Iklan
10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan Untuk Pengusaha Bisnis Judi Online Asal Indonesia di Luar Negeri

Anak muda ini putus kuliah, meninggalkan Jakarta, menjalankan bisnis judi dari perbatasan Kamboja lalu ke Filipina. Berikut alasannya mengambil risiko pada VICE Indonesia.

oleh Alice .
24 Juli 2017, 9:35am

Pemandangan Bavet, Las Vegas-nya Kamboja dalam versi KW2. Foto oleh Clay Gilliland/Wikimedia Commons

Saat ini, rasanya mutahil membayangkan perjudian pernah benar-benar legal di Indonesia. Faktanya, mantan gubernur Jakarat Ali Sadikin menggunakan pajak pendapatan kasino (rata-rata di kawasan Ancol), mesin judi, dan lotre untuk membiayai pembangunan infrasruktur Jakarta awal dekade 70-an. Ali Sadikin memang dikenal berkat obsesinya mewujudkan Jakarta sebagai kota yang sepenuhnya modern. Sebegitu terobsesinya, menurut beberapa desas-desus, Ali sampai melarang becak dari jalanan Jakarta dan mengumpulkan semua kendaraan roda tiga itu, lantas membuangnya ke perairan Teluk Jakarta.

Pengganti Ali Sadikin, Gubernur Soeprapto, punya pikiran yang berbeda soal judi. Dia memerintah Ibu Kota selama kurun 1982 sampai 1987. Sejak era Soeprapto, judi sepenuhnya dilarang. Di dekade 90-an, Presiden Soeharto, di bawah tekanan kelompok Islam yang tengah gencar melakukan mobilisasi mengganyang semua praktik haram, menyatakan semua jenis perjudian ilegal di wilayah Indonesia.

Larangan ini rupanya tak serta merta menghentikan roda industri perjudian Tanah Air. Kasino Indonesia pindah ke luar negeri, bergeser dari Jakarta ke kota perbatasan di Kamboja dan kota-kota di Filipina. Yang menarik, kebanyakan pekerja di kasino-kasino itu adalah penduduk Malaysia dan Indonesia—dua negara yang sebetulnya mengharamkan perjudian.

Dengan memindahkan operasi ke luar negeri, mantan raja-raja kasino lokal dari Jakarta tetap leluasa menjalankan bisnis sembari terus mematuhi hukum negara setempat. Di Kamboja, perjudian adalah bisnis legal. Usaha perjudian dibackingi para taipan judi berkantong tebal asal Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Jika ditilik lebih lanjut, pemilik kasino-kasino ini sebenarnya masih berasal dari Indonesia dan Malaysia. Mereka memindahkan kerajaan bisnisnya dari Indonesia ke wilayah yang lebih longgar mengatur perjudian.

VICE berhasil menghubungi seorang lelaki berumur 27 asal Jakarta yang rela pindah ke luar negeri demi mengejar mimpinya berkecimpung di bisnis perjudian. Dia memulai bisnisnya di kota perbatasan di Kamboja, Bavet, sebelum kemudian memindahkan kerajaan kecil bisnisnya ke Ibu Kota Manila, Filipina. Dia merasa Manila adalah kota dengan infrastruktur yang jauh lebih baik, meski risiko bisnisnya sebagai judi online lintas negara membuatnya bisa menjadi incaran aparat hukum ASEAN kapanpun. Tentu saja, lelaki muda ini menolak membeberkan identitasnya secara lengkap atas alasan keamanan. Karena itu dalam wawancara ini, kami hanya menuliskan "A.D." sebagai inisialnya.

Gimana awal mulanya kamu bisa menggeluti judi online?
Sejak kecil aku punya cita-cita berkecimpung di dunia judi. Judi itu permainan yang membutuhkan keberanian, strategi, sekaligus hoki. Dengan ikut serta meluaskan arena judi, aku merasa mimpiku terpenuhi. Pamanku punya pengalaman panjang sebagai pemain dan bandar kecil-kecilan. Aku melihat ada ruang untuk mengembangkan apa yang sudah dilakukan paman. Jadi, aku kemudian menghubungi beberapa teman yang mau pete-pete, mengumpulkan modal untuk membuka judi. Kami akhirnya mendekati seorang pemilik perusahaan besar lewat koneksi pamanku dan mendaftarkan diri sebagai agen mereka.

