LGBTQ di Indonesia

Merekam Jatuh Bangun Satu-Satunya Pesantren Khusus Transpuan di Indonesia

Pesantren Al Fatah di Yogya itu sempat tiarap akibat diserang ormas. Kini mereka bangkit lagi, merengkuh para transpuan yang berniat mencari Tuhan.

oleh Adi Renaldi
06 Agustus 2019, 8:39am

Kegiatan mengaji surat pendek rutin di pesantren khusus transpuan Kota Yogyakarta asuhan Shinta Ratri. Foto oleh Umar Wicaksono/VICE

Satu malam di pertengahan Februari 2016, Shinta Ratri kedatangan seorang tamu asing di rumah sekaligus pesantren yang diasuhnya. Shinta adalah transpuan 57 tahun yang mengasuh pondok pesantren Al Fatah, terletak di kawasan Kotagede—kecamatan di selatan Yogyakarta yang terkenal dengan kerajinan perak dan menjadi basis komunitas Islam yang kuat sejak masa Kerajaan Mataram.

Tamu yang mengaku sebagai anggota kepolisian tersebut memberitahu akan ada anggota ormas menggelar demonstrasi di pesantrennya. Shinta kebingungan. Dia merasa tak pernah punya masalah dengan ormas. Rumah yang disulap menjadi pesantren sejak 2014 itu diterima warga sekitar.

Shinta mencoba tenang. Namun kabar bahwa ada ormas yang akan menggeruduk sudah kadung tersebar cepat. Ponsel Shinta pun tak henti-hentinya berdering malam itu. Beberapa kawan mendorong Shinta dan para santri yang berjumlah puluhan "mengungsi" sementara waktu. Malam itu Shinta dan kawan-kawan akhirnya memutuskan mencari perlindungan di kantor LBH Yogyakarta. Setidaknya sampai alasan penolakan ormas lebih jelas.

Rupanya kabar tersebut bukan rumor belaka. Selepas salat Jumat, 19 Februari 2016, ratusan anggota ormas yang tergabung dalam Front Jihad Islam (FJI), dikawal beberapa personel polisi, datang menuntut ditutupnya pesantren Al Fatah. Pesantren itu dituduh melegalkan LGBTQ dan menjadi sarang maksiat.

"Mereka menuduh kami sering melakukan hal maksiat seperti karaoke dan minum minuman keras," kata Shinta. "Kami juga dituduh menjadi penyebar kegiatan LGBTQ. Padahal kami murni belajar agama di sini."

Suasana demonstrasi cukup mencekam, kenang Shinta. Anggota ormas bersepeda motor menutup gang masuk ke pesantren dan merangsek ke dalam rumah. Tak ada warga berani datang membela. Beruntung tak ada korban kekerasaan saat kejadian. Namun Shinta dan kawan-kawan terlanjur terteror secara psikis.

Belakangan diketahui, informasi adanya tuntutan menutup pondok pesantren Al-Fatah tersebar lewat pesan berantai WhatsApp. Isi pesannya seperti ini: "FJI mengundang rekan-rekan seperjuangan untuk mendatangi ponpes waria Al-Fatah dengan tujuan menolak dan menyegel ponpes waria setelah sholat Jum’at."

1565079926280-Shinta-Ratri
Shinta Ratri (tengah) mengaji bersama jamaah pesantren dan warga sekitar. Foto oleh Umar Wicaksono

Beberapa hari setelah kejadian, pesantren tersebut ditutup setelah digelar pertemuan antara pihak pesantren yang didampingi LBH Yogyakarta, FJI, warga, dan perwakilan aparat setempat. Penutupan itu didasari kesimpulan bahwa pesantren tak memiliki izin untuk menggelar ibadah dan meresahkan warga. Shinta merasa tak terima, namun pasrah. Ini demi kebaikan semua, pikirnya. Selama dua bulan, pesantren tersebut tak mengadakan kegiatan apapun.

"Saya lahir dan besar di rumah yang jadi pesantren ini," kenang Shinta. "Warga sudah tahu identitas saya. Mereka tak pernah ada masalah."

Represi dan tekanan intoleransi tersebut akhirnya sampai ke telinga Keraton Yogyakarta, sebagai simbol spiritual dan pemerintahan. Shinta menggelar pertemuan bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengkubuwono X yang juga Gubernur DI Yogyakarta. Shinta meminta perlindungan dan jaminan kebebasan beragama. Pihak Keraton setuju. Semua pihak sepakat bahwa tak boleh ada intoleransi terhadap kebebasan beragam di Yogyakarta.

Akhirnya, setelah beberapa bulan tak ada kegiatan, pesantren Al Fatah bisa kembali mengadakan kegiatan keagamaan.

Google Maps yang saya pakai tak banyak membantu ketika saya mencari pesantren Al Fatah. Wajar jika peta daring tersebut muspra. Kotagede dipenuhi gang sempit seperti labirin yang tak muat buat mobil. Seorang warga yang melihat saya kebingungan dengan senang hati kemudian menunjukkan lokasi pesantren.

Satu-satunya akses masuk ke pesantren itu adalah gang sempit, hanya muat satu motor. Dari luar bangunan berkelir hijau bergaya joglo lengkap dengan pendapa di depannya itu tak ubahnya seperti rumah tinggal bergaya Jawa pada umumnya yang gampang ditemui di Yogyakarta. Sedikit pun tak ada kesan bahwa itu pesantren.

Tak berapa lama Shinta dengan baju gamis hitam dihiasi ornamen pink keluar menyambut. Sudah ada sepuluh santri yang duduk melingkar di pendapa. Karpet hijau dan tikar yang sedikit lusuh menyelimuti lantai. Di sudut kanan, dua buah rak menampung beberapa Al Quran dan buku Iqro. Tak ada hiasan di dindingnya. Agenda hari itu adalah arisan dan pengajian.

1565079872554-Arisan-sebelum-memulai-kegiatan-pesantren
Arisan jamaah pesantren waria bersama warga sebelum menggelar pengajian. Foto oleh Umar Wicaksono

"Kemarin kami baru saja menggelar bakti sosial," ujar Shinta saat saya temui pada Minggu sore. Deretan gigi depannya sudah menghitam dan mulai keropos. Mungkin karena rokok yang tak pernah absen dari mulutnya. "Sehabis pengajian nanti kami membahas rencana ziarah ke Cirebon."

Sebagai seorang transpuan, Shinta sudah akrab dengan dunia hitam. Namun semuanya itu berubah menjelang 2008 saat Shinta bertemu Maryani, seorang aktivis keagamaan dan LGBTQ. Maryanilah yang menyadarkan Shinta bahwa kebebasan beragama adalah hak paling mendasar manusia tanpa memandang semua batasan termasuk gender. Bersama-sama, Shinta mendirikan pesantren khusus transpuan di rumah kontrakan Maryani di kawasan Notoyudan.

Pengajian di rumah Maryani didukung oleh ustaz K.H Hamrolie Harun dan Arif Nuh Safri. Pada 2016, Shinta dihadapkan pada keputusan sulit. Ustaz Hamrolie Harun meninggal pada 2013. Setahun kemudian Maryani tutup usia. Shinta sempat mengurungkan niat untuk melanjutkan kegiatan pesantren.

Atas desakan ustaz Arif, Shinta memutuskan memindahkan kegiatan pesantren ke rumahnya hingga sekarang. Hingga kini sudah ada 42 orang santri yang belajar agama di Al Fatah. Beberapa di antara mereka juga tinggal di asrama yang disediakan pihak pesantren.

Salah satunya adalah Rere, seorang transpuan berusia 25 tahun asal Yogyakarta. Dia bergabung dengan Al Fatah pada 2016 beberapa bulan setelah penggerebekan. Berbagai masalah keluarga dan tekanan diskriminasilah yang membuatnya mencari jalan ketenangan lewat agama. Selepas SMA, Rere memilih profesi sebagai pekerja seks di berbagai kawasan di Yogyakarta. Ia merahasiakan identitas gendernya sampai usia 22 tahun. Ia baru melela ke orang tuanya dua tahun lalu.

"Aku mencari ketenangan di sini," kata Rere yang berbaju hitam sore itu. "Syukurlah itu bisa saya dapat. Saya rajin mengaji, walaupun salat kadang bolong. Tapi di sini saya belajar."

