Iklan
politik dan kesehatan masyarakat

Aku Hampir Mati Karena Menjalani Pengobatan HIV Palsu Program Paksaan Diktator

Mantan Presiden Gambia, Yahya Jammeh, merasa menemukan solusi penyembuhan HIV/AIDS. Fatou Jatta adalah salah satu dari ribuan pengidap HIV/AIDS yang dipaksa menjalani pengobatan kontroversial itu.

oleh Anna Pujol Mazzini
15 April 2018, 6:00am

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly

Sewaktu Fatou Jatta mengetahui kalau dia mengidap HIV pada 1990an, banyak orang mengatakan tak ada lagi harapan hidup baginya. Mereka juga mengira akan tertular apabila minum dari gelas yang sama.

“Ada yang bereaksi negatif karena selama ini mereka pikir HIV penyakit mematikan,” katanya saat berada di kantornya dekat Banjul, ibu kota Gambia. Setelah dia memberitahu keluarga dan mendapat dukungan dari mereka, Jatta memutuskan untuk mengakui terang-terangan demi meningkatkan kesadaran publik.

“Ketika keluarga menerima kondisi saya saat itu, saya tidak mau berdiam diri saja di rumah,” tutur Jatta. Dia adalah perempuan pertama di Gambia yang mengakui status HIV-nya pada awal 2001.

Beberapa tahun kemudian, dia dipaksa untuk menjalani pengobatan yang diprakarsai oleh mantan diktator Gambia, Yahya Jammeh, dan disiarkan di stasiun TV nasional. Dia diharuskan mengonsumsi obat semacam minuman herbal dan melepas pakaian agar Jammeh bisa membalurkan losion penyembuh ke tubuhnya yang setengah telanjang.

Sebelum pengobatan itu dimulai, staf presiden menelepon support group HIV-nya pada 2007. Staf mengatakan bahwa presiden sedang membutuhkan sukarelawan yang bersedia mengikuti program pengobatan alternatifnya. “Beliau tidak bisa menelepon langsung. Anda harus mengikuti program ini kalau ingin hidup Anda dan keluarga aman,” kata Jatta. “Kami terpaksa menyetujui karena tidak ingin cari masalah.”

Jatta bersyukur keluarga mengetahui kondisi kesehatannya. Banyak pengidap lain yang statusnya diungkap tanpa persetujuan ketika Jammeh menyiarkan sesi pengobatannya di GRTS, saluran televisi yang dikelola negara, dan ditonton oleh ribuan penduduk Gambia.

Mantan presiden ini terkenal akan kekejamannya. Selama 21 tahun berkuasa, ada ratusan pembangkang, jurnalis, pengacara, dan warga sipil yang hilang, disiksa dan dibunuh. Dia mendeklarasikan bahwa dia akan memimpin Gambia untuk selamanya, dan berjanji akan membunuh pria gay.

Jatta mengira pengobatannya hanya beberapa jam saja di klinik pengobatan yang ada di wilayah kepresidenan Jammeh. Ternyata, dia harus menjalankan pengobatan selama tujuh bulan dan hampir membuatnya meninggal. Setelah meminum obat herbal, tubuh Jatta lemah. Dia muntah-muntah dan tidak kuat untuk membuka mata. Saat dia terbaring lemah di tandu, berbagai kamera tertuju pada dirinya untuk disiarkan di GRTS. Dia tidak pernah tahu apa yang ada dalam minuman itu.

Malam itu, kelompoknya dibawa ke gedung yang tak terpakai dan mereka dikarantina selama masa pengobatan. Banyak peraturan yang diberikan saat itu: dilarang berkunjung, merokok, mengonsumsi minuman keras, dan berhubungan seks. Mereka juga tidak diizinkan untuk membeli makanan dari luar, atau mengonsumsi “obat dari Barat,” seperti yang dikatakan Jammeh. Apabila ada yang memakai obat antiretroviral (ART), mereka harus berhenti melakukannya.

