Makin Banyak Perempuan Memutuskan Tak Mau Punya Anak Karena Bumi Terlanjur Rusak

"Kedengerannya dramatis banget ya, tapi aku cuma bersikap realistis saja sih. Cara manusia hidup saat ini membuat Bumi tak bisa menampung lebih banyak orang lagi."

|
15 Maret 2019, 10:36am

Kolase foto oleh Callie Beusman 

Perubahan iklim itu nyata adanya, disebabkan oleh manusia dan kian hari kian buruk saja kondisinya. Pada bulan September 2016, level karbon di atmosfer Bumi akhirnya mencapai titik kritis, sesuatu yang jauh-jauh hari diperingatkan oleh kalangan ilmuwan.

Kendati fakta-fakta di lapangan menunjukan perubahan iklim sebagai isu yang tak bisa dianggap sebelah mata, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat dengen entengnya nge-twit: "pemanasan global adalah konsep yang diciptakan oleh Cina untuk mengurangi daya saing produk buatan AS."

Tak cukup mengeluarkan pernyataan sembrono semacam itu, Trump lantas mengangkat Myron Ebell, seseorang yang getol menyangkal perubahan iklim, untuk mengawasi proses transisi Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) dari pemerintahan sebelumnya.

Kondisi menyedihkan macam ini jelas tidak menguntungkan bagi kita, atau anak-anak kita kelak. Sebuah riset menunjukkan bahwa anak cucu kita akan jadi generasi yang menanggung konsekuensi terburuk perubahan iklim, bukan kita. Berkaca dari kenyataan ini, sejumlah perempuan mulai memikirkan kembali rencana mereka beranak pinak.

"Dalam penelitian tersebut, tertera sebuah angka 9.441. Itu adalah angka jumlah ton karbon yang ditambahkan manusia ke atmosfer untuk setiap anak yang kita lahirkan."

Harriet Spark, yang bekerja sebagai koordinator media dan instruktur diving di Australia, adalah salah satu dari perempuan itu. "Aku bekerja di ranah advokasi isu-isu lingkungan. Jadim saban hari, aku terbiasa membaca banyak tulisan tentang isu-isu yang dihadapi dunia sekarang,” kata Spark kepada Broadly. Bila ada perempuang menyaksikan langsung dampak perubahan iklim, Spark lah orangnya. Perbincangan tentang pemutihan terumbu karang secara masif, misalnya, jadi makanannya sehari-hari di kantor.

Ada dua alasan yang mendasari kebutuhan Spark untuk tak memiliki anak. Pertama, dia tak ingin menambah beban Bumi dan mempercepat habisnya sumber daya Bumi dengan menambah jumlah manusia. Kedua, dia tak ingin melahirkan anak yang akan hidup di dunia yang sudah lebih dulu rusak. "Kedengerannya dramatis banget ya, tapi aku cuma bersikap realistis saja sih," ujar Spark. "Cara manusia hidup saat ini membuat Bumi tak bisa menampung lebih banyak orang lagi."

Stefanie Weiss, seorang penulis berumur 40 tahunan dan kini bermukim di New York City, juga memutuskan untuk hidup tanpa karena alasan yang kira-kira sama. “Beberapa tahun lalu, aku pernah membaca sebuah penelitian,” ujar Weiss kepada Broadly, menyitir penelitian pada 2008 yang dikerjakan oleh sepasang peneliti dari Oregon State University. “Dalam penelitian tersebut, tertera sebuah angka 9.441. Itu adalah angka jumlah ton karbon yang ditambahkan manusia ke atmosfer untuk setiap anak yang kita lahirkan. Dan jumlah karbon itu tak bisa diturunkan. Ini yang bikin saya memutuskan tak punya anak."

Penelitian itu juga menyebutkan fakta mencengangkan ini: jika seorang warga AS bisa memutuskan mendaur ulang koran, majalan, kaca, plastik, alumunium dan kaleng logam selama hidupny, dia akan mengurangi emisi carbon sebesar 17 ton.

Konsep tak beranak pinak karena kondisi lingkungan yang buruk bukanlah gagasan baru. Namun, belakangan gagasan ini menjadi dasar pendirian organisasi baru macam Conceivable Future. Lembaga Nirlaba didirikan untuk “menyebarkan kesadaan akan ancaman perubahan iklim terhadap keadilan reproduksi.” “Satu pertanyaan yang kami ajukan adalah bagaimana perubahan iklim memengaruhi pilihan reproduksi manusia,” terang salah satu pendiri Conceivable Future Meghan Kallman. "Inilah pertanyan yang dimiliki sejumlah besar orang.”