Sekarang, sebagai agen yang sudah terverifikasi, kami bisa membawa masuk produk "white-label" dari beragam perusahaan besar. Misalnya, Playtech dari Europe, OGCasino dari Cina, IDNPoker dari Indonesia, dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan besar ini menyediakan infrastruktur dan mendapatkan bagian 20 persen dari keuntungan atau kerugian. Perusahaan kami mendapatkan 80 persen sisanya. Kamilah yang membayar biaya maintenance, ongkos sewa, gaji karyawan, pajak, dan pengeluaran lainnya.

Gimana rasanya hidup sebagai bandar judi online?
Hidupku penuh peluang dan petualangan. Kami mulai beroperasi dari Bavet. Aturan tentang perjudian di sana masih belum begitu jelas. Ada banyak mal dan kasino yang dimiliki oleh purnawirawan jenderal militer Kamboja. Beberapa ruangan dalam mal dan kasino ini disewakan pada pengelola judi online. Kami dianggap sebagai bagian dari operasi kasino. Jadi, kami tinggal bayar sewa saja. Kami tak perlu bayar pajak. Ongkos pengelolaan judi online dari Bavet tergolong murah. Kami tinggal jalan kaki saban pergi ke kantor. Makan termasuk dalam ongkos operasional. Kalau dihitung-hitung, menjalankan bisnis perjudian dari Bavet jauh lebih murah daripada dari Jakarta. Tapi, pasar kami tetap di Indonesia.

Hidup di kota perbatasan bisa sangat menantang. Selain kasino, hampir tak ada apa-apa lainnya, Bavet adalah kota yang tertinggal. Hiburan yang tersedia di sana hanya alkohol dan karaoke. Bisnis obat-obatan terlarang dan prostitusi juga bisa ditemui di sana, jadi kamu bisa mendapatkan keduanya dengan mudah. Tapi, pusat perbelanjaan, restoran, dan tempat hiburan malam sangat terbatas atau hampir nihil. Kadang, kehidupan di Bavet sangat membosankan.

Lalu, kami memutuskan untuk pindah ke Ibu Kota Manila, yang lebih menyenangkan karena sama kosmopolitannya seperti Jakarta. Sayangnya, karena semuanya legal, kami harus bayar pajak sebesar 2 persen ke pemerintah Filipina. Di samping itu, halangan bahasa bikin lingkaran pergaulanku menyempit. Aku kangen teman-teman dan pacarku di Jakarta.

Sebagai bandar judi yang pasti punya risiko kerja, bagaimana caramu menyeimbangkan kerja dan kehidupan pribadi?
Sebenarnya, kita bisa mendapatkan uang lebih banyak dengan jam kerja yang lebih singkat daripada jam kantor standar (jam 9 pagi sampai jam 5 sore). Aku harus tinggal di Bavet dan sekarang di Manila karena perusahaanku masih baru. Aku harus datang ke kantor saban hari untuk mengelola perusahaanku dan memantau staf. Suatu saat aku berharap bisa pelan-pelan lebih lepas tangan. Harapanku, aku bisa dapat pendapatan pasif dari bisnisku ini. Sekarangpun aku bisa pulang ke Jakarta atau pergi ke tempat lain, kapanpun aku mau. Enggak ada jam kerja yang pasti di kantorku. Lagipula, karena lingkungan pergaulanku masih kecil, aku jarang foya-foya. Sebagian besar pendapatanku masuk tabungan atau investasi untuk bisnis lain.

Bisnis lain macam apa kalau boleh tahu?
Bitcoin mungkin atau apapun yang baru atau belum begitu diatur. Bisnis seperti punya margin keuntungan yang besar. Aku senang berjalan-jalan dan memperluas wawasanku, jadi keuntungan usahaku aku simpan untuk investasi masa depan.

Bagaimana tanggapan keluargamu atas pilihan karir jadi bos judi online? Apakah mereka marah saat tahu kamu harus ke luar negeri karena cuma di sana bisnis ini legal?
Orang tuaku sangat mendukung apa yang aku lakukan. Ayahku pernah bekerja di pabrik paku jadi dia paham sekali susahnya mencari nafkah di Jakarta. Ibuku tak begitu peduli (aku jadi bos judi online) selama aku tak bikin masalah. Teman-temanku? Mereka tak peduli. Ada sih beberapa yang agak kepo orangnya.

Tapi, aku susah menemukan pasangan yang mau menerimaku dan pekerjaan macam begini. Untungnya, aku sudah punya pacar sekarang.

Sun Casino di Bavet, Kamboja. Foto oleh Fumihiko Ueno.

Kenapa muncul kesan mayoritas orang yang menggeluti bisnis ini dari etnis Tionghoa?
Ya begitulah, ada semacam stereotipe yang mengatakan bahwa etnis Cina adalah pekerja keras. Karena kedekatan etnis inilah, kami sering dapat izin untuk membuka bisnis….tapi aku melihat bisnis judi online kian berubah dengan masuknya generasi milenial yang cenderung tak begitu rasis. Sebagian besar stafku di Manila adalah orang Indonesia beragama Islam. Mereka bekerja sama kerasanya dan aku sangat mempercayai mereka. Banyak pemain judi online yang namanya muslim kok.

Masihkah ada peluang bagi pemain baru untuk masuk ke bisnis judi online?
Ada semacam hierarki yang susah diruntuhkan dan susah sekali bersaing dengan pemain lama yang namanya sudah kadung terkenal di industri judi online. Jadi memang ada batasannya. Yang lebih gampang adalah menjadi agen perusahaan besar ini dan memasarkan produk mereka. Pemain baru tak mungkin bisa mengubah kondisi industri judi online yang ada meski menawarkan inovasi baru. Patut diingat, meski cuma jadi agen, kamu bisa dapat keuntungan besar yang bisa kamu investasikan ke bisnis lain.

Tentu saja, di balik penghasilan besar, ada banyak risiko dari usaha judi. Apa saja yang paling kentara?
Paling berurusan sama polisi. Meski kami beroperasi di tempat yang legal, kami masih tetap warga negara Indonesia dan basis konsumen kami dari Indonesia. Jadi, selalu ada alasan bagi polisi menahan atau setidaknya menyelidiki bisnis kami. Aku sih sampai sekarang belum pernah berurusan dengan polisi, tapi beberapa orang dari perusahaan sebelah di Manila ditangkap ketika balik ke Indonesia.

Biasanya, pengusaha judi online membayar beberapa ratus juta rupiah ke polisi sebagai "uang keamanan." Beberapa perusahaan besar malah berani bayar sampai miliaran rupiah. Tapi karena perusahaanku masih kecil, kami merasa uang keamanan kayak gitu cuma buang-buang duit. Lagipula, kalau kami bayar uang keamanan, tetap enggak ada jaminan usaha kami aman.

Bisnis judi begini bisa bertahan lama ga sih?
Aku suka risiko dan tantangan bisnis ini, mungkin karena aku masih muda. Sekarang sih, aku ingin menghasilkan keuntungan sebanyak mungkin, menyimpannya, dan menamankannya di bisnis lainnnya. Misalnya saham atau properti. Mungkin nanti, aku bakal menemukan cara untuk mencapai kebebasan finansial lewat cara yang lebih bersih.

Beberapa bandar judi besar sudah sampai di titik ini, tapi mereka masih mau mengembangkan diri dan terlibat langsung dalam operasi judi online. Mungkin, mereka terlanjur ketagihan dengan resiko dan tantangan dari bisnis judi.

Pernah menyesali karirmu sebagai bandar judi online yang rentan jadi buruan aparat?
Aku enggak suka hidup penuh penyesalan, jadi aku enggak menyesal sama sekali. Kalaupun aku merasa menyesal, aku cepat move on dan tak terlalu banyak memikirkannya. Kadang aku sering berpikir seperti apa hidupku di Jakarta seandainya dulu lulus kuliah dan memilih pekerjaan normal. Yang jelas hidupku akan sangat berbeda. Enggak harus lebih baik juga, tapi yang jelas beda. Judi online adalah bisnis beresiko dan keuntungannya tinggi. Jelas bukan bisnis untuk pengusaha bermental lemah.

Tagged:
indonesia
Kejahatan
Kriminalitas
Ekonomi
Bisnis Bawah Tanah
Kamboja
Pidana
Bandar Judi
Perjudian
Judi Online
bisnis ilegal
Bavet