Rere pernah berpindah-pindah tempat sebelum menetap di pesantren. Dia pernah ke Sulawesi hingga Papua, menjalani profesinya. Dia pernah dianiaya anggota ormas tak dikenal di ‘kawasan merah’ Nol Kilometer Yogyakarta. Tanpa sebab, dia digebuk menggunakan balok kayu dan bambu. Bekas lukanya masih membekas di betis kiri.

Saat ditanya apa rencana ke depan, Rere hanya menggeleng pelan. Dia merasa betah di pesantren. Dia merasa lega hubungan dengan keluarganya perlahan membaik. Ibunya kadang menengok seminggu sekali. Dalam sebulan, Rere juga menyempatkan diri pulang ke rumah.

Saat jarum jam menunjuk angka lima, seorang ustazah datang. Tanpa dikomando, para santri bergegas mengambil Al Quran dan buku Iqro dari rak, sembari membentuk kelompok. “Hari ini lanjut surat Al Anbiya ya,” ujar salah seorang santri. Lantunan ayat suci menggema memenuhi ruangan. Para santri begitu khusyuk, tak mengindahkan saya yang wara-wiri mengamati sekitar. Sang ustazah dengan sabar mengoreksi santri yang salah dalam melafalkan ayat Al Quran.

iqtaraba lin-nāsi ḥisābuhum wa hum fī gaflatim mu'riḍụn,” baca beberapa santri. Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai dengan dunia, berpaling dari akhirat. Sejenak saya termenung mendengar terjemahan yang keluar dari mulut si ustazah.


Tonton dokumenter VICE mengenai geliat transpuan muslim di Indonesia:


Ustazah itu adalah Masthuriyah, lulusan S2 sekaligus dosen filsafat islam dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya, setiap hari Minggu dia menyempatkan diri mengajar di Al Fatah. Sudah tiga tahun belakangan perempuan asal Sumenep, Jawa Timur tersebut mengajar santri, memberi petunjuk bagaimana membaca Al Quran dengan benar.

Masthuriyah bertemu Shinta lewat konferensi tentang gender yang diadakan sebuah LSM. Shinta dan beberapa santri kemudian mengajak Masthuriyah mengajar di pesantren. Dia setuju.

Latar belakang pendidikan filsafat agama membuka cakrawala Masthuriyah. Islam baginya, berkembang mengikuti zaman. Ia bukan sesuatu yang saklek dan kaku. Ada perspektif lain yang memengaruhi pola pikirnya, dan itu adalah memanusiakan manusia. Sepanjang dia mau belajar agama, tanpa memandang ras dan gender, Masthuriyah mau membantu.

"Perdebatan soal LGBTQ dalam sudut pandang agama mungkin tak akan pernah ada titik temunya," kata Masthuriyah. "Tapi jika dilihat dari sisi humanisme, mereka juga manusia. Itulah pendekatan yang saya percaya."

Apa yang dilakukan Shinta dan kawan-kawan adalah sesuatu yang radikal dalam makna positif di tengah meningkatnya ancaman intoleransi dan diskriminasi khususnya di Yogyakarta.

Pada 2017, Setara Institute merilis indeks kota dengan tingkat toleransi terendah. Yogyakarta berada di peringkat enam setelah Depok, Bogor, Aceh, dan Jakarta. Yogyakarta meraih skor 3.40 sedangkan Jakarta yang menduduki peringkat pertama mendapat skor 2.30. Dari catatan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), sepanjang 2018 ada 10 kasus intoleransi kebebasan beragama di Yogyakarta. Koordinator ANBTI Agnes Dwi Rusjiyati sebab intoleransi marak di Yogyakarta adalah absennya pemerintah dalam menjembatani keberagaman yang sudah menjadi ciri khas di kota pelajar itu.

"Masih banyak kasus yang terjadi karena mayoritas yang merasa memilik hak untuk mengatur minoritas, hal ini terjadi karena kurangnya edukasi kepada masyarakat," kata Agnes.

Agnes menilai pola yang dilakukan kelompok mayoritas yaitu lewat konsolidasi dan mobilisasi massa. Pola ini kemudian dibawa ke forum buat menekan pemerintah dan kepolisian, yang tak jarang berpihak pada kepentingan mayoritas.

