seks dan gender

Kontes Ketampanan di Nigeria Bolehkan Juri Perempuan Tidur dengan Pemenang

Laki-laki dari suku Wodaabe di Nigeria Utara bisa menghabiskan waktu hingga enam jam untuk memenangkan kompetisi tahunan tersebut.

oleh Kate lister
24 September 2018, 12:00pm

Dalam rubrik terbaru ini, Dr. Kate Lister, dari Leeds Trinity University , memahami bagaimana orang dari seluruh dunia memandang hubungan cinta, seks, dan pernikahan. Sebagai sejarawan terkemuka di bidang seks, Dr. Lister tidak hanya memahami tetapi juga mengambil pelajaran dari pandangan orang tentang seks.

Dalam hubungan percintaan, kita akan melakukan apa saja untuk merebut hati gebetan. Ada orang yang berdandan semenarik mungkin; ada juga yang mengunggah foto-foto selfie mereka yang paling bagus. Intinya, kita akan memamerkan kelebihan yang dimiliki.

Akan tetapi, orang Inggris kesulitan melakukan ini. Mereka tidak terbiasa menunjukkan kelebihannya karena tidak mau dikira pamer. Padahal, tidak ada salahnya kalau kita bangga dengan kelebihan diri. Kita bisa belajar dari suku Wodaabe, suku nomaden dari Afrika yang melintasi negara-negara seperti Niger, Kamerun, Nigeria dan Chad.

Orang-orang dari suku Wodaabe sangat menawan, dan mereka tidak malu mengakuinya. Suku Wodaabe bahkan dijuluki sebagai ‘suku paling narsis di dunia’. Saya rasa istilah ‘narsis’ kurang tepat menggambarkan mereka, tetapi kebudayaan Wodaabe memang tidak dapat dipisahkan dari keindahan.

Kamu mungkin berpikir tidak ada yang istimewa darinya, karena setiap budaya punya daya tariknya masing-masing. Namun, suku Wodaabe sangat memuja ketampanan laki-laki. Di suku ini, laki-laki bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk merias wajahnya. Para perempuan Wodaabe memang menjaga penampilannya, tetapi tidak semaksimal kaum adam.

Mette Bovin telah mengikuti dan mendokumentasikan kehidupan masyarakat suku Wodaabe sejak 1965. Dia menulis bahwa “laki-laki dari suku Wodaabe akan langsung berkaca dan berdandan setelah bangun tidur… dia tidak akan keluar rumah kalau belum melakukan kebiasaan pagi harinya’. Setiap hari, laki-laki Wodaabe memakai eyeliner hitam supaya matanya tampak lebih besar dan putih. Mereka akan memakai banyak perhiasan, menyemprotkan parfum dan mengepang rambut gondrongnya. Laki-laki yang tampan adalah mereka yang berambut panjang dan tebal. Dalam budaya Wodaabe, mereka akan disebut ‘kayeejo naawdo’ karena ketampanannya yang tiada tara.

Wodaabe berarti ‘Orang Tabu’, yang mengacu pada banyak aturan budaya yang membentuk kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, suku Wodaabe tidak pernah memanggil orang-orang yang dicintai dengan nama mereka—yang menyulitkan mereka untuk menemukan satu sama lain di kerumunan. Mereka menganggap tidak begitu penting menampilkan rasa sayang terhadap orang-orang yang dicintai sebagai tanda kehormatan, dan ini termasuk penggunaan nama depan mereka. Wodaabe juga memiliki perilaku tabu yang ketat soal kebersihan, makan, dan, tentu saja, seks.

Perkawinan pertama dari laki-laki atau perempuan Wodaabe biasanya diatur oleh orang tua mereka sejak usia yang sangat muda. Namun, Wodaabe tidak mempraktekkan monogami, dan tidak ada rasa malu pada laki-laki dan perempuan yang menikah dan memiliki kekasih, meskipun tabu mendiktekan bahwa mereka hanya boleh menikah sekali seumur hidup. Meskipun Wodabe adalah masyarakat patriarkal, ketika menyangkut seks, para perempuan yang pegang kendali. Festival kesuburan Gerewol tahunan sangat menampilkan ini. Puncak acaranya berupa kontes ketampanan—para laki-laki bersaing dan para perempuan menilai.

Para laki-laki yang bersaing akan mempersiapkan diri selama berhari-hari, dan persiapan pada hari-H bisa memakan sampai enam jam. Kepala mereka dicukur di bagian depan dan rambut kepang mereka dihiasi dengan cangkang. Untuk riasan mata, mereka mewarnai kulit dengan warna kuning kunyit atau kuning telur untuk menciptakan warna kuning dan merah. Bibir mereka dicat hitam untuk memamerkan putihnya gigi. Riasan putih diaplikasikan pada pipi dan di bawah pangkal hidung—Wodaabe sudah paham berkontur jauh sebelum Kim Kardashian terkenal. Mereka mengenakan jubah indah bersulam, bulu cerah, dan perhiasan yang terbuat dari cangkang dicat. Semua kontestan akan menari setelah siap.

Tarian yang dilakukan di Gerewol disebut ‘yaake.’ Meskipun suhu bisa mencapai 40° C, para laki-laki kuat menari berjam-jam, memamerkan gigi dan memutar matanya dengan harapan mengesankan para juri perempuan dengan bola matanya yang sejernih dan seputih mutiara. Mereka bernyanyi keras dan melompat-lompat untuk menunjukkan staminanya. Para laki-laki dan perempuan yang lebih tua akan menyemangati dan mendorong penari untuk melakukan gerakan yang lebih rumit dan energik—seperti ketika ibumu menyemangatimu di pub.

Persaingan untuk menjadi orang yang paling diinginkan sangat sengit di Gerewol, dan untuk alasan yang tepat. Para jurinya adalah perempuan berstatus tinggi, seperti putri-putri juara masa lalu. Ketika seorang juri memilih pemenang, mereka tidak hanya mendapatkan selempang dan mahkota. Mereka bisa berhubungan seks dengan sang juri—bahkan jika satu atau kedua pihak sudah menikah. Juri perempuan juga dapat menyetujui untuk ‘dicuri’ dari suaminya dan menikah lagi dengan salah satu pemenang. Tetapi, tidak ada tekanan bagi seorang istri untuk meninggalkan suaminya setelah dia menemukan laki-laki yang paling tampan di dunia, dan dia mungkin hanya ingin berhubungan seks dengannya malam itu.

Ketika seorang perempuan telah memilih kekasihnya dari mereka yang bersaing, dia akan memberi isyarat dengan sedikit gerakan tangan. Setelah matahari terbenam, pasangan itu akan menghilang dari keramaian dan menghabiskan malam bersama, bercinta di atas daun palem yang telah dibawa laki-laki itu di pundaknya selama Gerewol. Ini jauh lebih beradab daripada berhubungan mesum di jok belakang mobil.

Berhubung tradisi ini dianggap sebagai kehormatan besar bagi seorang laki-laki untuk dipilih sebagai yang paling tampan, pasangan dari para juri dan penari itu berharap pasangan mereka akan mendapatkan pengalaman seksual baru. Ini harus dirayakan dan dihormati. Tentu saja, kadang-kadang kecemburuan seksual muncul di kepalanya. ‘Munyal’ dikatakan sebagai kualitas tertinggi yang dapat dimiliki perempuan Wodaabe, dan itu berarti memiliki kesabaran dalam semua hal, tetapi terutama dengan kekasih suaminya. Di samping itu, saya membayangkan kamu akan membutuhkan kesabaran yang besar jika pasanganmu mendekam di kamar mandi selama berhari-hari untuk dandan.

Mungkin kamu tidak akan merasa terlalu nyaman untuk mendorong pasanganmu melakukan hubungan seks dengan seorang kekasih yang sangat menarik di sebuah festival, tetapi bagi Wodaabe yang memiliki banyak pasangan merupakan cerminan dari keinginan seseorang.

Keyakinan dan kebanggaan dalam penampilan mereka berakar pada keterbukaan dalam cara mereka memandang seks. Kalau kita repot-repot menulis bio untuk aplikasi kencan, suku Wodaabe memiliki kepercayaan diri untuk swipe ke kanan secara langsung. Itu artinya tidak ada yang salah dengan membanggakan diri.

Dr Kate Lister adalah sejarawan di bidang seks, sekaligus penulis dan dosen di Leeds Trinity University. Dia memiliki blog Whores of Yore . Kamu juga bisa follow akun Twitter -nya.