sosial juga faktor penting bagi Billie Eilish. Saat diwawancarai Majalah Harper's Bazaar, dia mengaku "berterimakasih pada media sosial, karena aku bukan apa-apa tanpanya."

Billie menggunakan medsos buat berkomunikasi sama penggemarnya. Medsos juga ia pakai merilis video musik, dan mengumumkan jadwal rangkaian tur konser. Bagi musisi Gen Z seperti Lil Nas X dan Billie Eilish, platform-platform media sosial mempengaruhi cara musisi zaman sekarang memahami proses pembuatan musik.

Di internet, kamu gampang menemukan orang yang selera musiknya sama sepertimu, dan itu bisa membuatmu merasa tenang. Di sisi lain, kondisi ini juga bisa membuatmu tidak bisa dibedakan dari orang lain. Menciptakan ruang sendiri—sebagai sosok seleb medsos ataupun musisi—menjadi hal penting. Memadukan genre dan mewujudkan suara yang unik merupakan satu cara untuk menciptakan identitas musik yang khas.

Dampak lainnya, musik yang tidak berbahasa Inggris menjadi semakin populer. Artis-artis berbahasa Spanyol, seperti Rosalía dan Bad Bunny, sudah diundang manggung di Coachella tahun ini. Grup-grup besar K-Pop seperti BLACKPINK dan BTS mempunyai penggemar fanatik di seluruh dunia. Pendengar musik Gen Z mempunyai playlist-playlist terglobalisasi dan mendengarkan lagu dari beraneka negara.

Artinya, dalam hal membuat musik, Gen Z lebih nyaman mencampurkan suara dari latar geografis berbeda-beda. R.I.P, rilisan baru dari penyanyi berusia 23 tahun Sofia Reyes, adalah contoh nyata tren ini. Pandora Music mendefinisikan lagunya sebagai perwakilan delapan genre; setiap genre tidak melebihi 16 persen seluruh lagu yang ada di album itu.

Album ini, pendek kata, memiliki pengaruh musik Karibia, Afro-Latin, dan Latin. Berbagai genre yang seakan dilebur tanpa peduli batasan geografis dalam R.I.P. adalah bukti karya artis-artis Gen Z mencerminkan dunia yang semakin terglobalisasi dalam musik mereka.

Gen Z juga tumbuh besar menggunakan berbagai aplikasi ponsel dan platform yang memudahkan produksi serta distribusi musik. Software pembuat musik masa sekarang dapat diakses siapapun, asal punya memori dan kuota internet. Siapa saja bisa mengunduh aplikasi pembuat beat. Setelah selesai menciptakan lagu, kamu tinggal mengunggahnya ke SoundCloud—seperti yang dilakukan Billie Eilish.

Billie mulai membuat musik yang sulit diringkus dalam satu genre saja, bersama kakaknya saat masih berusia 13. Pada 2015, dia mengunggah lagu perdananya, ocean eyes, ke SoundCloud dengan link download gratis. Lagu tersebut menjadi populer hanya beberapa jam setelah diunggah. Hillydilly, situs pencarian musik, mengunggah lagu Billie ke situs mereka, membuatnya jadi “semakin populer”.

Naik daunnya Billie membuktikan bila produksi dan distribusi musik tidak perlu lagi mengandalkan koneksi di industri musik. Bukan berarti musik sudah tidak terindustrialisasi lagi ya. Tetapi sekarang kamu lebih gampang mendapatkan fanbase hanya dengan bakat, sebuah komputer, koneksi Internet, dan akun SoundCloud.

Murahnya proses pembuatan musik juga membuat kamu tidak sepenuhnya berutang pada bos industri musik. Tidak ada kewajiban buatmu membatasi diri hanya mendalami satu genre. Selama karyamu menarik, industri lah yang akan mendatangimu.

Dominic Fike berusia 23 tahun menandatangani kontrak dengan label rekaman senilai US$4 juta (setara Rp 56 miliar) karena kualitas musik yang dibuatnya sebagai artis independen, saat ia menjalani tahanan rumah karena terlibat kasus pidana. Dia memposting album demo berisi enam lagu ke internet, yang memicu perang penawaran kontrak antara label-label rekaman. Musik Fike memadukan musik gitar, indie, dan hip-hop. Fike contoh lain kegemaran Gen Z mencampur genre.

Layanan streaming, medsos, dan mudahnya akses membuat musik tidak hanya berkontribusi pada wujud kebudayaan baru yang ditandai kegemaran Gen Z menolak labelisasi genre-genre tradisional. Berbagai perubahan ini turut mempengaruhi cara mengukur kesuksesan produk musik di zaman sekarang.

Musisi ataupun pendengar biasa tidak lagi mempedulikan tangga lagu dan penjualan seperti generasi-generasi sebelumnya. Sebab musik yang mereka dengar tidak lagi masuk kategori-kategori klasik. Kontroversi dikeluarkannya Old Town Road dari tangga lagu country tidak hanya memicu percakapan mendalam tentang definisi genre. Berita ini sekaligus memaksa kita untuk bertanya apakah tangga lagu Billboard masih relevan.

Apakah artinya kita sedang memasuki dunia musik pascagenre? Apabila genre sudah dianggap tak lagi penting, suatu saat nanti, bisakah kita ngobrolin musik tanpa perlu mengkotak-kotakkannya menjadi “musik country” atau “musik pop”?

Dalam wawancara bersama Billboard, Eilish mengaku benci konsep genre. "Saya kira musik tidak perlu dimasukkan ke dalam kategori tertentu."

Bila lebih banyak musisi Gen-Z punya mentalitas seperti Eilish, dan mereka terus menciptakan lagu yang sulit dikotak-kotakkan dalam genre tertentu, maka kesimpulannya semakin gamblang saja.

Penikmat musik di masa mendatang akan semakin menjauh dari pembedaan kaku tiap genre. Bukan tidak mungkin kita akan hidup di dunia yang mana kategorisasi musik tidak lagi penting. Musisi Gen-Z mulai bergerak ke arah sana. Mungkin inilah saatnya bagi sebagian pekerja industri musik global mengikuti jejak mereka.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D