The VICE Guide to Right Now

Rumah Sakit di Thailand Mulai Mendistribusikan Minyak Ganja untuk Pasien

Para pemegang asuransi kesehatan di Thailand bisa mendapatkan minyak terapi ganja cuma-cuma.
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
20 Agustus 2019, 6:39am
Legalisasi mariyuana medis di Thailand
Foto ilustrasi oleh  Aphiwat chuangchoem via Pexels

Minyak ganja botolan sudah siap digunakan secara medis di berbagai rumah sakit Thailand.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Masyarakat Anutin Chanvirakul, sebagaimana dikutip situs berita Coconuts, mengumumkan institusi kesehatan Thailand sudah mulai mendistribusikan 4.500 botol ekstrak ganja—setiap botolnya berisi 5 ml—yang diterima 7 Agustus lalu.

Menjadi negara Asia pertama yang melegalkan mariyuana medis sejak akhir 2018, Thailand tanpa buang waktu langsung meracik ganja untuk kesehatan.

Selain ganja yang disebut sebagai "obat esensial", undang-undang barunya juga mengizinkan penggunaan kratom untuk kebutuhan medis. Pemerintah nantinya yang bertanggung jawab memberikan lisensi produksi dan penjualan mariyuana tersebut.

"Inilah hasil dari kebijakan melegalkan ganja medis," kata Chanvirakul kepada Reuters, saat membicarakan distribusi ganja.

"Kami hanya ingin membantu kesehatan pasien, jadi sama sekali tidak ada maksud terselubung."

Komentarnya menyusul kekhawatiran penyalahgunaan mariyuana yang meningkat di Thailand. Negara ini dulunya merupakan eksportir terbesar ganja sebelum dilarang sepenuhnya pada 1930-an.

Menurut Chanvirakul, Organisasi Farmasi Pemerintah (GPO) Thailand dan beberapa lembaga lain akan memproduksi 200.000 botol minyak ganja setiap bulan mulai September mendatang.

GPO rencananya akan menanam ganja di rumah kaca mulai tahun depan supaya bisa memenuhi kebutuhan itu.

Para penerima Kartu Emas (asuransi kesehatan universal), Dana Jaminan Sosial, atau program layanan kesehatan sipil bisa mendapatkan minyak ganja secara cuma-cuma.

“Dokter akan meresepkan minyak ganja sesuai diagnosis setiap pasien,” Chanvirakul menyatakan dalam konferensi pers awal bulan ini, dikutip dari Straits Times. “Obatnya tidak berbahaya dan menyebabkan kecanduan jika penggunaannya diawasi secara medis.”

Pelegalan mariyuana medis dinilai turut menguntungkan sektor pertanian Thailand, sehingga tak cuma bermanfaat untuk pengobatan alternatif saja.

“Kami ingin menjadi negara yang memimpin pelegalan ganja,” Presiden GPO Sophon Metkthon memberi tahu Bloomberg. “Kami memiliki brand kuat dan wawasan pengobatan tradisional yang berusia lebih dari 300 tahun.”

Perusahaan riset ganja Prohibition Partners memperkirakan nilai pasar kanabis Thailand mencapai 661 juta Dolar AS (Rp9,4 triliun) pada 2024.

Meskipun demikian, Supachai Kunaratnpruk selaku mantan pejabat Kementerian Kesehatan dari Universitas Rangsit mengingatkan awal bulan ini inisiatifnya masih dalam “masa transisi.” Produksi dan pemasokannya masih sangat minim, sehingga perlu ditingkatkan.

Kunaratnpruk bekerja di laboratorium kanabis, yang menjadi ujung tombak kurikulum “studi mariyuana”.

"Kami bertanggung jawab mengembangkan strain khas Thailand dari kanabis kelas dunia yang digunakan dalam pengobatan. Kami ingin bekerja sama dengan koperasi petani," katanya kepada The Week. "Kami yang mengajarkan, dan mereka yang menanam. Setelah itu, hasilnya dijual ke tenaga kesehatan."

Negara-negara Asia lainnya belakangan turut mengusahakan legalisasi mariyuana medis. Malaysia, Laos, dan Filipina tengah mempelajari kemungkinan membuat undang-undang serupa.

Follow Meera di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.