Kondisi kesehatan Jatta semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Untungnya dia masih bisa minum vitamin yang diresepkan dokter. Ada temannya yang menyelundupkan obat itu agar dia bisa meminumnya setiap malam, di saat yang lain terlelap. “Saya keras kepala,” katanya. Waktu itu, jumlah viral load-nya tidak begitu tinggi sehingga dia tidak perlu minum obat antiretroviral untuk melawan infeksi. (Sekarang, World Health Organization menyarankan agar seluruh pengidap HIV untuk menjalankan terapi ART.)

Ribuan warga Gambia yang positif HIV dipaksa memasuki Glass House, lokasi pengobatan Jammeh. Di sana, pemimpin diktator ini mencoba membuktikan kalau dia bisa menyembuhkan HIV, asma, infertilitas, dan hipertensi. Beruntung Jatta masih bisa selamat, di saat ratusan pasiennya meninggal, menurut mantan pasien dan kelompok penderita HIV, AIDS-Free World.

Setahun setelah Jammeh kalah dalam pilpres dan kabur dari Gambia, kelompok penderita HIV sampai sekarang masih berjuang untuk meyakinkan warga Gambia akan pentingnya pemeriksaan kesehatan dan pengobatan yang konvensional. Beberapa masih yakin kalau HIV bisa disembuhkan.

Di Gambia, semakin banyak perempuan yang dites HIV, terserang HIV dan semakin banyak yang melakukan pengobatan, menurut kelompok penderita HIV. Di saat 1,7 persen penduduk Gambia terinfeksi virus, angkanya lebih tinggi pada perempuan (2 persen). Pakar mengatakan bahwa ini bisa disebabkan karena perempuan Gambia cenderung lebih rajin mengunjungi rumah sakit daripada pria yang enggan diperiksa.

“Semua pengidap mengalami stigma, tapi perempuan mengalami lebih parah,” kata Sirra Ndowe, direktur UNAIDS Gambia. Banyak perempuan yang positif HIV ditinggalkan suami dan keluarga ketika mereka mengungkapkan kondisi kesehatannya. Mereka dikucili dan mau tidak mau harus menyewa tempat tinggal. Sayangnya, gosip cepat menyebar apabila tinggal di kota kecil. Pemberi sewa bisa saja enggan menyewakan apartemennya ke perempuan pengidap HIV.

Pada Juli 2007, Jammeh menyatakan Jatta dan kawan-kawannya telah sembuh dan diperbolehkan pulang. Jatta hampir meninggal setelah sembilan bulan menjalani pengobatan alternatif. Sistem kekebalan tubuhnya menurun, dan dia harus meminum antiretroviral.

Dia berusaha melanjutkan hidup, memberi konseling kepada pengidap HIV dan mencoba mengabaikan segerombolan pasien yang pernah memasuki Glass House. Dia perlu menyembuhkan dirinya dulu.

Saat ini, Jatta menjadi relawan sosial di Victims’ Center, sebuah badan amal yang telah mengumpulkan lebih dari 900 kesaksian korban penyiksaan, penculikan, dan perampasan tanah yang terjadi saat pemerintahan sebelumnya.

Seperti penyintas pengobatan HIV Jammeh lainnya, Jatta kini berusia 50-an dan bergabung dalam gerakan yang menuntut dijatuhkannya hukuman terhadap Jammeh. “Kami menginginkan keadilan atas pelanggaran HAM yang telah dia lakukan. Dia telah merampas hak atas kesehatan kami,” katanya. “Banyak orang yang meninggal karena telah memercayainya.”

Sedangkan korban selamat harus kehilangan pekerjaan dan berjuang mencari sewaan apartemen karena stigma yang mengakar. Saat ini, 10 tahun kemudian, banyak yang kenal Jatta karena pernah muncul di TV. Tapi dia tetap tidak peduli seperti saat dia masih 28 tahun, ketika dia didiagnosis HIV. “Hidup saya bebas,” katanya. “Saya tidak peduli apa yang orang lain katakan.”

Tagged:
HIV
AIDS
Gambia
virus
Politik
Penyakit
Rumah Sakit
Sakit
medis
Presiden
fatou jatta