Iklan
Alergi Makanan

Alergi Makanan Amat Bahaya Lho, Bocah 13 Tahun Tewas Setelah Diusili Kawan Pakai Keju

Seorang pelajar SMP di London ditangkap polisi atas dugaan percobaan pembunuhan karena menyisipkan potongan keju ke pakaian kawan sekelas yang alergi olahan susu.

oleh Jelisa Castrodale
24 September 2018, 3:41am

Foto ilustrasi Getty Images

"Sampai ketemu nanti," kata Karanbir Cheema kepada kakeknya sebelum berangkat sekolah pada suatu pagi, Juni tahun lalu. Menurut ibunya, itulah kata-kata terakhir yang dia dan kakek Cheema dengar darinya. Bocah 13 tahun ini jatuh koma setelah mengalami syok anafilaktik saat jam makan siang. Keluarga Cheema berada di sisinya ketika dia meregang nyawa di sebuah rumah sakit pinggiran London, Inggris, sepuluh hari kemudian.

Pada pemeriksaan yang diadakan pekan ini, penyidik kepolisian dan tim paramedis memberi kesaksian atas kematian Cheema pada Juli 2017. Cheema memiliki alergi parah terhadap gandum, gluten, susu, telur, dan kacang-kacangan.

Selain itu, dia juga menderita asma. Teman sekelasnya tahu kondisi kesehatan Cheema, tetapi salah satu dari mereka malah menjahilinya. Kematian Cheema diduga disebabkan oleh teman sekelasnya yang iseng memasukkan potongan keju ke bagian belakang baju mendiang.

Anggota staf sekolah segera memasangkan inhaler dan memberi Cheema dua dosis antihistamin, serta menyuntik Epipen untuk mencegah anafilaksis. Menurut The Telegraph, anggota paramedis pertama yang menangani bocah itu bersaksi bahwa dia dan kru ambulans tiba di sekolah tujuh menit kemudian.

"Setibanya di TKP, saya langsung menyadari kalau situasinya mengancam jiwa dan pasien berisiko tinggi terkena serangan jantung dan pernapasan," kata tim paramedis London bernama Kierin Oppatt. "Staf sekolah menduga kalau ada murid yang jahil mengejar dan melempar keju ke dalam bajunya. Alerginya kambuh. Badannya gatal-gatal dan panas. Dia juga kesulitan bernapas."

Cheema berhenti bernapas saat menerima tindakan medis. Dia tetap tidak sadarkan diri meskipun tim paramedis sudah melakukan CPR, menyuntikkan adrenalin, dan menggunakan defibrillator. Dia meninggal di Rumah Sakit Great Ormond pada 9 Juli.

Teman sekelas Cheema yang juga masih 13 tahun ditangkap atas dugaan percobaan pembunuhan tak lama setelah terjadinya insiden. Akan tetapi, remaja itu belum resmi dituntut. Seorang juru bicara polisi mengatakan kalau anak tersebut baru dikeluarkan dari sekolah.

“Cheema murid yang luar biasa. Dia sangat pandai di pelajaran komputer dan matematika. Dia sering belajar komputer. Dia bercita-cita jadi programmer komputer," kata ayah Cheema kepada The Evening Standard tak lama setelah kepergian buah hatinya itu. "Kami sangat bangga dengannya. Masa depannya cerah. Masih banyak yang seharusnya bisa dia lakukan dalam hidupnya."

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES