Iklan
eSport

Pemerintah Berusaha Rangkul Pemain Free Fire dan PES Dalam Piala Presiden 2020

Mobile Legends untuk sementara tak dipertandingkan dalam ajang Esports pelat merah tersebut. Panitia masih menyeleksi satu game lain untuk kompetisi tahun depan.

oleh Ikhwan Hastanto
02 Oktober 2019, 11:21am

Ilustrasi kompetisi Esports internasional. Foto oleh ESportnews/Wikimedia Commons/lisensi CC 4.0

Orang yang suka nongkrong malem-malem dan berisik di kafe atau warteg buat main game ponsel kini punya alasan kuat untuk melestarikan aksinya. Selasa kemarin (1/10), pemerintah sepakat melanjutkan upaya mencetak atlet e-sports lewat penyelenggaraan Piala Presiden Esports (PPE) 2020. Kesuksesan PPE tahun ini, yang mendapat sambutan positif dari klub dan komunitas e - sports membuat pemerintah mendadak ambisius. Pada gelaran kedua ini, skala kompetisi dibikin jadi internasional.

"Penyelenggaraan Piala Presiden Esports 2020 mendatang menjadi bukti konkret pemerintah serius mengembangkan e-sports," ujar Ketua Pelaksana PPE 2020 Giring Ganesha kepada Liputan6. Giring yang barusan dikutip memang Giring mantan vokalis Nidji. Siapa sangka, setelah cabut dari band, kini ia hijrah jadi gamers.

"Semua harus dimulai dengan membangun ekosistemnya dulu. Harus ada kompetisi-kompetisi berjenjang yang menjadi carrier path atlet-atlet yang berprestasi sehingga sponsor juga terus masuk dan semakin berkembang,” tambahnya. Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja adalah negara yang akan diundang hadir pada PPE 2020.

Selain soal skala, perbedaan utama PPE 2020 dibanding gelaran sebelumnya ada pada game yang dikompetisikan. Kalau PPE 2019 menjadikan game Mobile Legends sebagai satu-satunya cabang e-sports yang dilombakan, tahun depan giliran game bertahan hidup Free Fire dan game sepak bola Pro Evolution Soccer (PES) yang dapat giliran. Mobile Legends sementara ngalah dulu.

Nggak cuma dua game populer tersebut, PPE 2020 berniat melombakan satu game baru yang sampai sekarang masih jadi misteri. Dari rilisan yang beredar, pemerintah dan panitia pelaksana sedang menyeleksi game kiriman para developer Indonesia untuk jadi cabang lomba percobaan alias eksibisi.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) keliatan serius sama niatan mengubah Indonesia menjadi kekuatan game dunia. Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto mengatakan dirinya sedang mencari kerja sama berbagai pihak agar proses pembentukan ekosistem e- sports berjalan sehat dan kompetitif.

"Kami mulai menyusun regulasi-regulasi untuk mendukung itu (pengembangan e-sports), termasuk sosialisasi dan sebagainya. Serta yang tidak kalah penting mendukung pelaksanaan turnamen e-sports,” kata Gatot, dilansir Kompas. Gatot merasa perkembangan e-sports Indonesia sudah terlambat sehingga pemerintah butuh dukungan banyak pihak agar Indonesia tidak terus ketinggalan.

Pemerintah juga gencar membangun pemahaman bahwa e - sports punya prinsip yang sama dengan cabang olahraga lain dan berpotensi besar jadi pendulang prestasi. Sebut saja Rizky Faidan, atlet e-sports Pro Evolution Soccer (PES) Indonesia yang masih berusia 16 tahun. Ia tercatat menjadi semifinalis PES League World Final 2019 sebelum akhirnya kalah dari Ettore Giannuzi, atlet e-sports Italia.

PPE 2019 yang sukses tahun ini diadakan pada 28 Januari-31 Maret 2019 di delapan kota. Pada finalnya yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, tim Onic Esports keluar sebagai juara dan mendapat jadiah uang tunai Rp400 juta.

Mobile Legends menjadi game yang dipertandingkan di PPE 2019 kemungkinan karena game ini memang sangat terkenal di Indonesia. Per September 2018, ada 50 juta orang Indonesia mengabdikan diri jadi pengguna aktif game ponsel ini. Dibandingkan dengan pengguna aktif global, angka ini menyiratkan bahwa dari 10 orang yang main Mobile Legends di seluruh dunia, tiga di antaranya adalah orang Indonesia.

Tagged:
indonesia
Game
Berita
Free Fire
Gamer Profesional
mobile game
PES
Pemerintah
Kemenpora
Atlet ESport
Kompetisi ESport