"Polanya masih sama, tapi kondisi tersebut diperburuk dengan situasi politik, hoaks, hingga ujaran kebencian yang diproduksi masif lewat media sosial maupun ceramah. Hal ini lantas meningkatkan sentimen terhadap agama atau rumah ibadah minoritas," kata Agnes kepada Tirto.

April tahun ini, warga dusun Karet, Pleret, Kabupaten Bantul menolak seorang seniman lukis beragama Katolik Slamet Jumiarto yang hendak tinggal di dusun tersebut. Kesepakatan warga menolak pendatang nonMuslim tersebut ternyata dibuat sejak 2015, meski belakangan dicabut menyusul desakan dari berbagai pihak.

Lalu pada Oktober 2018, sekelompok orang merusak properti acara sedekah laut yang digelar di Pantai Baru, Srandakan, Kabupaten Gunung Kidul lantaran dianggap musyrik dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Masih ada beberapa insiden intoleran lain seperti pemotongan salib di sebuah pemakaman umum di Kotagede, insiden penutupan dan penyerangan di sejumlah gereja, hingga pembubaran acara seni yang menampilkan puisi karya Widji Thukul, seorang penyair dan aktivis yang dihilangkan rezim Orde Baru, yang dilakukan oleh anggota ormas.

Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengkubowono X gerah melihat cap ‘Yogyakarta Kota Intoleran’ menyusul rentetan insiden tersebut. Pihak pemprov DI Yogyakarta mengeluarkan Instruksi Gubernur tentang Pencegahan Potensi Konflik Sosial pada April lalu.

Yogi Zul Fadhli dari LBH Yogyakarta masih pesimis terhadap komitmen pemprov. Ada beberapa kasus yang tak belum diselesaikan dalam koridor hukum, kata Yogi. Salah satunya adalah insiden pembakaran Gereja Baptis Indonesia di Saman, Sewon, Bantul yang saat ini belum terungkap. Sepekan sebelumnya, anggota ormas FJI sempat mendatangi gereja tersebut dan menuntut penutupan gereja karena dituduh belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

1565080210951-Uztazah-Masthuriyah-telaten-mengajari-santri-membaca-Quran
Santri transpuan belajar mengaji didampingi Ustazah Masthuriyah. Foto oleh Umar Wicaksono

Menurut Yogi, logika pemerintah dalam memberikan regulasi pendirian rumah ibadah belum diubah. Mereka masih memakai logika kelompok mayoritas, yang pada akhirnya menyulitkan kelompok minoritas untuk mendirikan rumah ibadah.

“Sejak 2012 sebagian kasus intoleran berbasis agama, ideologi politik, dan orientasi seksual sudah dilaporkan ke polisi tapi hingga hari ini tidak ada pelaku yang dibawa ke persidangan untuk diadili. Ini bahaya,” kata Yogi.

Beberapa minggu setelah perjumpaan saya dengan Shinta, ustaz Arif Nuh Safri membagikan sebuah tautan berita di laman Facebook-nya. Shinta Ratri, seorang transpuan paruh baya yang baru khatam Al Quran beberapa tahun lalu, mendapat penghargaan sebagai pembela Hak Asasi Manusia (HAM) dari Front Line Defenders, sebuah organisasi internasional untuk perlindungan HAM yang berbasis di Irlandia. Dia menjadi satu-satunya wakil dari Asia Pasifik, bersanding dengan empat orang pembela HAM dari Tunisia, Republik Dominika, Malawi, dan Rusia.

Saya mengirim pesan singkat ke ponselnya, mengucapkan selamat. Dia cuma membalas pendek, "Terima kasih ya."

Tentu saja, perjalanan dan perjuangan Shinta tidak mudah. Dengan atau tanpa penghargaan itu Shinta tetaplah seorang yang berjuang demi haknya beribadah. Bisa jadi, mungkin, dia tak pernah memikirkan embel-embel ‘pembela HAM.’ Dia cuma pengin memberikan sesama transpuan kesempatan untuk dekat dengan Tuhan.

"Apakah saya bisa memilih menjadi pria atau perempuan saat lahir? Tidak," kata-kata Shinta pada saya terngiang kembali. "Menjadi seperti ini adalah juga karunia Tuhan. Lantas apakah saya tidak boleh beribadah untuk bersyukur atas karunia ini?"