Lewat sejumlah grup lokal dan upaya advokasi berskala nasional (di AS tentunya), organisasi nirlaba ini berharap membuka diskusi tentang masalah di atas dengan perempuan manapun. “Kami menyediakan semua orang ruang untuk menyelami pilihan untuk tak memiliki anak yang sifatnya personal dan politis karena sangat berhubungan langsung dengan hidup mereka,” kata Kallman.

Acara-acara berbasis komunitas yang diselenggarakan oleh Conceivable Future pernah digelar di penggilingan tua dan bioskop, meski bisa juga diadakan di ruang tamu seseorang. Sudut pandang perempuan dalam acara-acara juga sevariatif pilihan venuenya. “Ada sebagian orang yang sudah yakin tak akan memiliki anak. Sebagian lainnya berkomitmen sebaliknya. Plus, kami juga menemukan mereka yang belum mengambil keputusan apapun,” terang Kallman. “Malah kadang, ada banyak anak yang dibawa oleh ibunya dalam pertemuan kami.”

Wacana advokasi Conceivable Future tak berhenti pada pertanya apa tentang apa arti perubahan iklim pada masa depan reproduksi perempuan, “Orang-orang yang pernah kami kumpulkan pada akhirnya melakukan banyah hal yang bahkan mengubah sistem politik sekalipun,” terang Kallman.

Lembara nirlaba sampai kini telah berhasil mengumpulkan 68 “pengakuan,” dalam bentuk tulisan atau video tentang bagaimana menerjemahkan hak reproduksi dalam kaitannya dengan perubahan iklim. “Dasar pemikiran pengumpulan testimoni ini adalah kebenaran yang kalian bisa tunjukan dan pengalaman hidup kalian pada dasarnya memang memiliki kekuatan lebih besar untuk mengubah struktur politik dibandingkan segala macam diagram dan angka-angka di luar sana,” kata Kallman.

Memutuskan untuk memiliki anak atau tidak bukan perkara mudah bagi perempuan, jelas Kallman dan beberapa pakar lainnya. Tetap saja, belakangan, perempuan lebih mudah mengamini ide bahewa tidak beranak pinak ialah pilihan paling baik dalam kondisi lingkungan hidup saat ini. “Aku sudah melihat beberapa tentang hal ini sangat spesifik berdasarkan gender,” ujar Travis Rieder, seorang periset dari Johns Hopkins Berman Institute of Bioethics dan penulis buku Toward a Small Family Ethic: How Overpopulation and Climate Change Are Affecting the Morality of Procreation.

"Perempuan muda umumnya lebih memikirkan hal ini dengan mendalam dan menganggap gagasan ini justru memperkuat posisi perempuan,” lanjutnya. “Dulu saya pernah mengaar di Georgetown dan kini di John Hopkins University. Dan murid-murid perempuan yang saya ajar di sana sangat ambisius. Usia mereka masih muda. Saya kadang membayangkan banyak dari perempuan sudah melihat keluarga berencana sebagai tantangan terhadap karir mereka.

Lelaki muda, tambahnya. Cenderung lebih jarang memutuskan untuk tak memiliki anak. “Selama saya mengajar, lelaki yang memutuskan tak punya anak karena alasan lingkungan bisa dihitung dengan jari,” aku Rieder. “Mereka malah gigih melawan gagasan ini.” Menurut Rieder, hal ini mungkin terjadi karena lelaki tak begitu memikirkan dampak perubahan iklim pada pilihan reproduktif mereka. “Saya bisa membayangkan bahwa kebanyakan lelaki ini sadar atau tidak selalu berasumsi bahwa mereka tetap bisa memiliki anak karena toh yang melahirkan perempuan pasangan mereka.”

Aroogansi laki-laki ini juga disadari Weiss. "Kebanyakan memang laki-laki sih, baik di internet atau di kehidupan nyata, yang menuding saya mau menang sendiri karena memutuskan tak punya anak," katanya. "Saya sedang menjalin hubungan serius dengan pacar saya saat sampai di keputusan itu. Kami bahkan belum sampai tahap untuk memikirkan punya anak, tapi pacar saya mendebat keputusan saya. Baginya, secara etis keputusan saya salah. Dia mencap saya arogan."

Bagi Weiss sendiri, dirinya hanya mengambil keputusan moral yang pragmatis: Bumi tak lagi bisa menampung lebih banyak manusia makanya dia tak mau menambah jumlah manusia baru. Terkait pacarnya yang menganggapnya mau menang sendiri, Weiss punya penjelasan yang menohok. “Dia berpikir begitu karena lelaki tak perlu berpikir dalam-dalam tentang keputusan yang diambil perempuan mengenai karir dan tubuh mereka,” ungkapnya.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly